Transcription

Sambutan RedaksiAssalamu’alaikum Warahmatullahi WabarakatuhPuji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas perkenan- Nya,Jurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 26 dapat terbit.Pembaca yang berbudiman, “Ketahanan Nasional” kini menjadibahan yang menarik untuk didiskusikan di berbagai forum dan kajian,tentu saja mengingat begitu kompleksnya permasalahan yang dihadapibangsa ini. Menariknya dalam perspektif “Ketahanan Nasional” inidapat ditinjau dari berbagai aspek terhadap permasalahan tersebut.Oleh karena itu, sebagai salah satu media komunikasi ilmiah bagi parapemerhati “ketahanan nasional” maka diterbitkanlah Jurnal ini.Dengan menggunakan perspektif “Ketahanan Nasional”dan secarailmiah serta berlatar-belakang pada disiplin ilmu dan keahlian yangdimiliki para penulis, tulisan dan kajian ilmiah ini akan menjadi informasiyang bermanfaat bagi para pembaca.Dalam edisi 26 kali ini, redaksi menyajikan beberapa tulisan dankajian ilmiah yang terkait dengan isu-isu nasional yang masih hangatdibincangkan, antara lain yaitu rejuvenasi Bhinneka Tunggal Ika,kependudukan dari perspektif Ketahanan Nasional, dan paradigma porosmaritim dalam pendidikan melalui lintas batas keilmuan.Selain itu, isu otonomi daerah masih menjadi tema yang menarikdiangkat, kali ini dalam studinya pada keberhasilan pelaksanaannya didaerah Kabupaten/kota wilayah III Cirebon. Isu lain yang juga menarikdiangkat yaitu terkait dengan strategi pertahanan dan keamanannasional.Pada kesempatan yang baik ini, kami mengucapkan terima kasihkepada para penulis dan seluruh pihak yang turut berpartisipasimendukung terlaksananya penerbitan jurnal ini.Selamat Membaca.Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Jakarta, Juni 2016PEMIMPIN REDAKSIl PELINDUNG: Agus Widjojol PEMBINA: Bagus Puruhito l PENGARAH: Suhardi Aliusl PEMIMPIN REDAKSI: E. Estu Prabowo l EDITOR: Wahyu Widji P.Purnamasari – Bambang Iman AryantolDESAIN:Gatot--M. Isdar – LindaMagistaDianFl SEKRETARIAT: Cahtaqadri Hildamona – Ni Made Vira Saraswati – Mardiana – TheresiaW – Indiah Winarni – Yatik WulandariDeannisa2lIsidiluartanggungl DISTRIBUSI: Supriyono- Ayu Novita Sari jawabpercetakanCV.MandiriJurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 25 Maret 2016CitraBerdikari

Daftar Isi5Faktor Idiosinkratik Pemimpin dalamPerumusan Politik Luar Negeri17Rejuvenasi Bhinneka Tunggal Ika(Pendekatan Kewaspadaan Nasional)32Ketahanan Nasional: Permasalahan danSolusinya Dari Perspektif Kependudukan46Pemahaman Otonomi Daerah (StudyTentang Tingkat Keberhasilan PelaksanaanOtonomi Daerah Kabupaten/Kotadi Wilayah III Cirebon)59Membangun Paradigma Poros MaritimDunia68Strategi Pertahanan dan KeamananNasional IndonesiaJurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 26 Juni 20163

Google.comFaktor Idiosinkratik Pemimpindalam Perumusan PolitikLuar NegeriBoy Anugerah1Alumnus Program Studi Magister Pengkajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia dan Program Studi SarjanaHubungan Internasional Universitas [email protected] luar negeri merupakan alat bagi negara untuk mencapai kepentingan nasionalnya,baik pada aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun pertahanan dankeamanan. Dikarenakan berada pada level analisis negara, perumusan politik luar negeriberasal dari banyak sumber merujuk pada kompleksitas kepentingan nasional yang hendakdicapai, diantaranya sumber sistemik, sumber masyarakat (masyarakat madani), sumberstruktural pemerintah, dan faktor idiosinkratik pemimpin. Dengan tidak mengabaikansumber-sumber perumusan politik luar negeri lainnya, tulisan ini bermaksud menjelaskandefinisi faktor idiosinkratik pemimpin dan seberapa besar faktor tersebut memainkanperan dalam perumusan politik luar negeri suatu negara, corak diplomasi yang dijalankan,serta efektivitas pencapaian kepentingan nasional. Metode yang digunakan dalampenulisan artikel ini adalah medote deskriptif dengan menjelaskan definisi dan contohpengaruh faktor idiosinkratik dalam perumusan politik luar negeri dan studi kasus denganmengambil sampel pelaksanaan politik luar negeri di Iran dan Indonesia.Kata Kunci: Politik Luar Negeri, Faktor Idiosinkratik, Kepentingan Nasional.Jurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 26 Juni 20165

PENDAHULUANPolitik luar negeri pada hakikatnyamerupakan suatu “action theory”, yaknikebijakan suatu negara yang ditujukankepada negara lain untuk mencapaikepentingan tertentu, lazimnya disebutsebagai kepentingan nasional. Kepentingannasional berada pada tataran multiaspek,yakni ideologi, politik, ekonomi, sosial,budaya, pertahanan, dan keamanan.Secara umum, pengertian politik luarnegeri adalah suatu perangkat formulanilai, sikap, arah, serta sasaran untukmempertahankan, mengamankan, danmemajukan kepentingan nasional di dalampercaturan politik internasional (YanyanMochamad Yani 2007,1).Politik luar negeri merupakan salahsatu bidang kajian dalam studi hubunganinternasional. Sebagai bidang kajian, politikluar negeri memiliki kompleksitas dalamhal ontologi keilmuannya, yakni aspekbagaimana mengkaji bidang ilmu tersebut.Kompleksitas tersebut terjadi karena makinbanyaknya aktor-aktor yang terlibat dalamperumusan politik luar negeri. Negara,sebagai entitas politik yang berdaulatmemiliki beragam aktor dengan beragamkepentingan, seperti masyarakat awamsebagai aktor dengan kuantitas terbesar,masyarakat madani yang mengusungisu-isu yang spesifik (lembaga swadayamasyarakat,kelompokkepentingan,kelompok penekan), partai politik sebagaimesin demokrasi, legislatif yang memegangkewenangan dalam hal anggaran danpengawasan, serta eksekutif, dalam hal inipresiden dan menteri luar negeri. Meksipunberada pada satu ranah, yakni domestiksuatu negara, proses perumusan berjalantidak mudah dan kerap berlangsung alot(kadang-kadang terjadi deadlock).Di luar faktor internal, faktoreksternal juga menjadi determinan dalamperumusan politik luar negeri. Faktor6eksternal ini meliputi dinamika kawasan,pola-polahubungandengannegarasahabat, keterlibatan dalam berbagaiorganisasi dan rezim internasional, sertaopini dari masyarakat internasional (halini dimungkinkan karena dunia sudahmemasuki era globalisasi yang didukungoleh kemajuan di bidang teknologiinformasi, komunikasi dan transportasi).Meskipun faktor internal (domestik) danfaktor eksternal adalah dua hal berbedadan terpisah, terdapat korelasi yang kuatdiantara keduanya. Politik luar negerimerupakan cerminan dari kondisi internal(domestik) suatu negara. Meminjam istilahdari Henry Kissinger, seorang akademisi danpraktisi politik luar negeri Amerika Serikat,“foreign policy begins when domestic policyends” (Wolfram F Hanrieder 1971, 22).Perumusan politik luar negeri suatunegara secara umum bertujuan untukmencapai tujuan nasional yang spesifik,dituangkan dalam terminologi kepentingannasional (Jack C Plano dan Roy Olton1999,5). Menurut Rosenau, politik luar negeriditujukan untuk memelihara dan menjagakelangsungan hidup suatu negara (JamesN Rosenau,Gavin Boyd, dan Kenneth W.Thompson 1976, 27). Jika dituangkan dalambentuk gradasi, tujuan politik luar negeriterdiri atas tujuan jangka panjang, jangkamenengah, dan jangka pendek. Tujuanjangka panjang yang dimaksud di siniadalah mencapai perdamaian, keamanan,dan kekuasaan (KJ Holsti 1992, 21).Politik luar negeri merupakan sebuahproduk. Sebagai produk, politik luar negerimemiliki sumber dan melalui sebuahproses yang dinamakan sebagai formulasipolitik luar negeri. Sumber politik luarnegeri di bagi menjadi dua, yakni sumberinternal dan sumber eksternal. HowardLentner mengklasifikasikan sumber politikluar negeri ke dalam dua bagian, yaknideterminan luar negeri dan determinanJurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 26 Juni 2016

domestik (Howard Lentner 1974, 105-171).Determinan luar negeri merujuk padasistem internasional dan situasi. Sisteminternasional secara sederhana dapatdipahami sebagai pola-pola interaksiantar negara di dunia. Sebagai contoh,pada masa Perang Dingin (periode 19451990), dunia terbagi ke dalam dua kutub,yakni Blok Barat dengan Amerika Serikatsebagai poros, dan Blok Timur dengan UniSoviet sebagai poros. Kondisi ini dinamakansebagai sistem internasional yang bipolar.Kondisi berubah ketika perang dinginberakhir dan dampak globalisasi semakinmasif, dunia berubah dalam kondisi sistemyang bersifat multipolar, bukan saja sebagaiproduk munculnya banyak negara merdekapasca Perang Dingin, tapi juga munculnyaaktor-aktor non-negara. Berbeda dengansistem internasional, situasi adalah kondisiyang tidak tercakup atau mencakupkeseluruhan dalam sistem internasional.Sebagai contoh, bentuk kerja sama ekonomidan pertahanan antara negara-negara AsiaTengah dengan Rusia dan Tiongkok dalamShanghai Cooperation Organization (SCO)dipandang sebagai situasi. Begitu jugadengan aliansi Amerika Serikat dan negaranegara Eropa dalam memerangi ISIS di Irakdan Suriah, diklasifikasikan sebagai situasi.Determinan domestik memiliki cakupanyang lebih banyak dibandingkan dengandeterminan luar negeri. Determinan inimencakupi aspek geografi, demografi,sumber kekayaan alam, budaya politik,sistem politik, sistem pemerintahan, sikap,persepsi, dan pengetahuan dari pemimpinpolitik. Baik determinan luar negeri,maupun determinan domestik, merupakandua sisi mata uang yang tidak terpisahkandalam memproduksi politik luar negerisuatu negara. Pemisahan kedua sumbermencerminkan perumusan politik luarnegeri yang tidak holistik.Dari semua sumber perumusan politikluar negeri yang disebutkan, baik yangtermasuk dalam determinan domestik,maupun determinan luar negeri, sangatlahsulit untuk dilakukan pembobotan. Semisal,bobot sistem politik lebih besar apabiladibandingkan dengan aspek persepsielit, atau bobot demografi lebih kecildibandingkan dengan bobot geografi.Namun demikian, tulisan ini mencobamemberikan penjelasan seberapa besarsebuah faktor berpengaruh terhadappencapaian kepentingan nasional yangmenjadi esensi dilaksanakannya politikluar negeri. Dalam hal ini penulis mencobamenganalisis lebih mendalam faktoridiosinkratik (bisa juga disebut sebagaipersepsi elit) dalam memproduksi politikluar negeri suatu negara.Tulisan ini terdiri dari beberapapembahasan. Pertama, akan dibahasmengenai definisi faktor idiosinkratik,apa yang dimaksud dengan faktoridiosinkratik, karakteristik apa saja yangmelekat pada faktor tersebut. Kedua,akan dibahas mengenai pengaruh faktoridiosinkratik Mahmud Ahmadinejad di Iranyang memberikan corak dan warna bagidiplomasi Iran di panggung internasional,terutama kontestasi pemikiran dan psywardengan Amerika Serikat di berbagai foruminternasional. Ketiga, akan dijelaskanbagaimana faktor idiosinkratik PresidenRepublik Indonesia pertama, Soekarno.Keempat, akan ditelaah efektivitas politikluar negeri Iran dan Indonesia dalampencapaian kepentingan nasional masingmasing. Kelima, bagaimana mendudukkanfaktor idiosinkratik atau persepsi elitdalam formulasi politik luar negerinegara dikaitkan dengan pencapaiankepentingan nasional. Terakhir, penulisakan menyampaikan catatan akhir berupakesimpulan dan saran penulis mengenaipermasalahan yang diangkat.Jurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 26 Juni 20167

PEMBAHASANFaktor idiosinkratik dikenal juga denganistilah persepsi elit. Didefinisikan sebagaihal-hal yang melekat pada seseorang(pemimpin)sehinggamempengaruhipola pikir, persepsi, dan cara pandangdalammelihatsuatupermasalahanserta pengambilan keputusan. Dalamstudi hubungan internasional, dikenalterminologi level of analysis, yakni sebuahpisau analisa dalam membedah kasuskasus dalam hubungan internasional. Pisauanalisa ini dimulai dari unit terkecil, yakniindividu, kemudian bergerak ke unit yanglebih besar, yakni masyarakat, negara,dan sistem internasional. Dari level ofanalysis tersebut, dapat dilihat bahwafaktor individu (idionsinkratik/persepsielit) merupakan level yang paling dasar,namun fundamental. Bagaimana sisteminternasional, negara, dan masyarakatterbentuk tidak terlepas dari level individuyang menyusunnya. Jika dianalogikanke dalam masyarakat dalam perspektifsosiologi, komunitas etnis Tiongkok yangulet merupakan produk dari individuindividu Tiongkok yang ulet, demikian jugahalnya dengan komunitas Jawa yang santundan ramah, tidak terlepas dari individuindividu Jawa yang memiliki karakteristiktersebut. Hanya perbedaan mendasarnyaadalah, dalam studi hubungan internasional,individu dimaksud adalah pemimpin yangmemberikan pengaruhnya dalam formulasipolitik luar negeri.mengenyam pendidikan, sejak sekolahdasar hingga menempuh pendidikan kejenjang tertinggi. Pendidikan di sini tidakhanya mengacu pendidikan formal saja, tapijuga pendidikan informal. Sejarah RepublikIndonesia mencatat bahwa para bapakbangsa adalah mereka yang bergelut secarafisik dan pemikiran langsung dengan dan darimasyarakat. Bagaimana seorang Soekarnomemimpin Republik Indonesia perioderevolusi fisik-1965, sangat dipengaruhi olehaktivitasnya sebagai aktivis organisasi PNI,solidarity maker di tengah bangsa terjajah,dan pemimpin yang diasingkan olehkolonial Belanda karena intelektualitas dankritisismenya. Sangat sedikit persepsi BungBesar dipengaruhi oleh ilmu yang beliauenyam di bangku Fakultas Teknik, InstitutTeknologi Bandung. Ketiga, pengalamandan pembelajaran seorang pemimpinyang merupakan produk dari dinamikadalam kehidupan sosialnya, sejak kecilhingga tumbuh dewasa. Soekarno, PresidenRepublik Indonesia pertama, sekaligusProklamator Republik Indonesia, mengalamipembabakan pemikiran sebagai hasil daridinamika kehidupan sosialnya. PemikiranSoekarno sebagai pemimpin dibagi ke dalambabak pra - kemerdekaan (beliau dikenalsebagai pemimpin yang menerapkan gayanon - kooperasi dengan kolonial), babakkemerdekaan (dikenal sebagai pemimpinasia yang anti blok, anti kapitalisme, dansolidarity maker pemersatu bangsa),dan babak pasca kemerdekaan (pencetuskonsep demokrasi terpimpin dan presidenseumur hidup).Ada banyak hal yang melekat padafaktor idiosinkratik pemimpin. Pertama,adalah latar belakang keluarga. Latarbelakang keluarga di sini mencakup statussosial keluarga, kondisi perekonomiankeluarga, serta hubungan sosial denganmasyarakat.Kedua,latarbelakangpendidikan. Latar belakang pendidikanmencakup di mana seorang pemimpinAspek keempat adalah afiliasi elit/pemimpin. Dalam sistem politik yangmenempatkan partai politik sebagaimesin demokrasi nomor wahid, persepsielit sangat dibentuk oleh ideologi dankepentingan yang diusung oleh partaipolitik tempat ia bernaung. Sebagaicontoh,kebijakan-kebijakanyangditelurkan oleh Goerge Walker Bush JuniorFaktor Idionsinkratik atau Persepsi Elit8Jurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 26 Juni 2016

selama menjadi Presiden Amerika Serikatdengan menginvasi Afghanistan pada tahun2001 dan Irak pada tahun 2003 sangatdipengaruhi oleh ideologi dan cara pandangkalangan konservatif di tubuh PartaiRepublik, partai yang notabene menjadipengusungnya. Diskursus mengenai afiliasielit tidak hanya sebatas partai politik.Dalam cakupan yang lebih besar, meminjampisau analisa level of analysis, khususnyapada kuadran internasional, afiliasi jugaberarti keanggotaan suatu negara dalamforum-forum regional, internasional, danglobal. Sebagai contoh, dukungan yangdiberikan oleh Amerika Serikat kepadaFilipina dalam konflik Laut China Selatan(versi Filipina adalah Laut Filipina Barat)mengacu pada excellent bilateral relationskedua negara. Keterlibatan Inggris (yangpada khirnya disesali PM Tony Blair) dalaminvasi ke Afghanistan untuk menggulingkanTaliban pada tahun 2001, dan penggulinganSaddam Hussein di Irak pada 2003 sangatdipengaruhi oleh keanggotaan Inggris dalamblok NATO yang dipimpin Amerika Serikat.Terakhir,faktoridionsinkratikpemimpin dipengaruhi oleh produksipengetahuannya. Produksi pengetahuanyang dimaksudkan di sini berhubungandengan latar belakang kehidupan sosial danlatar belakang pendidikan, namun lebihspesifik pada bagaimana pemimpin tersebutmenyerap pengetahuan menjadi persepsi,pola pikir, dan cara pandang dalam melihatsuatu permasalahan. Sebagai contoh,seorang presiden yang berasal dari latarbelakang militer cenderung mengadopsicara pandang militer dalam memimpinnegara. Seorang menteri luar negerinegara berkembang yang mengenyampendidikan di Barat (Amerika dan Eropa)cenderung melakukan kerja sama dengannegara-negara barat dan mengadopsipola pemikiran mereka yang liberalis dankapitalistik baik kebijakan yang sifatnyapolitik, ekonomi, maupun pertahanan dankeamanan.Ahmadinejad dan Nuklir IranSecara geografis, Iran berada padaposisi persimpangan Timur Tengah, AsiaBarat, dan Kaukasus. Di bagian Utara,IranbertetanggadenganArmenia,Azerbaijan, Turkmenistan, di bagianTimur bersebelahan dengan Afghanistandan Pakistan, sedangkan di bagian Baratbersebelahan dengan Irak dan Turki. Secarageopolitik, geografi Iran menempatkanIran sebagai negara yang rawan gesekan.Kondisi geografis Iran menempatkan Iransebagai negara yang banyak menjadi saksisekaligus terlibat dalam perang-perangbesar, salah satunya adalah perang antaraRusia melawan Inggris dan India.Ditilik secara geostrategi, posisi Iransangat menguntungkan karena Iran memilikiakses ke Laut Kaspia yang kaya akan sumberdaya alam minyak dan gas bumi. Iranmemiliki posisi sentral karena wilayahnyadilewati oleh pipa-pipa minyak menujuAsia, seperti India, Pakistan, dan Tiongkok.Posisi Selat Hormuz juga menempatkan Iranmemiliki peranan strategis dalam lalu lintasperdagangan dunia.Penguasaan sumber kekayaan alamyang besar serta posisi strategis yangdimiliki Iran, membuat Ahmadinejad,mantan Presiden Iran pada masa itumelakukanperubahanstrategidanorientasi geopolitik. Jika sebelumnyakebijakan Iran lebih banyak menekankanpada upaya mengembangkan transportasibaik darat, laut, maupun udara, makapada masa Ahmadinejad strategi politiklebih ditekankan pada upaya membangunkapasitas energi. Salah satu lompatan besaryang ditempuh Iran pada masa Ahmadinejadadalah pengembangan energi nuklir untukkepentingan damai.KebijakanJurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 26 Juni 2016yangditempuholeh9

Ahmadinejad ini mendapatkan resistensidari negara-negara lain, terutama Israelyang merasa terancam. Begitu juga responnegatif yang ditunjukkan oleh AmerikaSerikat. Banyak pihak memandang bahwapengembangan energi nuklir di Iran bukanlahuntuk kepentingan damai, melainkanupaya untuk membangun dan memperkuatkapasitas militer. Jika hal ini benar,merupakan sebuah “dilema keamanan”bagi negara-negara yang memiliki benturankepentingan nasional dengan Iran, sepertihalnya Israel dan Amerika Serikat. Diberbagai forum, Israel dan Amerika Serikatkerap mengecam Iran sebagai negara ‘porossetan’ karena kepemilikan nuklir membuatIran menjadi momok bagi keamanan danperdamaian dunia.Reaksi keras dilontarkan oleh PresidenIran, Ahmadinejad,yangmenyebutIsrael dan Amerika Serikat melakukanhipokrisi karena sejatinya mereka adalahteroris yang sebenarnya. Invasi AmerikaSerikat ke Afghanistan dan Irak, menurutAhmadinejad, merupakan tindakan yangtidak memiliki legitimasi dan terbuktikeliru. Kepemilikan nuklir oleh Israeljuga menunjukkan bahwa dunia bersikapmunafik karena Israel menggunakanyasebagai alat penggentar untuk mendukungokupasinya di Palestina. Asumsi dasar yangdikemukakan oleh Ahmadinejad adalah jikanegara-negara lain seperti India, Pakistan,Amerika Serikat, Israel, Tiongkok, KoreaUtara, dan lainnya boleh memiliki nuklir(meskipun dalam beberapa kasus, beberapanegara diragukan motif kepemilikannyauntuk kepentingan damai), juga merupakansebuah hal yang memungkinkan bagi Iranuntuk menempuh jalan yang sama, bahkandengan penekanan guna keperluan damai.Strategipengembanganenerginuklir untuk kepentingan damai dangaya konfrontasi Iran di berbagaipanggung internasional tidak terlepas10dari faktor idiosinkratik yang dimilikioleh Ahamadinejad, yakni latar belakangpendidikan, kehidupan sosial, pengalaman,persepsi, cara pandang, serta caramengambil keputusan. Ditilik dari latarbelakang pendidikan, Ahmadinejad adalahpemegang gelar doktor dalam bidangteknik dan perencanaan lalu lintas dantransportasi. Sebelum memegang tampukkekuasaan sebagai presiden, Ahamadinejadadalah seorang dosen, sempat bergabungdengan korps pengawal Revolusi Islam Iranpada tahun 1986, menjadi Wakil Gubernurdan Gubernur Maku dan Khoy, serta pernahmenjadi Walikota Teheran.Merujuk pada faktor idiosinkratikAhmadinejad tersebut, bisa dipahamikebijakanreorientasipengembanganenergi dan gaya diplomasi konfrontatif yangdijalankan oleh Iran pada masa Ahmadinejadmerupakan produk yang tidak terlepas daripersepsi Ahmadinejad sebagai elit Iran(kepala negara). Pola pikir sebagai teknokratmembuat Ahamadinejad berfikir strategikdan jangka panjang dengan memanfaatkandan mengoptimalkan sumber kekayaanalam Iran sebagai dasar membangun Iranke depan. Keterlibatannya dalam gerakanRevolusi Islam Iran membawa Iran bersikapkonfrontatif terhadap Amerika Serikat,negara yang selama ini sangat menentangrevolusi dan pengembangan energi nuklirdi Iran. Pengalamannya sebagai birokratpemerintahan sebelum menjabat sebagaipresiden menempatkannya sebagai sosokyang popular di Iran, bahkan di foruminternasional (Ahmadinejad mendapatdukungan dari Hugo Chavez - PresidenVenezuela pada waktu itu, yang jugapenentang Amerika Serikat). Ahmadinejadtidakseganmenekankanbahwakebijakan Iran benar adanya, terlebihlagi ia mendapatkan dukungan penuh darimasyarakat Iran.Dengan kondisi seperti ini, kebijakan-Jurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 26 Juni 2016

kebijakan luar negeri Iran yang banyakdipengaruhi oleh idiosinkratik Ahmadinejadsebagaikepalanegaramampumenempatkan Iran sebagai negara yangberpengaruh di kawasan, tidak hanya darisisi ekonomi melalui pengembangan energinuklir dan penguasaan energi, tapi jugadari sisi pertahanan dan keamanan, karenamembuat Israel dan beberapa negara Arabyang berseberangan dengan Iran melakukanreorientasi kebijakan luar negeri sertapertahanan dan keamanannya (Iran adalahnegara berhaluan Syiah, mayoritas Arabberhaluan Sunni).Soekarno dan Politik Luar Negeri BebasAktifIndonesia pada dekade 1950-an adalahsebuah nation-state muda yang baruterlepas dari belenggu kolonialisme danimperialisme, giat berkampanye untukmendapat pengakuan kedaulatan darinegara lain, serta berupaya membuktikaneksistensinya di panggung internasional.Pada masa tersebut, Indonesia yangbaru lahir dari rahim perjuangan anakbangsanya harus dihadapkan pada kondisisistem internasional dan politik globalyang sarat benturan. Dunia pada waktu ituterkotak dalam dua kutub kekuatan besar,blok barat yang dipimpin Amerika Serikatdan blok timur dengan Uni Soviet sebagaipanglimanya. Eksistensi kedua kutubtersebut berimbas kepada banyak negara didunia, tidak terkecuali Indonesia. Melaluistrategi back - yard policy, kedua kekuatanbesar menjalankan proxy war denganmengajak negara-negara di dunia untukmemutuskan, apakah berdiri di sisi AmerikaSerikat atau Uni Soviet. Dalam lingkupAsia Tenggara, negara-negara sahabatIndonesia juga mengalami turbulensi yangsama. Vietnam, misalnya, terbelah menjadiVietnam Utara dan Vietnam Selatan.Bergeser sedikit ke Asia Timur, Korea,berkecamuk perang saudara antara merekayang mendukung komunisme dan merekayang mendukung liberalisme - kapitalisme(sampai saat ini kedua Korea masih dalamkondisi perang dengan status gencatansenjata). Sejatinya perang sesungguhnyatidaklah terjadi, sangat kontras denganPerang Dunia I dan II yang memakan jutaankorban jiwa. Perang yang berlangsungadalah perang dingin, perang denganbanyak negara satelit, perang psikologis,dan perang dengan menggunakan efekpenggentar.Dalam kondisi dilematis tersebut,pemerintah Indonesia pada waktu itu,yang dipimpin oleh Presiden Soekarnoharus menentukan arah politik luar negeriIndonesia. Quo vadis Indonesia? Situasi didalam negeri juga hiruk-pikuk karena adakekuatan yang mendukung komunisme (PKIdan golongan kiri lainnya), ada kekuatanyang anti komunisme (Masyumi, NU), adakekuatan yang anti keduanya. Meksipunsudah mendapat pengakuan kedaulatan darinegara lain, eksistensi Indonesia belumlahterlalu kokoh mengingat partisipasi diberbagai forum internasional masih minim.Beruntung Indonesia memiliki Soekarno,presiden yang lahir dari rahim perjuanganrakyat. Dengan kemampuan orasinya danpemahaman yang baik mengenai hubunganantar bangsa, Soekarno dengan lantangmenyuarakan bahwa Indonesia adalahnegera merdeka dan berdaulat. Indonesiaadalah negara yang cinta damai, dan olehkarenanya menjalin hubungan dengannegara manapun berdasarkan prinsiphubungan antar bangsa dan negara yangbaik (non intervensi). Komitmen Indonesiaini dibuktikan dengan digalangnya berbagaiforum yang menunjukkan bahwa Indonesiadan negara-negara lainnya menolakuntuk terpolarisasi dalam dua kutub,mendukung penuh upaya perdamaian,dan gigih memperjuangkan kemerdekaannegara-negara yang masih dibelenggu olehJurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 26 Juni 201611

kolonialisme dan imperialisme. Forumtersebut berupa Gerakan Non Blok atau NonAllignment Movement pada tahun 1954 danKonferensi Asia - Afrika di Bandung padatahun 1955. Soekarno juga menyerukanistilah Nefo atau New Emerging Forcesuntuk menyebut negara-negara yang barumerdeka sebagai tandingan Oldefo atauOld Establish Forces merujuk pada negaranegara mapan bermental penjajah.Berbagai kebijakan yang ditempuhIndonesia pada masa Soekarno tersebutpada dasarnya berada pada haluan politikluar negeri bebas dan aktif, yakni politikIndonesia untuk bebas bergaul dengannegara manapun dan aktif dalam berbagaiforum internasional. Politik yang digagasoleh Moehammad Hatta dan dijalankandengan baik pada masa itu sangat sesuaidengan kondisi Indonesia yang barumerdeka dan rentan menjadi satelit darikekuatan besar dunia. Bagaimana politik inibisa berjalan dengan baik dan mengantarIndonesia ke panggung terhormat padamasa itu?Figur Soekarno sebagai PresidenRepublik Indonesia yang berkaraktersolidarity maker memainkan peran sentraldalam panggung politik internasional.Jika karakter solidarity maker tersebutmampu mempersatukan Indonesia yangberanekaragam suku, agama, budaya,dan adat istiadat, menjadi negara yangmerdeka dan berdaulat pada tahun 1945(Unity in Diversity), maka karakter tersebutmampu memantik semangat juang bangsadan negara lainnya yang masih dibelenggupenjajahan (negara-negara Asia dan Afrika)untuk lepas dan berdiri sebagai negaraberdaulat. Pembentukan Gerakan Non Blokyang notabene merupakan ide Soekarnojuga menunjukkan karakter Soekarno yanganti penjajahan gaya baru (back yardpolicy, proxy war).Corak politik luar negeri Indonesia pada12tempo tersebut juga banyak dipengaruhioleh ideologi nasionalisme yang dipegangerat oleh Soekarno. Nasionalisme dalampersepsiSoekarnobukanlahkonseptunggal, tapi dua sisi mata uang denganinternasionalisme pada sisi lainnya.Penjabaran konsep dua sisi mata uang iniadalah dalam bentuk mendukung penuhkemerdekaan negara-negara di seluruhdunia, menolak segala bentuk kolonialismedan imperialisme (baik gaya lama maupungaya baru), mendukung humanisme, danberupaya mewujudkan keamanan danketertiban dunia melalui partisipasi aktifdalam forum internasional.Melalui pelaksanaan politik luar negeribebas aktif pada masa Soekarno, Indonesiamampu menempatkan diri sebagai kekuatanbaru yang sangat diperhitungkan di panggunginternasional. Dalam perspektif studihubungan internasional, apa yang menjadikepentingan domestik Indonesia pada masaitu (kebutuhan pengakuan akan kedaulatan,dukungan dari negara lain, eksistensi dalamforum regional dan internasional) berhasilterartikulasi dengan baik di panggunginternasional. Ada linkage yang baik antarainput domestik dan kebutuhan luar negerisehingga menghasilkan produk yang baikdalam bentuk pencapaian kepentingannasional. Indonesia mampu menghindarikondisi yang terjadi di Vietnam, Korea,dan Jerman, yaitu ketika ketiga negaratersebut terpecah menjadi dua kutubsesuai kepentingan Amerika Serikat danUni Soviet. Indonesia juga tidak menjadinegara boneka yang menjadi basispangkalan militer kedua negara. Indonesiamampu mengonsolidasikan fragmentasi didalam negeri menjadi negara solid yanggiat membangun dengan meminimalisirancaman, gangguan, hambatan dantantangan dari lingkungan internasionalpada masa itu. Jikalau salah pilihkebijakan, Indonesia tidak hanya menjadinegara boneka saja, tapi juga terancamJurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 26 Juni 2016

menjadi negara gagal karena tidak mampumembendung banyaknya upaya separatismedengan pihak-pihak yang anti kemerdekaan(RMS, Permesta, PRRI, PKI).Efektivitas Politik Luar Negeri dan UpayaMendudukkan Faktor Idiosinkratik secaraProporsionalKebijakan luar negeri sebagai produkpolitik luar negeri bukanlah sebuah prosesyang sederhana. Seperti lazimnya prosespenyusunan kebijakan, produk yangdikeluarkan melalui serangkaian tahapan,yakni munculnya sebuah permasalahan,identifikasi permasalahan, pendefinisianper-masalahan, pengumpulan data daninformasi dari berbagai sumber, masukke kotak pengolahan yang melibatkanbanyak pemangku kepentingan, hinggamenghasilkan keluaran dalam bentukkebijakan luar negeri.Tujuan utama dari pelaksanaankebijakan luar negeri adalah mencapai apayang menjadi tujuan nasional. Dalam kasusyang spesifik, tujuan nasional tersebutditerjemahkansebagaikepentingannasional. Baik tujuan nasional maupunkepentingan nasional berada pada levelanalisis negara. Berbicara mengenainegara, tentu memiliki sangkut paut yangerat dengan apa yang diinginkan oleh rakyatdari negara tersebut.Dalam proses formulasi politik luarnegeri,faktoridiosinkratikseorangpemimpin memiliki peranan, namun tidakberdiri tunggal. Faktor idiosinkratik ataupersepsi elit bisa saja menjadi faktordominan, namun tidak bisa menegasikanfaktor lainnya. Kondisi ketika faktoridiosinkratik menjadi determinan utamaformulasi kebijakan dan mampu menihilkanfaktor lain bisa dianggap sebagai kondisiketika negara berada dalam otoritarianisme(penguasa despotik). Bisa juga sistempolitik dan pemerintahan negara tersebutmelazimkan hal demikian, seperti halnyanegara-negara monarki absolut (kondisiini tidak lazim di era globalisasi yangmenjunjung tinggi prinsip demokrasi).Pelibatan faktor idiosinraktik dalamformulasi kebijakan luar negeri tidak ansich selalu berdampak positif bagi negara.Dalam sudut pandang s

Kondisi berubah ketika perang dingin berakhir dan dampak globalisasi semakin masif, dunia berubah dalam kondisi sistem yang bersifat multipolar, bukan saja sebagai produk munculnya banyak negara merdeka pasca Perang Dingin, tapi juga munculnya aktor-aktor non-negara. Berbeda dengan sistem internasional, situasi adalah kondisi