Transcription

BAB IIKAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIANBab ini akan memaparkan teori-teori yang digunakan dalam penelitian. Teoriteori ini tentunya telah didasarkan pada informasi faktual sehingga dapat diyakinikebenarannya. Berdasarkan landasan teori inilah, penulis mampu untuk membuathipotesis penelitian. Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara yangdibangun atas dasar teori dan konsep. Nantinya, akan diuji apakah hipotesis tersebutdapat diterima atau justru ditolak. Ringkasan mengenai penelitian terdahulu jugadisajikan pada sub seksi terakhir dalam sub bab landasan teori dan konsep.2.1Landasan Teori dan KonsepPenelitian ini menggunakan beberapa landasan teori, konsep-konsep, danhasil-hasil penelitian sebelumnya yaitu sebagai berikut:2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)Jensen and Meckling (1976) menyatakan bahwa, kontrak diantara pemilikperusahaan atau pemegang saham (prinsipal) dengan pengelola perusahaan ataumanajemen (agen), dimana pelaksanaan tugas dan wewenang berada di tanganmanajemen sesuai perintah pemilik perusahaan disebut sebagai kontrak keagenan.Kontrak tersebut terlihat dari adanya rantai komando yang vertikal antarapemegang saham sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Kontrak atauhubungan keagenan ini dikenal sebagai sebuah teori yaitu teori keagenan (agencytheory).14

Jensen and Meckling (1976) juga menyatakan bahwa, teori ini mengutamakanadanya perbedaan atau terpisahanya fungsi antara kepemilikan (prinsipal) denganfungsi manajemen (agen). Adanya perbedaan atau terpisahnya fungsi inimenyebabkan timbulnya suatu permasalahan atau konflik yang disebut sebagaimasalah keagenan (agency problem). Timbulnya konflik ini dikarenakan pihakmanajemen memiliki kesempatan untuk mencapai keinginan pribadi mereka dantentu saja mengabaikan kepentingan dan keinginan dari para pihak pemegangsaham sebagai pemilik perusahaan.Konsep dari teori keagenan ini adalah agen mempunyai jauh lebih banyakinformasi mengenai kondisi perusahaan yang sesungguhnya dibandingkan denganinformasi yang dimiliki oleh prinsipal. Hal ini tentu saja menimbulkan adanyaasimetri informasi (information assymmetry) dan otomatis pihak prinsipal punmewaspadai segala perilaku yang dilakukan oleh agen serta memilikiketidakpercayaan apakah kepentingan mereka telah diutamakan oleh para agen.Konsep lainnya ialah kontrak atau hubungan keagenan ini dimanfaatkan olehprinsipal dan agen yang berperilaku rasional dengan tujuan mengoptimalkankepentingannya masing-masing, sehingga dapat dinyatakan bahwa agen memilikitujuan pribadinya yang mendorong ia untuk tidak mengutamakan tujuan dankepentingan dari prinsipal sebagai pemilik perusahaan (Adams, 1994). Tujuanmementingkan diri sendiri ini dikarenakan adanya moral hazard dari agen danmasalahnya sering dikenal sebagai moral hazard problem. Selain itu, yang jugamenjadi sebuah permasalahan ialah munculnya adverse selection yang artinyapemilik perusahaan (prinsipal) tidak dapat dengan pasti mengetahui bahwa15

manajemen (agen) yang dipilih memang mempunyai kemampuan sesuai denganbidangnya dan apakah ia bersedia untuk mengutamakan kepentingan prinsipaldibandingkan kepentingan dirinya sendiri (Gilardi, 2001).Kita sering mendengar istilah agency cost, agency cost merupakan biayabiaya yang ditanggung oleh pemilik perusahaan (prinsipal) untuk mencegahterjadinya agency problem. Biaya untuk melakukan monitoring adalah salah satubentuk biaya yang dikeluarkan oleh pemilik perusahaan (prinsipal). Contohnyaadalah uang yang digunakan untuk membiayai pengauditan laporan keuangan olehauditor eksternal (Adams, 1994). Biaya monitoring untuk melakukan audit laporankeuangan merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya agency problem.Setiawan (dalam Rahayu, 2012), dalam teori agensi, auditor adalah pihak yangdianggap mampu menengahi kepentingan pihak prinsipal dan agen dalammengelola keuangan perusahaan. Auditor independen juga berfungsi untukmengurangi tejadinya agency problem yang timbul dari perilaku mementingkan dirisendiri yang dilakukan oleh agen. Perbedaan kepentingan tersebut rentanmenyebabkan konflik, terjadinya konflik cenderung menyebabkan manajemendiganti dan pergantian manajemen diikuti dengan pergantian auditor.2.1.2 Teori Kontingensi (Contingency Theory)Mulanya teori kontingensi diperkenalkan oleh Lawrence dan Lorsch (1967),selanjutnya digunakan oleh Kast dan Rosenzweig (1973) yang mengungkapkanbahwa, sebuah organisasi tidak memiliki cara terbaik dalam memperoleh keserasianantara faktor internal organisasi maupun faktor lingkungan eksternalnya untukdapat menggapai prestasi terbaik. Menurut Sari (dalam Azli dan Azizi, 2009), teori16

kontingensi merupakan sebuah teori yang tepat dipakai dalam konteks mengkajireka bentuk, perancangan, prestasi dan kelakuan organisasi serta kajian yangberkaitan dengan pengaturan strategik. Menurut Raybun dan Thomas (dalam Azlidan Azizi, 2009), teori kontingensi ini menyatakan bahwa, perbedaan desakanlingkungan perusahaan menjadi acuan pihak manajemen dalam memilih sistemakuntansi yang akan diberlakukan di perusahaan tersebut. Teori ini tentu sajapenting sebagai sarana untuk menjelaskan perbedaan dalam struktur organisasi.Teori tersebut tertuang dalam penelitian ini yaitu digunakannya variabelpertumbuhan perusahaan untuk melihat pengaruhnya pada auditor switching.Akibat dari desakan lingkungan perusahaan yaitu para pengguna laporan keuanganyang menganggap bahwa semakin bertumbuhnya sebuah perusahaan maka akanmenggunakan auditor yang lebih baik dalam konteks reputasi. Mengganti auditoryang memiliki reputasi lebih baik merupakan salah satu strategi manajemen untukmeningkatkan citra perusahaan di mata stakeholders maupun calon stakeholders.Pandangan teori kontingensi menyatakan keberhasilan strategi organisasisangat bergantung pada kemampuan organisasi dalam menyesuaikan diri terhadaplingkungan. Penerapan strategi yang tepat dan didukung oleh kemampuanberadaptasi yang baik terhadap lingkungan akan memicu peningkatan kerja padaperusahaan secara berkelanjutan. Jika dipandang dari teori sistem organisasi,kesesuaian strategi organisasi dengan kemampuan adaptabilitas lingkungan akanmendorong organisasi menjadi suatu sistem terbuka. Adanya sistem terbukatersebut dapat menciptakan alternatif-alternatif inovasi yang lebih baik dan lebihkreatif.17

2.1.3 Peraturan Pemerintah Mengenai Rotasi Wajib AuditorAkibat dari adanya kasus Enron di Amerika Serikat pada tahun 2001 yangmengakibatkan runtuhnya KAP Arthur Anderson, berbagai negara kini menetapkanaturan mengenai rotasi wajib auditor. Indonesia juga pernah mengalami hal serupa,skandal yang melibatkan auditor pernah terjadi pada perusahaan PT. Kimia FarmaTbk yang melakukan manajemen laba pada laporan keuangan tanggal 31 Desember2001. Pada saat itu yang menjadi auditor adalah KAP Hans Tuanakotta & Mustofa(HTM). Akibat skandal ini, KAP Hans Tuanakotta & Mustofa menghadapi sanksiyang cukup berat dengan dihentikannya jasa audit mereka dan dikenakan sanksidenda sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Hal ini terjadi bukan karenakesalahan KAP HTM semata yang tidak mampu melakukan review menyeluruhatas semua elemen laporan keuangan, tetapi lebih karena kesalahan manajemenKimia Farma yang melakukan aksi manipulasi dengan penggelembungan nilaipersediaan.Sejak saat itu, Indonesia menetapkan aturan mengenai Pergantian KAP danAuditor melalui Keputusan Menteri Keuangan No. 359/ KMK.06/ 2003 tentang“Jasa Akuntan Publik” yang berbunyi, pemberian jasa audit umum atas laporankeuangan dari suatu entitas dapat dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP)paling lama 5 (lima) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang Akuntan Publikpaling lama 3 (tiga) tahun buku berturut-turut.Peraturan yang mengatur tentang pembatasan masa penugasan auditor inikemudian disempurnakan pada tanggal 5 Februari 2008 melalui Peraturan MenteriKeuangan Republik Indonesia No. 17/PMK.01/2008 tentang “Jasa Akuntan18

Publik”. Terdapat perubahan mengenai pemberian jasa audit umum atas laporankeuangan sebuah entitas. Pada pasal 3 ayat (1) dijelaskan bahwa pemberian jasaaudit kepada satu klien yang sama dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP)yang sama maksimal selama 6 (enam) tahun buku berturut-turut dan oleh seorangAkuntan Publik yang sama selama 3 (tiga) tahun buku bertutut-turut. Sedangkanpada Pasal 3 ayat (2) dan (3) menyatakan bahwa, Akuntan Publik dan KantorAkuntan Publik (KAP) dapat menerima kembali penugasan audit umum untuk kliensetelah 1 (satu) tahun buku tidak memberikan jasa audit umum atas laporankeuangan klien yang sama.Aturan tersebut mengharuskan perusahaan untuk melaksanakan rotasi auditdengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Penjelasan diatas yaitu mengenaiauditor switching yang bersifat wajib (mandatory), sedangkan dalam penelitian inidifokuskan kepada terjadinya auditor switching yang lebih bersifat sukarela(voluntary) terlepas dari peraturan tersebut.2.1.4 Auditor SwitchingAuditor switching adalah pergantian Akuntan Publik atau Kantor AkuntanPublik (KAP) yang dilakukan oleh perusahaan klien. Menurut Halim (1997),terdapat beberapa faktor penyebab dari adanya auditor switching yakni adanyamerjer antara dua perusahaan yang memiliki kantor akuntan publik yang berbeda,ketidakpuasan atas kinerja kantor akuntan publik yang terdahulu, dan mungkin sajakarena adanya merjer antar kantor akuntan publik.Secara garis besar terdapat dua faktor yang melatarbelakangi perusahaandalam melakukan auditor switching yakni faktor dari internal perusahaan atau19

faktor klien (client related factor) yang terdiri dari kesulitan keuangan, manajemenyang gagal, perubahan ownership, Initial Public Offering (IPO) dan faktorselanjutnya adalah faktor yang berasal dari eksternal perusahaan atau faktor auditor(auditor related factor) yang terdiri dari fee audit dan kualitas audit (Mardiyah,2002). Hal ini dipertegas oleh Kadir (dalam Rahayu, 2012), yang mengungkapkandua pendekatan untuk mengetahui apa yang menyebabkan perusahaan memutuskanuntuk melakukan pergantian Akuntan Publik atau Kantor Akuntan Publik (KAP)yaitu dari segi auditor dan segi perusahaan itu sendiri.Jika perusahaan mengganti auditornya bukan dalam kondisi yangmengharuskan ia untuk mengganti auditor, maka dapat diprediksi bahwa terdapatdua kemungkinan yang terjadi. Pertama, pihak auditor mengundurkan diri daripekerjaannya atau yang kedua adalah pihak perusahaan memutus ikatan kontrakkepada auditor tersebut. Salah satunya mungkin akan terjadi diantara duakemungkinan tersebut, namun fokus utama bukanlah pada hal itu melainkan apasaja alasan yang melatarbelakangi perusahaan mengganti auditornya secarasukarela (voluntary) dan siapa yang akan menjadi auditor selanjutnya dariperusahaan tersebut. Menurut Wijayani (2011), alasan yang paling umum dariterjadinya pergantian auditor adalah tidak sepakatnya perusahaan sebagai klienpada praktik akuntansi tertentu yang dilakukan oleh auditor sehingga menyebabkanperusahaan mengganti auditor terdahulu dengan auditor baru yang mampu sepakatdengan kebijakan dan praktik akuntansi perusahaan.Nagy (2005) menyatakan bahwa, saat perusahaan mengganti auditornya keauditor yang baru, tentu saja akan timbul ketimpangan informasi atau suatu keadaan20

yang sering dikenal sebagai asimetri informasi antara perusahaan dengan auditoryang baru. Hal ini disebabkan karena perusahaan memiliki informasi yang jauhlebih banyak dan lebih mencerminkan keadaan perusahaan sesungguhnyadibandingkan informasi yang dimiliki oleh auditor baru. Jika auditor menerimapermintaan pelaksanaan penugasan audit oleh perusahaan, maka dapat diprediksiada dua alasan yang mendasarinya. Pertama, auditor menerima permintaan tersebutkarena memiliki akses yang cukup baik kepada auditor terdahulu sehingga dapatlebih mudah untuk meminta informasi mengenai keseluruhan usaha perusahaan.Alasan kedua, bisa saja auditor menerima permintaan pelaksanaan penugasan auditoleh perusahaan karena hal selain alasan pertama, contohnya adalah alasanfinansial, padahal auditor baru ini belum tentu memahami dengan baik apa usahadari perusahaan tersebut.2.1.5 Pertumbuhan PerusahaanAuditor Switching dapat dikaitkan dengan pertumbuhan perusahaan klien.Bertumbuhnya sebuah perusahaan, otomatis akan membuat kegiatan operasionalperusahaan semakin kompleks dan tentu saja hal ini membuat rentang antaraprinsipal sebagai pemilik perusahaan dengan agen sebagai pengelola perusahaanakan semakin jauh sehingga dibutuhkan peranan auditor yang mampu menjunjungtinggi independensinya demi meminimalisir biaya agensi (Nasser et al., 2006).Perusahaan cenderung akan mengganti auditornya karena auditor terdahulu tidakmampu memberikan pendapat sesuai dengan harapan pihak manajemen atauperusahaan mengganti auditornya karena ingin meningkatkan prestise dihadapanpara stakeholders.21

Bertumbuhnya perusahaan secara signifikan diiringi dengan adanyaperubahan manajemen mungkin tidak diimbangi dengan keahlian dari auditor itusendiri. Perusahaan membutuhkan auditor yang lebih berkualitas dan mampumemenuhi tuntutan dari pertumbuhan perusahaan yang cepat. Namun apabila halini tidak dapat dipenuhi, kemungkinan perusahaan mengganti auditornya akansemakin besar (Kawijaya dan Juniarti, 2002). Menurut Evans (dalam Rahayu,2012), pertumbuhan perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranyafaktor internal, eksternal, dan pengaruh iklim industri lokal. Menurutnyapertumbuhan dibagi menjadi:a) Pertumbuhan dari luar (eksternal growth)Pertumbuhan perusahaan yang dimaksud disini adalah pertumbuhan yangberasal dari luar perusahaan dalam artian perusahaan tidak memiliki kekuatan untukmenetapkan atau mempengaruhinya, contohnya adalah harga, daya belimasyarakat, cuaca, kebijakan dari pemerintah dan lain sebagainya. Faktor eksternalini dapat menjadi kesempatan dan peluang perusahaan untuk terus bertumbuhselama pengaruhnya adalah positif.b) Pertumbuhan dari dalam (internal growth)Faktor-faktor yang berasal dari dalam perusahaan lah yang mempengaruhiinternal growth ini. Contohnya, manajemen yang solid, jumlah modal, jumlahtenaga kerja terampil, teknologi yang memadai, keterangan merger atau akuisisiperusahaan dan lain-lain. Faktor-faktor ini lebih tertuju pada produktivitas dariperusahaan, semakin meningkatnya produktivitas maka pertumbuhan perusahaanpun cenderung akan meningkat.22

c) Pertumbuhan akibat pengaruh iklim industri lokalPertumbuhan ini berkaitan dengan faktor eksternal perusahaan, jadi kondisiekonomi masyarakat maupun iklim daerah setempat mempengaruhi tumbuhnyasebuah perusahaan. Faktor penentunya adalah apakah daerah tersebut termasukdaerah miskin atau kaya dan bagaimana akses serta penyediaan infrastrukturpendukung daerah tersebut. Jika terdapat infrastruktur dan iklim perekonomianyang baik, maka kemungkinan perusahaan untuk tumbuh juga akan semakin besar.2.1.6 Pergantian ManajemenIstilah manajemen merujuk pada kelompok perorangan yang secara aktifmerencanakan, melaksanakan koordinasi, dan mengendalikan jalannya kegiatanoperasional perusahaan. Menurut konsep auditing, manajemen adalah para pejabatperusahaan, pengawas, dan personel kunci sebagai penyelia (supervisor).Pergantian manajemen terjadi jika perusahaan mengubah jajaran dewan direksinya(Wayuningsih dan Suryanawa, 2012). Penelitian ini mendefinisikan pergantianmanajemen sebagai pergantian direksi perusahaan atau Chief Executive Officer(CEO) yang utamanya karena keputusan pada saat Rapat Umum Pemegang Saham(RUPS) maupun direksi mengundurkan diri dari pekerjaannya atas keinginansendiri (Damayanti dan Sudarma, 2008).Mardiyah (2002) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa, pergantianmanajemen merupakan salah satu variabel yang signifikan memengaruhi auditorswitching karena apabila perusahaan mengubah jajaran dewan direksinya, baik itudirektur maupun komisarisnya, akan menimbulkan adanya perubahan dalamkebijakan perusahaan di bidang akuntansi, keuangan, dan pemilihan auditor.23

Menurut Nagy (2005), perusahaan akan berusaha mencari auditor yang mampusejalan dan sepakat dengan kebijakan akuntansi yang berlaku di perusahaantersebut.2.1.7 Opini Audit Going ConcernOpini auditor merupakan sumber informasi bagi pihak luar perusahaan untukpedoman dalam pengambilan keputusan. Auditor bertugas memberikan opinilaporan keuangan perusahaan dalam melaksanakan penugasan umum. Pelaksanaanproses audit tentu tidaklah mudah, auditor dituntut tidak hanya melihat sebatas padahal-hal yang nampak dalam laporan keuangan saja tetapi juga harus lebihmewaspadai hal-hal signifikan yang dapat mengganggu kelangsungan hidup sebuahperusahaan. Inilah yang menjadi alasan mengapa auditor turut memiliki tanggungjawab terhadap keberlangsungan hidup sebuah perusahaan walaupun dalam bataswaktu tertentu.SPAP seksi 341 (IAPI, 2011) paragraf 2 menyatakan bahwa, auditor memilikitanggung jawab untuk mengevaluasi apakah terdapat kesangsian besar terhadapkemampuan entitas dalam mempertahankan kemampuan hidupnya dalam periodewaktu yang pantas, tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan yangsedang diaudit. Auditor mengevaluasi didasari oleh informasi yang ia milikimengenai peristiwa dan kondisi yang ada pada atau yang telah terjadi sebelumpekerjaan lapangan selesai. Tentu saja informasi tentang kondisi keberlangsunganhidup sebuah perusahaan haruslah dalam jangka waktu yang pantas. Hasil dariprosedur audit yang telah dirancang dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan audit24

yang lain harus cukup untuk tujuan tersebut. Contoh prosedur yang dapatmengidentifikasi kondisi atau peristiwa itu yaitu:a)Prosedur analitik.b)Review terhadap peristiwa kemudian.c)Review terhadap kepatuhan pada syarat-sayarat utang dan perjanjianpenarikan utang.d)Pembacaan notulen rapat pemegang saham, dewan komisaris, dan komitepanitia penting yang dibentuk.e)Permintaan keterangan pada penasihat hukum perusahaan tentang perkarapengadilan, tuntutan, dan pendapatnya mengenai hasil suatu perkarapengadilan yang melibatkan perusahaan tersebut.f)Konfirmasi dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa dan pihakketiga mengenai rincian perjanjian penyediaan atau pemberian bantuankeuangan.SPAP seksi 341 (IAPI, 2011) paragraf 6 menyatakan bahwa, jika sebuahperusahaan menunjukkan adanya kesangsian besar dalam mempertahankankeberlangsungan hidupnya dalam jangka waktu yang pantas, maka auditor berhakuntuk menelusuri dan mengidentifikasi informasi tertentu mengenai peristiwa dankondisi yang menyebabkan hal itu terjadi. Hasil dari pengidentifikasian peristiwadan kondisi tersebut tergantung dari keadaan, bisa saja hasilnya dapat signifikanapabila ditinjau bersama-sama dengan peristiwa dan kondisi yang lain. Contoh dariperistiwa dan kondisi tersebut adalah sebagai berikut:25

a)Trend negatif misalnya kerugian operasi yang berulangkali terjadi,kekurangan modal kerja, arus kas negatif dari kegiatan usaha, rasio keuanganpenting yang buruk.b)Petunjuk lain tentang kesulitan keuangan, misalnya penundaan pembagiandividen, restrukturisasi utang, penjualan beberapa aset tetap, dll.c)Konflik internal perusahaan misalnya adanya pemogokan kerja darikaryawan, dll.d)Masalah yang berasal dari luar perusahaan contohnya terjerat perkarapengadilan, kehilangan lisensi atau adanya kebijakan baru yang dikeluarkanpemerintah.Auditor perlu mempertimbangkan pengungkapan yang harus ia berikanapabila ia memang memiliki kesangsian terhadap keberlangsungan sebuahperusahaan. Hal-hal yang harus dipertimbangkan tersebut, antara lain:a)Apa saja peristiwa dan kondisi yang menyebabkan auditor memilikikesangsian terhadap keberlangsungan sebuah perusahaan dalam jangkawaktu yang pantas.b)Apa saja akibat yang muncul dari adanya peristiwa dan kondisi tersebut.c)Informasi apakah ada kemungkinan bahwa perusahaan tersebut akan pailit.d)Informasi mengenai ada atau tidaknya kesempatan perusahaan tersebut untukpulih kembali.SPAP seksi 341 (IAPI, 2011) paragraf 10-11 menyatakan bahwa, setelahauditor mengidentifikasi pertimbangan-pertimbangan diatas dan mpertahankan

keberlangsungan usaha dalam jangka waktu yang pantas, auditor dapatmengeluarkan pendapat wajar tanpa pengecualian. Namun sebaliknya, apabilaauditor tidak memiliki keyakinan bahwa perusahaan mampu untuk melangsungkankegiatan usahanya dalam jangka waktu yang pantas, maka auditor wajib untukmelakukan evaluasi terhadap rencana manajemen. Apabila terjadi suatu keadaandimana manajemen tidak memiliki rencana atau rencana yang dibentuk olehmanajemen dianggap tidak mampu menanggulangi dampak negatif dari peristiwadan kondisi yang terjadi, maka auditor berhak untuk tidak mengeluarkan pendapat.2.1.8 Penelitian TerdahuluWijayani (2011) yang melakukan penelitian serupa yaitu menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi perusahaan di Indonesia melakukan auditor switching.Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan perusahaan non keuangan yangterdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2003-2009. Metode pengumpulandata yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling, yaituberdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Berdasarkan metode purposivesamping, total sampel penelitian adalah 912 perusahaan. Hipotesis dalam penelitianini diuji menggunakan metode analisis regresi logistik, Hasil penelitianmenunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap auditorswitching adalah pergantian manajemen dan ukuran KAP. Sedangkan variabelvariabel lain yang diteliti dalam penelitian ini seperti opini audit, financial distress,persentase perubahan ROA, dan ukuran klien tidak terbukti berpengaruh terhadapkeputusan perusahaan untuk melakukan auditor switching.27

Sinason et al. (2001) membuat penelitian yang berjudul An Investigation ofAuditor and Client Tenure dengan menggunakan ukuran KAP, ukuran klien, tingkatpertumbuhan klien, resiko klien, dan opini audit qualified sebagai variabelindependen. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu ukuran klien dan tingkatpertumbuhan klien berpengaruh signifikan.Nasser et al. (2006) melakukan penelitian dengan judul Auditor-ClientRelationship: The Case of Audit Tenure and Auditor Switching in Malaysia.Variabel independen dalam penelitian ini adalah ukuran KAP, ukuran klien,pertumbuhan klien, masalah keuangan klien. Variabel dependen dalam penelitianini adalah pergantian KAP. Populasi penelitian adalah perusahaan-perusahaan yangterdaftar di Kuala Lumpur Stock Exchange (KLSE). Analisis data menggunakanregresi logistik. Adapun hasil penelitian ini adalah ukuran KAP, ukuran klien, danmasalah keuangan klien berhubungan dan berpengaruh terhadap pergantian KAP.Sedangkan pertumbuhan klien tidak berpengaruh terhadap pergantian KAP.Penelitian selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Prastiwi danFrenawidayuarti (2008) meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhipergantian auditor: studi empiris perusahaan publik di Indonesia. Tujuan penelitianini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pergantian auditor perusahaan manufaktur di Indonesia setelah diberlakukannya peraturan mandatori.Hasil analisis menunjukkan bahwa tipe KAP dan pertumbuhan perusahaan (yangdiukur dengan total aset) berpengaruh secara signifikan terhadap kemungkinanpergantian KAP. Perusahaan dengan KAP Big Four mempunyai kemungkinanyang lebih rendah untuk mengalami pergantian KAP dari pada Non Big Four.28

Perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan juga mempunyai kemungkinanpergantian KAP lebih tinggi dari pada yang tidak mengalami pertumbuhan.Sedangkan ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan (yang diukur denganperubahan sales, perubahan MVE dan perubahan income) dan masalah keuangantidak berpengaruh signifikan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pergantianauditor di Indonesia.Wahyuningsih dan Suryanawa (2012) menganalisis pengaruh opini auditgoing concern dan pergantian manajemen pada auditor switching. Penelitian inidifokuskan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesiatahun 2005-2009 dengan jumlah pengamatan sebanyak 247 sampel penelitian yangdiperoleh dengan metode purposive sampling. Teknik analisis yang digunakandalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi logistik. Berdasarkan hasilanalisis diketahui bahwa opini audit going concern tidak berpengaruh pada auditorswitching karena pergantian akuntan publik dari KAP Big Four ke akuntan publikKAP Non Big Four dikhawatirkan dapat mengakibatkan respons negatif dari pelakupasar terhadap kualitas laporan keuangan perusahaan. Pergantian manajemen tidakberpengaruh pada auditor switching karena kualitas audit akuntan publik dari KAPyang berafiliasi dengan The Big Four Auditors tetap diyakini memililiki kekuatanmonitoring dan independensi yang tinggi.Penelitian selanjutnya meneliti pengaruh opini audit going concern,kepemilikan institusional dan audit delay pada voluntary auditor switching.Penelitian dilakukan pada perusahaan sektor real estate and property yang terdaftardi Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2009-2012. Jumlah sampel terpilih29

sebanyak 68 perusahaan yang ditentukan menggunakan metode purposivesampling. Teknik analisis data dan pengujian hipotesis diuji menggunakan metoderegresi logistik yang terdapat pada program SPSS 15. Hasil pengujian menunjukkanbahwa opini audit going concern dan audit delay berpengaruh signifikan padavoluntary auditor switching, sedangkan kepemilikan institusional berpengaruh tapitidak signifikan pada voluntary auditor switching (Robbitasari dan Wiratmaja,2013).Widiawan (2011) menguji pengaruh ukuran perusahaan klien, pertumbuhanperusahaan klien, financial distress, ukuran KAP, dan opini audit terhadappergantian KAP (studi empiris pada perusahaan keuangan yang terdaftar di BEItahun 2003-2008). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian iniadalah dokumenter. Data dokumenter adalah data yang memuat informasimengenai suatu obyek atau kejadian masa lalu yang dikumpulkan, dicatat, ataudisusun dalam arsip. Data diperoleh dari ICMD (Indonesian Capital MarketDirectory) tahun 2003-2008, website BEI yaitu www.idx.co.id serta dari data PojokBEI Universitas Diponegoro. Hasil dari penelitian ini adalah ukuran KAPberpengaruh signifikan terhadap pergantian KAP, sedangkan variabel independenlainnya tidak berpengaruh secara signifikan.Penelitian yang dilakukan oleh Trisnawati dan Wijaya (2009) mengenaianalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan berpindah KAP padaperusahaan yang listing di BEI pada tahun 2005-2007. Penelitian ini menggunakanopini auditor, ukuran KAP, persentase perubahan ROA, dan kesulitan keuanganperusahaan sebagai variabel independen. Penelitian ini termasuk hypotesis testing30

yang meneliti pengaruh/hubungan opini auditor, ukuran KAP, persentaseperubahan ROA, dan kesulitan keuangan terhadap perusahaan go public diIndonesia berpindah KAP. Hasil dari penelitian ini yaitu hanya ukuran KAP yangberpengaruh signifikan terhadap perpindahan KAP pada perusahaan go public diIndonesia. Variabel yang lain, yaitu opini akuntan, persentase perubahan ROA, dankesulitan keuangan perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap perusahaanpublik di Indonesia berpindah KAP. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis denganmenggunakan uji F, disimpulkan bahwa secara bersama-sama opini auditor, ukuranKAP, persentase perubahan ROA, dan debt to asset ratio berpengaruh secarasignifikan terhadap pergantian KAP pada tingkat keyakinan 95%. Tabel penelitianterdahulu terdapat pada lampiran 1.2.2Rumusan Hipotesis Penelitian2.2.1 Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan pada Auditor SwitchingAdanya auditor switching salah satunya dapat dipicu oleh adanyapertumbuhan perusahaan. Alasan utamanya adalah karena terjadi perubahankegiatan operasional perusahaan sehingga menuntut keberadaan auditor yangmemiliki kompetensi dan keahlian yang lebih mumpuni tentang masalah pelaporankeuangan dibandingkan dengan auditor terdahulu. Faktor eksternal yaknilingkungan perusahaan juga sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dariperusahaan tersebut. Perusahaan tentu perlu auditor yang lebih handal untukmeningkatkan kualitas audit. Hal yang cenderung dilakukan perusahaan adalahmengganti KAP nya dengan KAP yang lebih besar untuk mengatasi pertumbuhandan kebutuhan akan spesialisasi.31

Pertumbuhan perusahaan yang dibahas dalam penelitian ini adalahpertumbuhan yang disebabkan oleh faktor internal, karena faktor internalmencerminkan produktivitas di dalam perusahaan. Tingkat pertumbuhan diukuroleh tingkat pendapatan perusahaan, dimana pendapatan merupakan aktivitas utamaperusahaan. Akibatnya adalah ketika semakin tingginya pertumbuhan perusahaan,hal ini akan berbanding lurus dengan permintaan adanya hasil audit yang lebihberkualitas dengan tujuan mengurangi biaya keagenen dan memberikan layanannon audit yang dibutuhkan oleh manajemen untuk meningkatkan perluasanperusahaan. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan Sinason et al. (2001)yang menyatakan bahwa, pertumbuhan perusahaan berpengaruh positif padaauditor switching.Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis pertama yangterbentuk yaitu:H1: Pertumbuhan perusahaan berpengaruh positif pada auditor switching.2.2.2 Pengaruh Pergantian Manajemen pada Auditor SwitchingAdanya perubahaan dalam bidang akuntansi, keuangan, maupun pergantianKAP, salah satunya dipicu karena adanya perubahan dalam manajemen perusahaan.Pihak manajemen tentunya memerlukan kualitas audit yang lebih baik sehingga adakemungkinan jika perusahaan cenderung mengganti auditornya (Nagy, 2005).Berbeda pemimpin tentunya juga berbeda aturan dan kebijakan. Salah satukemungkinan kebijakan yang diubah adalah kebijakan mengenai pemilihan auditor.Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wijayani (2011) dan Sinarwati (2010)menunjukkan hasil yang sesuai dengan pernyataan tersebut bahwa, pergantianmanajemen menjadi salah satu penyebab dilakukannya auditor switching.32

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dibentuk hipotesis kedua yaitu sebagaiberikut:H2: Pergantian manajemen berpengaruh positif pada auditor switching.2.2.3 Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan pada Auditor Switching yangDimoder

adalah uang yang digunakan untuk membiayai pengauditan laporan keuangan oleh auditor eksternal (Adams, 1994). Biaya monitoring untuk melakukan audit laporan keuangan merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya agency problem. Setiawan (dalam Rahayu, 2012), dalam teori