Transcription

KARYA TULIS ILMIAHASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GOUT ARTHRITISDI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA NIRWANA PURISAMARINDAOleh :Nurul HidayahNIM : P07220116070

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIAPOLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALTIMJURUSAN KEPERAWATAN D-III KEPERAWATANSAMARINDA2019KARYA TULIS ILMIAHASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GOUT ARTHRITISDI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA NIRWANA PURISAMARINDAUntuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan(Amd.Kep) Pada Jurusan KeperawatanPoltekkes Kemenkes Kalimantan Timur

Oleh :Nurul HidayahNIM : P07220116070KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIAPOLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALTIMJURUSAN KEPERAWATAN D-III KEPERAWATANSAMARINDA2019

iii

iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUPA. Data DiriNama: Nurul HidayahTempat Tanggal Lahir: Samarinda, 13 Mei 1999Jenis Kelamin: PerempuanAgama: IslamAlamat: Jl. Girirejo RT. 25 Kelurahan LempakeKecamatan Samarinda Utara.B. Riwayat Pendidikan1. Tahun 2001-2002: TK Bina Anaprasa II Samarinda Utara.2. Tahun 2004-2010: SD Negeri 007 Samarinda Utara.3. Tahun 2010-2013: SMP Negeri 13 Samarinda Utara.4. Tahun 2013-2016: SMA Negeri 9 Samarinda Utara.5. Tahun 2016-sekarang: Mahasiswa Prodi DIII-KeperawatanSamarinda Poltekkes Kalimantan Timur.v

KATA PENGANTARPuji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT karena atasberkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiahini dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Gout Arthritis diPanti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda”. Shalawat serta salamsemoga senantiasa tercurahkan kepada nabi kita, Nabi Muhammad SAW, karenaberkat suri tauladan beliau, mengantarkan kita semua dari jalan yang gelap gulitamenuju ke jalan yang terang benderang seperti saat ini.Tujuan dari pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini untuk memenuhi tugasakhir sebagai syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan padajurusan Keperawatan di Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur.Bersama ini perkenankan saya mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya dengan hati yang tulus kepada :1.Supriadi B, S.Kp.,M.Kep Direktur Politeknik Kesehatan KementerianKesehatan Kalimantan Timur.2.Dra. Hj. Hamidah selaku kepala UPTD Panti Sosial Tresna Werdha NirwanaPuri Samarinda.3.Hj. Umi Kalsum, S.Pd.,M.Kes selaku Ketua Jurusan Keperawatan PoliteknikKesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur.4.Ns. Andi Lis A.G, S.Kep.,M.Kep selaku Ketua Program Studi DIIIKeperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan KalimantanTimur.vi

5.Indah Nur Imamah, SST., M.Kes selaku Pembimbing Akademik yang telahmembimbing saya selama di Poltekkes Kemenkes Kaltim6.Edi Purwanto, SST., M.Kes selaku pembimbing I yang telah menyediakanwaktunya untuk memberikan bimbingan, dukungan dan semangat dalampenulisaan Karya Tulis Ilmiah ini.7.Ns. Rizky Setiadi, S.Kep., MKM selaku pembimbing II yang telahmemberikan bimbingan, dukungannya dan semangat dalam penulisan KaryaTulis Ilmiah ini.8.Seluruh Dosen dan Staf Pendidikan di Politeknik Kesehatan KementerianKesehatan Kalimantan Timur yang telah membimbing dan mendidik penulisdalam masa pendidikan.9.Pimpinan dan Seluruh staf pengelola perpustakaan kampus PoliteknikKesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur.10. Kedua orang tua saya, Bapak Waluyo dan Ibu Sri Haryati atas semua doa,semangat dan bantuan finansial untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.11. Rekan-rekan program DIII keperawatan Tingkat IIIB yang telah memberikansemangat dan motivasi untuk penulis untuk menyelesaikan Karya TulisIlmiah ini.12. Kepada sahabat-sahabat saya, Ana, Mitha, Siti, dan Mia. Terima kasih sudahmemberikan dukungan dan semangat dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.13. Semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiahini baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak bisa penulissebutkan satu per satu.vii

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan Karya Tulis Ilmiah inijauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yangmembangun dari semua pihak dan nantinya akan digunakan untuk perbaikan dimasa mendatang.Samarinda, 22 Mei 2019Penulisviii

ABSTRAK‘‘ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GOUTARTHRITIS DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHANIRWANA PURI SAMARINDA”Pendahuluan : Gout Arthritis merupakan penyakit inflamasi sendi yangdiakibatkan oleh tingginya kadar Asam Urat dalam darah, yang ditandai denganpenumpukan Kristal Monosodium Urat di dalam ataupun di sekitar persendianberupa Tofi.Metode : Metode penulisan menggunakan pendekatan deskriptif dalam bentukstudi kasus untuk mengetahui masalah asuhan keperawatan pada lansia denganGout Arthritis di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda denganpendekatan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.Hasil dan Pembahasan : Pada klien 1 dan klien 2 umumnya memiliki diagnosakeperawatan yang sama hanya satu diagnosa keperawatan yang berbeda yangdialami oleh klien 2 tetapi tidak terjadi pada klien 1.Kesimpulan dan Saran : didapatkan ada beberapa diagnosa yang tidak terasipada kedua klien, pada klien 1 diagnosa yang teratasi yaitu tiga diagnosakeperawatan, diagnosa yang teratasi sebagian dua diagnosa keperawatan.Sedangkan pada klien 2 masalah yang teratasi yaitu 2 diagnosa keperawatan dandiagnosa yang teratasi sebagian adalah 4 diagnosa keperawatan. Saran bagiperawat diharapkan perawat dapat lebih mendalami ilmu dalam merawat dandapat menerapkan asuhan keperawatan pada Lansia sehingga dapat meningkatkankualitas hidup Lansia sehingga tercapai kehidupan Lansia yang sejahtera terutamadalam hal fisik dengan adanya peningkatan tingkat kemandirian Lansia danpenurunan ketergantungan Lansia pada pemberi pelayanan.Kata Kunci : Asuhan keperawatan, Gout Arthritis, Gerontikix

DAFTAR ISIHalamanHalaman Sampul DepanHalaman Sampul Dalam dan Prasyarat . iHalaman Pernyataan.iiHalaman Persetujuan.iiiHalaman Pengesahan .ivDaftar Riwayat Hidup .vHalaman Kata Pengantar.viAbstrak .ixDaftar Isi .xDaftar Bagan .xiiiDaftar Tabel .xivDaftar Lampiran .xvBAB 1 PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang.11.2 Rumusan Masalah.51.3 Tujuan Penulisan .51.3.1 Tujuan Umum.51.3.2 Tujuan Khusus .61.4 Manfaat Penulisan .61.4.1 Teoritis . .61.4.2 Praktisi .7BAB 2 TINJUAN PUSTAKA2.1 Konsep Lanjut Usia .82.1.1 Definisi Lanjut Usia.82.1.2 Batasan Lanjut Usia .82.1.3 Tipe Lanjut Usia .9x

2.1.4 Proses Penuaan dan Perubahan yang Terjadi pada Lansia . 112.1.5 Masalah yang Terjadi pada Lansia . 122.2 Konsep Keperawatan Lansia di Panti . 132.2.1 Definisi Panti . 132.2.2 Tujuan Keperawatan di Panti . 142.2.3 Sasaran Pembinaan di Panti. 142.2.4 Jenis Pelayanan Kesehatan di Panti.152.2.5 Fase-Fase Pelaksanaan Keperawatan di Panti . 172.3 Konsep Medis . 182.3.1 Definisi . 182.3.2 Etiologi . 192.3.3 Gambaran Klinis. 212.3.3.1 Gout Arthritis Akut . 212.3.3.2 Gout Arthritis Kronis . 222.3.4 Manifestasi Klinis. 222.3.5 Patofisiologi . 232.3.6 Pathway . 262.3.7 Penatalaksanaan . 272.3.7.1 Terapi Non Farmakologi . 272.3.7.2 Terapi Farmakologi .272.4 Konsep Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Gout Arthritis . 302.4.1 Pengkajian . 322.4.2 Diagnosa Keperawatan . 332.4.3 Perencanaan . 332.4.4 Implementasi . 362.4.5 Evaluasi .37BAB 3 METODE PENULISAN3.1 Pendekatan .383.2 Subyek Penulisan.383.3 Batasan Istilah (Definisi Operasional).38xi

3.4 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Studi Kasus .393.5 Prosedur Penulisan .393.6 Teknik dan Instrument Pengumpulan Data .403.6.1 Teknik Pengumpulan Data .403.6.2 Instrumen Pengumpulan Data .403.7 Keabsahan Data .403.8 Analisis Data .40BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN4.1 Hasil . 424.1.1 Gambaran Lokasi Studi Kasus .424.1.2 Data Asuhan Keperawatan .434.2 Pembahasan .854.2.1 Nyeri Kronis Berhubungan dengan Kondisi Kronis (Gout Arthritis) .854.2.2 Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan dengan Nyeri . 874.2.3 Defisit Pengetahuan Berhubungan dengan Kurang TerpaparInformasi . 904.2.4 Gangguan Pola Tidur Berhubungan dengan Nyeri . 914.2.5 Resiko Jatuh Dibuktikan dengan Usia 65 Tahun. 924.2.6 Resiko Defisit Nutrisi Dibuktikan dengan Faktor Psikologis(Keengganan untuk Makan) . 94BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN5.1 Kesimpulan . 965.2 Saran. 98DAFTAR PUSTAKALAMPIRAN-LAMPIRANxii

DAFTAR BAGANHalamanBagan 2.1 . 26xiii

DAFTAR TABELHalamanTabel 2.1 .34Tabel 4.1 .43Tabel 4.2 .46Tabel 4.3 .56Tabel 4.4 .59Tabel 4.5 .60Tabel 4.6 .63Tabel 4.7 .67Tabel 4.8 .72Tabel 4.9 .78xiv

DAFTAR LAMPIRANLampiran 1 Lembar Konsultasi Bimbingan Karya Tulis Ilmiah.Lampiran 2 Lembar Informed Consent.Lampiran 3 Lembar Ijin Pelaksanaan Riset Keperawatan.xv

BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangLansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untukmemperatahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan iniberkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatankepekaan secara individual, karena faktor tertentu Lansia tidak dapat memenuhikebutuhan dasarnya baik secara jasmani, rohani maupun sosial. Seseorangdikatakan Lansia ialah apabila berusia 60 tahun atau lebih, Lansia merupakankelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fasekehidupannya. Kelompok yang dikategorikan Lansia ini akan terjadi suatu prosesyang disebut Aging Process atau proses penuaan (Nugroho, 2008). Sedangkanmenurut Undang-Undang No.13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Sosial LanjutUsia, seseorang disebut Lansia bila telah memasuki atau mencapai usia 60 tahunlebih.Laju perkembangan penduduk lanjut usia di dunia termasuk Indonesia saat inimenuju proses penuaan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah dan proporsipenduduk lanjut usia. Besarnya jumlah penduduk Lansia menjadi beban jikaLansia memiliki masalah penurunan kesehatan yang berakibat pada peningkatanbiaya pelayanan kesehatan. Penduduk lanjut usia akan mengalami proses penuaansecara terus menerus dengan ditandai menurunnya daya tahan fisik sehinggarentan terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian (BadanPusat Statistik, 2015).1

2Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan jumlah lanjut usia terbanyakdi dunia. Berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2010, jumlah lanjut usia diIndonesia yaitu 18,1 juta jiwa. Pada tahun 2014, jumlah penduduk lanjut usia diIndonesia menjadi 18,781 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2025, jumlahnyaakan mencapai 36 juta jiwa (Kementerian Kesehatan RI, 2013).Besarnya jumlah penduduk Lansia di Indonesia menjadi beban jika Lansiamemiliki masalah penurunan kesehatan yang berakibat pada peningkatan biayapelayanan kesehatan. Penduduk lanjut usia akan mengalami proses penuaansecara terus menerus dengan ditandai menurunnya daya tahan fisik sehinggarentang terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian (BadanPusat Statistik, 2015).Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai dengan tahapan-tahapanmenurunnya berbagai fungsi organ tubuh, yang ditandai dengan semakinrentannya tubuh terhadap berbagai serangan penyakit. Hal tersebut disebabkanseiring meningkatnya usia terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel,jaringan, serta sistem organ dengan bertambahnya umur, fungsi fisiologismengalami penurunan akibat proses degeneratif (penuaan). Sehingga Lansiarentan terkena infeksi penyakit menular akibat masalah degeneratif menurunkandaya tahan tubuh seperti Tuberkulosis, Diare, Pneumonia dan Hepatitis. Selain itupenyakit tidak menular banyak muncul pada usia lanjut diantaranya Hipertensi,Stroke, Diabetes Melitus dan radang sendi atau Asam Urat. Perubahan tersebutpada umumnya mengaruh pada kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang padaakhirnya akan berpengaruh pada ekonomi dan sosial Lansia. Sehingga secara

3umum akan berpengaruh pada activity of daily living (Kementerian Kesehatan RI,2013; Sunaryo, 2016).Penyakit Asam Urat atau dalam dunia medis disebut penyakit Gout Arthritisadalah penyakit sendi yang yang diakibatkan oleh gangguan metabolisme Purinyang ditandai dengan tingginya kadar Asam Urat dalam darah. Kadar Asam Uratyang tinggi dalam darah melebihi batas normal dapat menyebabkan penumpukanAsam Urat di dalam persendian dan organ tubuh lainnya. Penumpukan Asam Uratini yang membuat sendi sakit, nyeri, dan meradang. Apabila kadar Asam Uratdalam darah terus meningkat menyebabkan penderita penyakit ini tidak bisaberjalan, penumpukan Kristal Asam Urat berupa Tofi pada sendi dan jaringansekitarnya, persendian terasa sangat sakit jika berjalan dan dapat mengalamikerusakan pada sendi bahkan sampai menimbulkan kecacatan sendi danmengganggu aktifitas penderitanya (Susanto, 2013).Angka kejadian Gout Arthritis pada tahun 2016 yang dilaporkan oleh WorldHealth Organization (WHO) adalah mencapai 20% dari penduduk dunia adalahmereka yang berusia 55 tahun, prevalensi penyakit Gout Arthritis adalah 24,7%prevalensi yang didiagnosa oleh tenaga kesehatan lebih tinggi perempuan 13,4%dibanding laki-laki 10,3%.Menurut Word Health Organization (WHO) pada tahun 2013 sebesar 81%penderita Gout Arthritis di Indonesia hanya 24% yang pergi ke dokter, sedangkan71% cenderung langsung mengkonsumsi obat pereda nyeri yang dijual secarabebas. Sedangkan menurut Riskesdas (2013) menunjukkan bahwa penyakit GoutArthritis di Indonesia yang diagnosis tenaga kesehatan sebesar 11.9% dan

4berdasarkan diagnosis dan gejala sebesar 24.7%, sedangkan berdasarkan daerahdiagnosis tenaga kesehatan tertinggi di Nusa Tenggara Timur 33,1%, diikuti JawaBarat 32,1% dan Bali 30%.Menurut Kabupaten/Kota, prevalensi penyakit Gout Arthritis di KalimantanTimur berkisar antara 16,1% - 37,6%, Samarinda menduduki nomor sembilan(22,1%) dan prevalensi di Penajam Paser Utara ditemukan lebih tinggidibandingkan Kabupaten/Kota lainya (37,6%), sebaliknya Balikpapan (16,1%)mempunyai prevalensi paling rendah, sementara prevalensi penyakit GoutArthritis yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan berkisar antara 6,5% 23,9% (Kemenkes, mahasiswaD-IIIKeperawatan Poltekkes Kaltim pada tanggal 19 November 2018 di Panti SosialTresna Werdha Nirwana Puri Samarinda didapatkan jumlah total Lansia adalah 84orang Lansia yaitu terdiri dari 40 orang perempuan dan 44 orang laki-laki.Rentang usia sekitar 60-110 tahun dengan 8 orang diantaranya mengalami GoutArthritis, dengan gejala pada umumnya nyeri pada bagian sendi dan menjalarsehingga mengganggu aktifitas Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha NirwanaPuri Samarinda.Pada umumnya penderita Gout Arthritis memiliki tanda dan gejala peradanganpada sendi dan jaringan sekitar yang menyebabkan nyeri hebat pada saat pagi hari.Menurut Andarmoyo (2013) nyeri adalah pengalaman sensori dan emosi yangtidak menyenangkan dimana berhubungan dengan kerusakan jaringan yang aktualatau potensial saat terjadi kerusakan jaringan.

5Perawatan Lansia dengan Gout Arthritis perlu dilakukan agar tidak semakinmemburuk serta tidak muncul komplikasi yang sebenarnya masih dapat dicegah.Tindakan farmakologis untuk perawatan Gout Arthritis diantaranya adalahmenkonsumsi obat-obatan seperti Allopuriniol yang berguna untuk menurunkankadar Asam Urat dan tindakan non farmakologi seperti kompres hangat untukmeringankan rasa nyeri dan Inflamasi.Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk membuat karya tulisilmiah dengan judul “Asuhan keperawatan pada Lansia dengan Gout Arthritis diPanti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda”.1.2. Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang masalah di atas penulis dapat merumuskan masalahsebagai berikut : Bagaimanakah asuhan keperawatan Lansia dengan Gout Arhritisdi Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda.1.3. Tujuan Penulisan1.3.1. Tujuan UmumTujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untukmengetahui tentang pengelolaan asuhan keperawatan pada Lansia dengan amarinda.

61.3.2. Tujuan KhususTujuan khusus dalam penulisan ini adalah diperolehnya gambaran asuhankeperawatan yang meliputi:1) Pengkajian asuhan keperawatan pada Lansia dengan Gout Arthritis di PantiSosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda.2) Merumuskan diagnosa keperawatan terkait masalah keperawatan yang dialamiLansia dengan Gout Arthritis di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana PuriSamarinda.3) Menyusun perencanaan asuhan keperawatan pada Lansia dengan Gout Artritisdi Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda.4) Melakukan pelaksanaan asuhan keperawatan terkait masalahkeperawatanpada Lansia dengan Gout Arthritis di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana PuriSamarinda.5) Melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada Lansia dengan Gout Arthritis diPanti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda.1.4 Manfaat Penulisan1.4.1 Teoritis1) Bagi Institusi PendidikanHasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan atau sumberinformasi serta dasar pengetahuan bagi mahasiswa keperawatan tentang asuhankeperawatan Gerontik dengan kasus Gout Arthritis.

72) Bagi Penulis SelanjutnyaHasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi landasan yang kuat untuk penulispenulis berikutnya, khususnya yang menyangkut topik asuhan keperawatanGerontik dengan Gout Arthritis.1.4.2 Praktisi1) Bagi Penulis SelanjutnyaHasil studi kasus ini diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup jelaskepada penulis selanjutnya dan menambahkan wawasan dalam asuhankeperawatan Gerontik dengan Gout Arthritis.2) Bagi Tempat Pelaksanaan Studi KasusDengan penulisan karya tulis ilmiah ini, diharapkan dapat menambah bacaanuntuk meningkatkan mutu pelayanan yang lebih baik, khususnya pada Lansiadengan Gout Arthritis di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda.3) Bagi Perkembangan Ilmu KeperawatanKarya tulis ilmiah ini diharapkan dapat memberi kontribusi dalam pengembanganilmu keperawatan khususnya dalam bidang keperawatan Gerontik dalampemberian asuhan keperawatan pada Lansia dengan Gout Arthritis.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Konsep Lanjut Usia2.1.1 Definisi Lanjut UsiaLanjut usia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untukmemperatahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan iniberkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatankepekaan secara individual, karena faktor tertentu Lansia tidak dapat memenuhikebutuhan dasarnya baik secara jasmani, rohani maupun sosial. Seseorangdikatakan Lansia ialah apabila berusia 60 tahun atau lebih, Lansia merupakankelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fasekehidupannya. Kelompok yang dikategorikan Lansia ini akan terjadi suatu prosesyang disebut Aging Process atau proses penuaan (Nugroho, 2008).2.1.2 Batasan Lanjut UsiaMenurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan Lansia menjadiempat, yaitu usia pertengahan (middle age) adalah 45-59 tahun, lanjut usia(elderly) adalah 60-74 tahun. lanjut usia tua (old) adalah 75-90, usia sangat tua(very old) adalah diatas 90 tahun. Sedangkan menurut Undang-Undang No.13Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia, seseorang disebut Lansiabila telah memasuki atau mencapai usia 60 tahun lebih (Nugroho, 2008).8

92.1.3 Tipe Lanjut UsiaMenurut Nugroho (2008) lanjut usia dapat pula dikelompokan dalam beberapatipe yang bergantung pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik,mental, sosial, dan ekonominya. Tipe ini antara lain:1) Tipe Optimis: lanjut usia santai dan periang, penyesuaian cukup baik, merekamemandang masa lanjut usia dalam bentuk bebas dari tanggung jawab dansebagai kesempatan untuk menuruti kebutuhan pasifnya.2) Tipe Konstruktif: lanjut usia ini mempunyai integritas baik, dapat menikmatihidup, memiliki toleransi yang tinggi, humoristik, fleksibel, dan tahu diri.Biasanya, sifat ini terlihat sejak muda. Mereka dengan tenang menghadapi prosesmenua.3) Tipe Ketergantungan: lanjut usia ini masih dapat diterima di tengahmasyarakat, tetapi selalu pasif, tidak berambisi, masih tahu diri, tidak mempunyaiinisiatif dan bila bertindak yang tidak praktis. Ia senang pensiun, tidak sukabekerja, dan senang berlibur, banyak makan, dan banyak minum.4) Tipe Defensif: lanjut usia biasanya sebelumnya mempunyai riwayatpekerjaan/jabatan yang tidak stabil, bersifat selalu menolak bantuan, emosi seringtidak terkontrol, memegang teguh kebiasaan, bersifat konpultif aktif, danmenyenangi masa pensiun.5) Tipe Militan dan serius: lanjut usia yang tidak mudah menyerah, serius, senangberjuang, bisa menjadi panutan.

106) Tipe Pemarah: lanjut usia yang pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung,selalu menyalahkan orang lain, menunjukan penyesuaian yang buruk. Lanjut usiasering mengekspresikan kepahitan hidupnya.7) Tipe Bermusuhan: lanjut usia yang selalu menganggap orang lain yangmenyebabkan kegagalan, selalu mengeluh, bersifat agresif, dan curiga. Biasanya,pekerjaan saat ia muda tidak stabil. Menganggap menjadi tua itu bukan hal yangbaik, takut mati, iri hati pada orang yang muda, senang mengadu masalahpekerjaan, dan aktif menghindari masa yang buruk.8) Tipe Putus asa, membenci dan menyalahkan diri sendiri: lanjut usia ini bersifatkritis dan menyalahkan diri sendiri, tidak mempunyai ambisi, mengalamipenurunan sosial-ekonomi, tidak dapat menyesuaiakan diri. Lanjut usia tidakhanya mengalami kemarahan, tetapi juga depresi, memandang lanjut usia sebagaitidak berguna karena masa yang tidak menarik. Biasanya perkawinan tidakbahagia, merasa menjadi korban keadaan, membenci diri sendiri, dan ingin cepatmati.Perawat perlu mengenal tipe lanjut usia sehingga dapat menghindari kesalahanatau kekeliruan dalam melaksanakan pendekatan asuhan keperawatan. Tentu sajatipe tersebut hanya suatu pedoman umum dalam praktiknya, berbagai variasidapat ditemukan.

112.1.4 Proses Penuaan dan Perubahan yang Terjadi pada LansiaProses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan, yaitumasa anak, masa dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari oleh setiapindividu. Pertambahan usia akan menimbulkan perubahan-perubahan padastruktur dan fisiologis dari berbagai sel/jaringan/organ dan sistem yang ada padatubuh manusia. Proses ini menjadi kemunduran fisik maupun psikis. Kemunduranfisik ditandai dengan kulit mengendur, rambut memutih, penurunan pendengaran,penglihatan memburuk, gerakan lambat, dan kelaianan berbagai fungsi organvital. Sedangkan kemunduran psikis terjadi peningkatan sensitivitas emosional,penurunan gairah, bertambahnya minat terhadap diri, berkurangnya minatterhadap penampilan, meningkatkan minat terhadap material, dan minat kegiatanrekreasi tidak berubah (hanya orientasi dan subyek saja yang berbeda) (Mubarak,2009).Namun, hal di atas tidak menimbulkan penyakit. Oleh karena itu, Lansia harussenantiasa berada dalam kondisi sehat, yang diartikan sebagai kondisi :1) Bebas dari penyakit fisik, mental, dan sosial.2) Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.3) Mendapatkan dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat.Adapun dua proses penuaan, yaitu penuaan secara primer dan penuaan secarasekunder. Penuaan primer akan terjadi bila terdapat perubahan pada tingkat sel,sedangkan penuaan sekunder merupakan proses penuaan akibat faktor lingkunganfisik dan sosial, stres fisik/psikis, serta gaya hidup dan diet dapat mempercepatproses penuaan (Mubarak, 2009).

122.1.5 Masalah yang Terjadi pada LansiaMenurut Mubarak (2009), terdapat beberapa permasalahan yang sering dialamioleh seseorang yang telah memasuki masa lanjut usia, antara lain:1) Perubahan Perilaku, pada Lansia sering dijumpai terjadinya perubahanperilaku, di antaranya : daya ingat menurun, pelupa, sering menarik diri, adakecenderungan penurunan merawat diri, timbulnya kecemasan karena dirinyasudah tidak menarik lagi, dan Lansia sering menyebabkan sensitivitas emosionalseseorang yang akhirnya menjadi sumber banyak masalah.2) Perubahan Psikososi

karya tulis ilmiah asuhan keperawatan pada lansia dengan gout arthritis di panti sosial tresna werdha nirwana puri samarinda oleh : nurul hidayah