Transcription

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan PesisirBadan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan PerikananKementerian Kelautan dan PerikananISSN 1907-0659IDENTIFIKASI AKUIFER AIRTANAH DI PELABUHAN PERIKANANSAMUDRA (PPS) BUNGUS, SUMATRA BARATDino Gunawan Pryambodo & Nasir SudirmanSUHU EFEKTIF SEKITAR SELAT SUNDA BULAN JANUARIDAN JULI 2014 BERDASARKAN ALBEDO DARI DATA SENSORMODISDanang Eko Nuryanto, Herlina Ika Ratnawati, Slamet Supriyadi,Ahmad Bey & Rahmat HidayatIDENTIFIKASI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI PESISIRTELUK SALEH, KABUPATEN SUMBAWA TAHUN 2004-2014Yulius & ArdiansyahPeta suhu efektif tanpa atmosfer pada tanggal 1Januari 2014.ESTIMASI KETEBALAN PASIR LAUT DI PERAIRAN UTARAKABUPATEN SERANG – BANTEN MENGGUNAKAN SUBBOTTOM PROFILERJoko Prihantono, M. Hasanudin, Dino Gunawan, Rainer A. Troa, EkoTriarso, Lestari C. Dewi & Ira DilleniaKARAKTERISTIK DAN VARIABILITAS EDDY DI SAMUDERAHINDIA SELATAN JAWAWidodo S. Pranowo, Armyanda Tussadiah, Mega L. Syamsuddin,Noir P. Purba & Indah RiyantiniANALISIS TEKNO-EKOLOGIS UNTUK SISTEM ADAPTASIBANJIR ROB DI KAWASAN PERKOTAAN PESISIR UTARAJAKARTADede Yuliadi, Eriyatno, M. Yanuar J.Purwanto & I Wayan NurjayaJ. SegaraVolume 12Nomor 3Hal. 121 - 177JakartaDesember 2016p-ISSN 1907-0659e-ISSN 2461-1166

ISSN 1907-0659VOLUME 12 NO.3 DESEMBER 2016Nomor Akreditasi: 766/AU3/P2MI-LIPI/10/2016(Periode Oktober 2016 - Oktober 2021)Jurnal SEGARA adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir, Badan Penelitiandan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidangkelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya nonhayati, energi, arkeologibawah air dan lingkungan. Naskah yang dimuat dalam jurnal ini terutama berasal dari hasil penelitian maupun kajian konseptual yangberkaitan dengan kelautan Indonesia, yang dilakukan oleh para peneliti, akademisi, mahasiswa, maupun pemerhati permasalahankelautan baik dari dalam dan luar negeri. Terbit pertama kali tahun 2005 dengan frekuensi terbit dua kali dalam satu tahun.Penanggung Jawab (Director of Research and Development Center for Marine and Coastal Resources)Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan PesisirPemimpin Redaksi (Editor-in-chief)Prof. Dr. Ngurah N. Wiadnyana (Oseanografi) - KKPDewan Editor (Members of the Editorial Board)Dr. Sugiarta Wirasantosa (Kebumian) - KKPDr. I Wayan Nurjaya (Oseanografi) - IPBDr. Poempida Hidayatulloh, B.Eng. Ph.D, DIC (Teknik Instrumentasi) - Universitas Mercu BuanaDr.-Ing. Widodo Setiyo Pranowo (Oseanografi) - KKPDr. Irsan S. Brodjonegoro (Teknik Kelautan) - ITBProf. Dr.rer.nat. Edvin Aldrian (Meteorologi Klimatologi) - BMKGDr. Andreas A. Hutahean, M.Sc. (Biogeokimia Laut & Oseanografi Kimia) - KKPDr. Khairul Amri (Sumberdaya dan Lingkungan) - KKPRedaksi Pelaksana (Executive Editor)Edy Pramono Sucipto, SE. (Ekonomi) - KKPTheresia Lolita N,M.Si. (Komunikasi) - KKPLestari Cendikia Dewi, M.Si. (Geologi & Geofisika) - KKPSekretariat Redaksi (Secretariat Staff)Peter Mangindaan, M.Si (Sumber Daya Pesisir) - KKPJoko Subandriyo, S.T (Teknik Elektro) - KKPDesign GrafisDani Saepuloh, A.Md. (Teknik Informatika) - KKPMitra Bestari Edisi ini (Peer Reviewer)Dr. Bambang Sukresno (Oseanografi) - KKPDr. Ir. Yan Rizal R., Dipl. Geol. (Geologi Lingkungan) - ITBRedaksi Jurnal Ilmiah Segara bertempat di Kantor Pusat Balitbang Kelautan dan PerikananAlamat: JL. Pasir Putih I Ancol Timur Jakarta Utara 14430Telpon: 021 - 6471-1583Faksimili: 021 - 6471-1654E-mail: [email protected]: http://p3sdlp.litbang.kkp.go.id/segaraJurnal Segara Volume 12 No. 3 Desember 2016 diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan PesisirTahun Anggaran 2016

ISSN 1907-0659VOLUME 12 NO.3 DESEMBER 2016Mitra BestariDr.-Ing.Widjo Kongko, M.Eng. (Teknik Pantai, Teknik Gempa/Tsunami) - BPPTDr. Haryadi Permana (Geologi-Tektonik) - LIPIIr. Suhari, M.Sc (Pusat Sumberdaya Air Tanah dan Lingkungan) - KESDMDr. I. Nyoman Radiarta (Lingkungan, SIG dan Remote Sensing) - KKPDr. Makhfud Efendy (Teknologi Kelautan) - UNIVERSITAS TRUNOJOYODr. Ir Munasik, M.Sc (Oseanografi Biologi) - UNDIPDr. rer. nat. Mutiara Rachmat Putri (Oseanografi Fisika) - ITBDr. Ivonne M. Radjawane, M.Si., Ph.D. (Oseanografi Pemodelan) - ITBDr. Ir. Ario Damar, M.Si. (Ekologi Laut) - IPBProf. Dr. Rosmawaty Peranginangin (Pasca Panen Perikanan) - KKPProf. Dr. Safwan Hadi (Oseanografi) - ITBProf. Dr. Hasanuddin Z. Abiddin (Geodesi dan Geomatika) - ITBDr. Ir. Yan Rizal R., Dipl. Geol. (Geologi Lingkungan) - ITBIr. Tjoek Aziz Soeprapto, M.Sc (Geologi) - KESDMLili Sarmili, M.Sc. (Geologi Kelautan) - KESDMDr. Nani Hendiarti (Penginderaan Jauh Kelautan dan Pesisir) - BPPTProf. Dr. Cecep Kusmana (Ekologi dan Silvikultur Mangrove) - IPBDr. Agus Supangat, DEA (Oseanografi) - DNPIDr. Wahyu Widodo Pandoe (Oseanografi) - BPPTDr. Hamzah Latief (Tsunami) - ITBDr. Herryal Zoelkarnaen Anwar, M.Eng. (Manajemen Resiko Bencana) - LIPIDr. Ir. Sam Wouthuyzen, M.Sc. (Oseanografi Perikanan) - LIPIProf. Dr. Wahyoe S. Hantoro (Geologi Kelautan, Geoteknologi) - LIPIDr. rer.nat. Rokhis Khamarudin (Penginderaan Jauh Kelautan) - LAPANYudhicara, M.Sc. (Sedimentologi Kelautan) - KESDMNoir Primadona Purba, M.Si. (Oseanografi) - UNPADDr. Fadli Syamsudin (Oseanografi) - BPPTProf. Dr. Ir. Bangun Mulyo Sukojo (Geodesi, Geomatika, Remote Sensing, GIS) - ITSDr.rer.nat. Rina Zurida (Paleoklimat, Paleoseanografi, Paleoenvironment) - KESDMProf. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc. (Oseanografi Fisika) - UNSRIRedaksi Jurnal Ilmiah Segara bertempat di Kantor Pusat Balitbang Kelautan dan PerikananAlamat: JL. Pasir Putih I Ancol Timur Jakarta Utara 14430Telpon: 021 - 6471-1583Faksimili: 021 - 6471-1654E-mail: [email protected]: http://p3sdlp.litbang.kkp.go.id/segaraJurnal Segara Volume 12 No. 3 Desember 2016 diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan PesisirTahun Anggaran 2016

ISSN 1907-0659Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan PesisirBadan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan PerikananKementerian Kelautan dan PerikananVolume 12 Nomor 3 Desember 2016Hal. 121 - 177IDENTIFIKASI AKUIFER AIRTANAH DI PELABUHAN PERIKANANSAMUDRA (PPS) BUNGUS, SUMATRA BARATDino Gunawan Pryambodo & Nasir SudirmanSUHU EFEKTIF SEKITAR SELAT SUNDA BULAN JANUARI DANJULI 2014 BERDASARKAN ALBEDO DARI DATA SENSOR MODISDanang Eko Nuryanto, Herlina Ika Ratnawati, Slamet Supriyadi, AhmadBey & Rahmat HidayatIDENTIFIKASI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI PESISIR TELUKSALEH, KABUPATEN SUMBAWA TAHUN 2004-2014Yulius & ArdiansyahESTIMASI KETEBALAN PASIR LAUT DI PERAIRAN UTARAKABUPATEN SERANG – BANTEN MENGGUNAKAN SUB BOTTOMPROFILERJoko Prihantono, M. Hasanudin, Dino Gunawan, Rainer A. Troa, EkoTriarso, Lestari C. Dewi & Ira DilleniaKARAKTERISTIK DAN VARIABILITAS EDDY DI SAMUDERA HINDIASELATAN JAWAWidodo S. Pranowo, Armyanda Tussadiah, Mega L. Syamsuddin, NoirP. Purba & Indah RiyantiniANALISIS TEKNO-EKOLOGIS UNTUK SISTEM ADAPTASI BANJIRROB DI KAWASAN PERKOTAAN PESISIR UTARA JAKARTADede Yuliadi, Eriyatno, M. Yanuar J.Purwanto & I Wayan Nurjaya

PENGANTAR REDAKSIJurnal Segara adalah publikasi ilmiah yang diterbitkan dan didanai oleh Pusat Penelitian danPengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan danPerikanan.Jurnal Segara pada Tahun 2016 untuk pertama kalinya meningkatkan jumlah terbitannya menjadi3 (tiga) terbitan. Jurnal Segara Volume 12 No. 3 Desember 2016 merupakan terbitan ketiga TahunAnggaran 2016,. Naskah yang dimuat dalam Jurnal Segara berasal dari hasil penelitian maupunkajian konseptual yang berkaitan dengan kelautan Indonesia, yang dilakukan oleh para peneliti,akademis, mahasiswa, maupun pemerhati permasalahan kelautan dari dalam dan luar negeri.Pada nomor ke tiga 2016, jurnal ini menampilkan 6 artikel ilmiah hasil penelitian tentang:Identifikasi Akuifer Airtanah Di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Bungus, Sumatra Barat; SuhuEfektif Sekitar Selat Sunda Bulan Januari dan Juli 2014 berdasarkan Albedo dari Data Sensor Modis;Identifikasi Perubahan Tutupan Lahan di Pesisir Teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa Tahun 20042014; Estimasi Ketebalan Pasir Laut di Perairan Utara Kabupaten Serang – Banten MenggunakanSub Bottom Profiler; Karakteristik dan Variabilitas Eddy di Samudera Hindia Selatan Jawa; AnalisisTekno-Ekologis Untuk Sistem Adaptasi Banjir Rob di Kawasan Perkotaan Pesisir Utara Jakarta;Diharapkan karya tulis ilmiah yang disajikan pada nomor ini dapat memberikan kontribusi bagipengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kelautan Indonesia. Akhir kata, Redaksimengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas partisipasi aktif peneliti dalam mengisi jurnalini dan para mitra bestari atas koreksian dan masukan ilmiah untuk penyempurnaan naskah yangditerbitkan pada jurnal segara.REDAKSIi

ISSN 1907-0659Volume 12 Nomor 3 DESEMBER 2016DAFTAR ISIHalamanKATA PENGANTAR .iDAFTAR ISI .iiIdentifikasi Akuifer Airtanah Di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Bungus, SumatraBaratDino Gunawan Pryambodo & Nasir Sudirman .121-127Suhu Efektif Sekitar Selat Sunda Bulan Januari dan Juli 2014 berdasarkan Albedo dari DataSensor ModisDanang Eko Nuryanto, Herlina Ika Ratnawati, Slamet Supriyadi, Ahmad Bey & Rahmat Hidayat .129-137Identifikasi Perubahan Tutupan Lahan di Pesisir Teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa Tahun2004-2014Yulius & Ardiansyah .139-147Estimasi Ketebalan Pasir Laut di Perairan Utara Kabupaten Serang – Banten MenggunakanSub Bottom ProfilerJoko Prihantono, M. Hasanudin, Dino Gunawan, Rainer A. Troa, Eko Triarso, Lestari C. Dewi & IraDillenia .149-157Karakteristik dan Variabilitas Eddy di Samudera Hindia Selatan JawaWidodo S. Pranowo, Armyanda Tussadiah, Mega L. Syamsuddin, Noir P. Purba & Indah Riyantini .159-165Analisis Tekno-Ekologis Untuk Sistem Adaptasi Banjir Rob di Kawasan Perkotaan PesisirUtara JakartaDede Yuliadi, Eriyatno, M. Yanuar J.Purwanto & I Wayan Nurjaya .167-177ii

J. Segara Vol.12 No.3 Desember 2016: 159-165JURNAL SEGARAhttp://p3sdlp.litbang.kkp.go.id/segarap-ISSN : 1907-0659e-ISSN : 2461-1166Accreditation Number: 766/AU3/P2MI-LIPI/10/2016KARAKTERISTIK DAN VARIABILITAS EDDY DI SAMUDERA HINDIA SELATAN JAWAWidodo S. Pranowo1),3), Armyanda Tussadiah1), Mega L. Syamsuddin2),Noir P. Purba2) & Indah Riyantini2)1)Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan PesisirKomplek Bina Samudera Jl. Pasir Putih II Lantai 4, Ancol Timur, Jakarta Utara 144302)Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas PadjadjaranJl. Raya Bandung-Sumedang Km. 21 Jatinangor, Bandung UBR 406003)Program Studi Hidrografi, Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan LautKomplek Bina Samudera Jl. Pantai Kuta V, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430Diterima tanggal: 6 Februari 2016; Diterima setelah perbaikan: 28 Nopmeber 2016; Disetujui terbit tanggal 30 Nopember 2016ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variabilitas eddy, serta karakteristik suhu dan Tinggi Permukaan Laut (TPL) di titikpusat eddy. Wilayah kajian dari penelitian ini adalah Samudera Hindia Selatan Jawa dengan koordinat 0o – 20o LS dan 90o - 120o BT. Datayang digunakan adalah data arus yang terdiri dari komponen U dan V, serta data suhu dari model NEMO pada 2014. Metode yang digunakandalam pendeteksian eddy ialah menggunakan pendeteksian eddy otomatis atau Automated Eddy Detection (AED). Hasil penelitian inimenunjukkan bahwa sepanjang tahun 2014 banyak ditemukannya eddy pada wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa dan eddy yangdominan terbentuk adalah tipe siklonik eddy. Karakteristik suhu pada titik pusat eddy menunjukkan antara tipe siklonik dan antisiklonik eddytidak memiliki perbedaan yang signifikan. Nilai TPL menunjukkan pada tipe siklonik eddy memiliki nilai yang lebih rendah (0,2 – 0,5 m),sedangkan pada tipe antisiklonik memiliki nilai yang lebih tinggi (0,6 – 0,8 m).Kata kunci: Eddy, Siklonik Eddy, Antisiklonik Eddy, Suhu, TPLABSTRACTThis research was conducted to determine the eddies variability, and the characteristic of temperature and sea surface height in theeddies center. The study area is in Southern Java Indian Ocean with coordinates 0o – 20oS and 90o - 120oE. The sea surface temperature,sea surface current, and sea surface height data 2014 were collected from NEMO model based on INDESO – Project website. By using anAutomated Eddy Detection (AED) the cyclonic and anticyclonic eddies has been investigated. A total of eddies 373 are identified during 2014,and the formation of cyclonic eddies was dominated in the Southern Java Indian Ocean. The temperature characteristic in eddy center showsthat either at cyclonic and anticyclonic eddy does not has a significant differences. Meanwhile, the sea surface height in eddy center showsthat at the cyclonic eddy had a lower value (0.2 – 0.5 m) while at anticyclonic eddy had higher value (0.6 – 0.8 m).Keywords: Eddy, cyclonic eddy, anticyclonic eddy, SST, SSHPENDAHULUANPerairan Samudera Hindia mempunyai sifat yangunik dan kompleks karena dinamika perairannyadipengaruhi oleh sistem angin muson dan sistemangin pasat, tidak seperti perairan Samudera Pasifikdan Atlantik yang hanya dipengaruhi oleh sistem anginpasat saja. Di perairan ini terdapat beberapa fenomenaoseanografi yang mempunyai pengaruh penting tidakhanya dalam masalah oseanografi tetapi juga dalammasalah atmosfer. Fenomena ini antara lain IndianOcean Dipole (IOD), upwelling, Arus KatulistiwaSelatan (AKS), Arus Pantai Jawa (APJ), Arus LintasIndonesia (ARLINDO) dan eddy (Martono et al., 2008).AKS merupakan arus dengan edaran tetap diSamudera Hindia yang mengalir dari barat dayaAustralia dan terjadi sepanjang tahun bergerak ke arahbarat mendekati Madagaskar (Wyrtki, 1961). APJ ataumerupakan arus yang melewati pantai barat Sumatera–selatan Jawa yang terjadi secara semi-tahunan. APJberkembang dengan baik selama bertiup angin musonbarat laut di belahan selatan khatulistiwa. ARLINDOmerupakan arus yang membawa massa air dariCorresponding author:Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara 14430. Email: [email protected] 2016 Jurnal SegaraDOI : http://dx.doi.org/10.15578/segara.v12i3.121159

Karakteristik dan Variabilitas Eddy di Samudera Hindia Selatan Jawa (Pranowo, W.S., et al.)Samudera Pasifik menuju ke Samudera Hindia(Wardani). Arus ini terjadi akibat adanya perbedaantekanan antara kedua lautan tersebut. ARLINDOmemiliki variabilitas baik secara musiman maupuntahunan. ARLINDO memiliki nilai maksimum ketikaMusim Timur, dimana aliran arus dari timur ke baratsearah dengan arah tranpor ARLINDO, sehinggadapat memperkuat arus permukaan dan aliran transporArlindo. Sebaliknya ketika Musim Barat.hingga ikan pelagis besar (Rhines, 2001).METODE PENELITIANData yang digunakan pada penelitian ini berasaldari Model NEMO yang diunduh dari website INDESO.Wilayah kajian penelitian mengambil lokasi di perairanSamudera Hindia Selatan Jawa dengan koordinat 0o –20o LS dan 90o - 120o BT.Eddy merupakan arus melingkar yang terpisah Sumber Datadari arus utamanya, arus ini dapat terbentuk di lautanmana saja dengan skala spasial berkisar antaraParameter yang digunakan dalam pendeteksianpuluhan sampai ratusan kilometer dan skala temporal eddy ialah data arus yang terdiri dari komponen U danberkisar antara mingguan sampai bulanan (Robinson, V, Tinggi Permukaan Laut (TPL), dan suhu pada1983). Menurut Klein & Lapeyre (2015) berdasarkan kedalaman 5 m (permukaan). Ketiga data ini berasalukuran diameter, terdapat dua tipe eddy yaitu dari model NEMO yang diunduh pada website INDESOsubmesoscale eddies dan mesoscale eddies. - Project (www.indeso.web.id) dengan komposit dataBerdasarkan hasil citra satelit diketahui bahwa harian sepanjang tahun 2014.submesoscale eddies memiliki diameter mencapaipuluhan kilometer, sedangkan pada mesoscale eddies Automated Eddy Detection (AED)dapat mencapai 50 – 200 km. Eddy dapat terbentukkarena adanya dua kekuatan utama yaitu gradienAutomated Eddy Detection (AED) merupakantekanan horizontal dan gaya coriolis. Menurut Sell metode pendeteksian eddy yang menggunakan(2002) terdapat dua tipe eddy yaitu siklonik dan parameter komponen arus U (zonal) dan V (merdional).antisiklonik. Pada Belahan Bumi Selatan (BBS) apabila Metode ini merupakan metode yang dikembangkangerakan eddy searah jarum jam maka disebut siklonik oleh Nencioli et al. (2010), dan telah digunakan dalameddy dan jika gerakan eddy berlawanan arah jarum penelitian untuk mendeteksi eddy di Pulau Hawai olehjam maka disebut antisiklonik eddy, sebaliknya pada Dong et al. (2012). Berdasarkan metode AED diketahuiwilayah Belahan Bumi Utara (BBU).bahwa bentuk dari suatu eddy tidak selalu membentuklingkaran namun dapat berbentuk lonjong atau oval,Dalam penentuan eddy dapat dilakukan karena suatu arus dapat dikatakan sebagai eddyberdasarkan parameter suhu dan Tinggi Permukaan apabila arus tersebut melingkar dan bertemu kembaliLaut (TPL). Kedua paremeter ini akan berbeda pada titik awal lingkaran tersebut serta terpisah darikarakteristiknya pada siklonik maupun antisiklonik arus utamanya. Ilustrasi dari terbentuknya eddyeddy. Ketika terbentuknya siklonik eddy, maka akan berdasarkan metode AED dapat dilihat pada Gambarterjadinya pencampuran atau pergantian kolom air 1.antara lapisan bawah dengan lapisan permukaan.Sehingga nutrisi yang berasal dari lapisan bawah akanterangkat ke permukaan dan mendukung kehidupanmelalui rantai makanan dari plankton, ikan-ikan kecil,Gambar 1.160Ilustrasi Pembentukan Eddy.

J. Segara Vol.12 No.3 Desember 2016: 159-165HASIL DAN PEMBAHASANVariabilitas EddyBerdasarkan hasil pengolahan eddy denganmenggunakan metode AED, diketahui bahwasepanjang tahun 2014 pembentukan eddy padawilayah Samudera Hindia Selatan Jawa dapat terlihatdi setiap bulannya. Total tipe eddy yang dominanterbentuk pada wilayah kajian ialah tipe siklonikeddy (192 eddy) dibandingkan tipe antisiklonik eddy(181 eddy). Pembentukan maksimum dan minimumtipe siklonik eddy terdapat pada bulan Februari danNovember. Sedangkan total maksimum dan minimumtipe antisiklonik eddy terdapat pada Februari, Oktoberdan Juni.Gambar 2a merupakan visualisasi eddy padaMaret yang mewakili Musim Barat. Pada bulan inidiketahui bahwa pembentukan eddy mengalamipenurunan dibandingkan Februari (dari 49 menjadi29 eddy). Menurunnya pembentukan eddy ini dapatterjadi karena pada Maret terlihat pada wilayahGambar 2.perairan Barat Daya Sumatra keberadaan APJ mulaimelemah dan terlihat pada bulan ini aliran ARLINDOmengalir lemah pula. Seperti yang dinyatakan olehQuadfasel & Cresswell (1992) dalam Tubalawony(2007) bahwa aliran APJ selama periode Desember –Maret di wilayah perairan Selatan Jawa dan Bali akanbergerak lebih mendekati pantai dengan kecepatanyang tinggi, sedangkan di wilayah perairan BaratSumatra aliran arusnya lemah dan lebih menjauhipantai. Di wilayah perairan Barat Daya Sumatra danSelatan Jawa terbentuk tiga tipe siklonik eddy dengandiameter berkisar antara 70 – 80 km.Gambar 2b merupakan hasil visualisasi eddypada Juni yang mewakili Musim Peralihan I. Diketahuibahwa keberadaan eddy pada Bulan Juni mengalamipenurunan dibandingkan dengan Mei (dari 24 eddymenjadi 20 eddy). Hal ini dapat dilihat pada wilayahperairan Selatan Jawa - Bali hanya terbentuk satusiklonik dan antisiklonik eddy dan memiliki diameteryang kecil. Menurunnya pembentukan eddy padabulan Juni dapat terjadi karena bulan ini merupakanpuncak dari Musim Peralihan I. Selain itu, sistem arusVisualisasi Eddy Tahun 2014a.) Maret, b.) Juni, c.) September, dan d.) Desember161

Karakteristik dan Variabilitas Eddy di Samudera Hindia Selatan Jawa (Pranowo, W.S., et al.)di perairan Selatan Jawa ketika Musim Peralihan inimengalami masa transisi. Selanjutnya pola arus yangterjadi di wilayah perairan Selatan Jawa pada bulanMei sedang berada pada fase yang lemah, sehinggapembentukan eddy akan mengalami penurunan pula.Gambar 2c. merupakan hasil visualisasi eddypada September yang mewakili Musim Timur. Diketahuibahwa pada bulan ini pembentukan baik siklonikmaupun antisiklonik eddy mengalami peningkatandibandingkan dengan Agustus (dengan total dari 28menjadi 34 eddy). Meningkatnya pembentukan eddy inidapat dipengaruhi oleh aliran ARLINDO yang sedangmenguat pada Musim Timur. Hal ini sesuai denganpernyataan Safitri et al. (2012) yang menyatakan bahwaberdasarkan rata-rata musiman diketahui bahwaaliran ARLINDO memiliki intensitas yang lebih tinggipada musim timur dibandingkan dengan musim barat.Selanjutnya tingginya aliran ARLINDO pada bulanini menyebabkan terdorongnya pembentukan eddyke arah selatan. Selain itu, meningkatnya eddy padaMusim Timur dapat terjadi karena adanya pengaruhaliran AKS yang sedang mengalami fase kuat ataudominan pada bulan Agustus-September. Sehinggapada wilayah lintang 14o – 20oLS banyak terjadinyapembentukan eddy terutama tipe submesoscaleakibat adanya ketidakstabilan arus yang terjadi antarapertemuan ARLINDO dan AKS.Gambar 2d merupakan hasil visualisasi eddypada Desember yang mewakili Musim Peralihan II.Diketahui bahwa pada tipe siklonik eddy mengalamipeningkatan dibandingkan dengan November (dari11 menjadi 16 eddy) sedangkan pada tipe antisiklonikeddy mengalami penurunan (dari 20 menjadi 18 eddy).Dapat dilihat pada Gambar 2d di wilayah perairanPantai Selatan Jawa mulai terbentuknya kembalieddy. Pada wilayah ini terbentuk empat siklonik eddydan memiliki diameter yang besar (130 – 200 km).Pembentukan siklonik eddy ini dapat terjadi karenapengaruh dari ketidakstabilan APJ yang kembalimengalir kuat pada bulan Desember dengan aliranAKS. Dimana kedua arus ini, memiliki pergerakan arahyang berbeda, APJ mengalir ke arah timur sedangkanAKS mengalir ke arah barat. Sehingga akibat adanyaperbedaan arah aliran kedua arus inilah yang dapatmenyebabkan terbentuknya siklonik eddy.Berdasarkan hasil pembentukan eddy pada 2014diketahui bahwa terbentuknya eddy pada wilayahPerairan Samudera Hindia Selatan Jawa cenderungdipengaruhi oleh sistem pola arus yang terjadi padawilayah tersebut. Seperti yang dinyatakan oleh Bakun(2006) bahwa pada daerah laut lepas pembentukansuatu eddy lebih dipengaruhi oleh sistem arusyang terjadi pada wilayah perairan tersebut. Polapertemuan sistem arus dapat terjadi secara divergenmaupun konvergen. Terbentuknya tipe siklonik eddy162didominasi oleh pengaruh arus divergensi, sedangkanpembentukan antisiklonik eddy didominasi denganarus konvergensi (Bakun, 2006). Sistem arusdivergensi ialah dimana ketika adanya angin yangmenyebabkan aliran arus permukaan saling bertemukemudian berpencar (berpisah) dan selanjutnya akanmenyebabkan air yang lebih dalam menggantikanposisi air di permukaan (upwelling). Sebaliknya, sistemarus konvergensi ialah dimana ketika adanya anginyang menyebabkan aliran arus permukaan salingbertemu kemudian menyebabkan air di permukaantenggelam ke lapisan bawah (downwelling).Pada tipe siklonik eddy terlihat bahwa keberadaandari tipe ini meningkat pada Februari, dan dominankeberadaan siklonik eddy ini berada di wilayah PerairanPantai Selatan Jawa. Hal ini diduga bahwa keberadaansiklonik eddy terjadi akibat adanya pengaruh dariketidakseimbangan arus yang diakibatkan oleh aliranARLINDO - AKS dan APJ. Dimana arus ini memilikiarah yang berbeda, AKS dan ARLINDO mengalirmenuju ke arah timur sedangkan APJ mengalir menujuke arah barat. Sehingga akibat perbedaan arah aliranarus ini dapat menyebabkan terbentuknya siklonikeddy. Hal ini diperkuat pula oleh pernyataan Zhenget al. (2015) bahwa terbentuknya siklonik eddy padawilayah Samudera Hindia cenderung dipengaruhi olehaliran arus yang terjadi pada wilayah timur SamuderaHindia. Keberadaan maksimum dari antisiklonikeddy terdapat pada bulan Februari dan Oktober.Meningkatnya tipe antisiklonik eddy diduga dipengaruhioleh akibat interaksi antara AKS dan ARLINDO yangmengalir dengan arah yang sama yaitu menuju kearah timur. Selain karena dipengaruhi oleh sistem arus,bertambahnya antisiklonik eddy dapat dipengaruhipula oleh adanya faktor lain yang pada penelitian initidak dijelaskan lebih lanjut seperti angin permukaan,gelombang kelvin dan gelombang rosby. Selanjutnyapenelitian Hanifah et al. (2016) mengemukakan bahwapembentukan siklonik eddy berdasarkan data reratatahunan (1950 – 2013) dominan terbentuk pada wilayahSelatan Jawa. Sedangkan antisiklonik eddy dominanterbentuk di wilayah selatan AKS akibat pengaruh darigelombang rosby.Karakteristik Suhu Pada EddyBerdasarkan hasil pengolahan suhu pada titikpusat eddy diketahui bahwa antara tipe siklonikdengan antisiklonik eddy tidak memiliki perbedaanyang signifikan. Dimana suhu pada titik pusat eddydi kedalaman 5 m tidak menunjukkan terjadinyaupwelling maupun downwelling yang dibangkitkan oleheddy. Hal ini bertolak belakang dengan teori yang ada,dimana menurut Sell (2002) pada wilayah BBS ketikaterbentuknya siklonik eddy maka akan menyebabkanterjadinya upwelling yang ditunjukkan dengan nilaisuhu yang lebih rendah pada permukaan.

J. Segara Vol.12 No.3 Desember 2016: 159-165Berbedanya hasil ini dapat dikarenakan adanya Karakteristik TPL pada Eddyfase lag dari naiknya massa air pada lapisan bawahke permukaan. Hal ini sesuai dengan pernyataanBerdasarkan hasil pengolahan antara eddyPiedeleu et al. (2009) bahwa terdapatnya time lag dengan TPL sepanjang tahun 2014 menunjukkansekitar 10 hari dalam peningkatan suhu eddy ke bahwa ketika terbentuknya siklonik eddy memiliki nilaipermukaan. Sehingga pada nilai antara suhu siklonik TPL yang cenderung lebih rendah pada titik pusat eddydan antisiklonik eddy di kedalaman 5 m (permukaan) dengan rata-rata 0,2 – 0,5 m. Sedangkan pada tipetidak memiliki perbedaan yang signifikan. Selanjutnya antisiklonik eddy memiliki nilai TPL yang cenderunguntuk melihat profil suhu pada titik pusat eddy secara lebih tinggi pada titik pusat dengan rata-rata 0,6 – 0,8vertikal, dilakukan visualisasi cross section pada eddy m. Hal ini dapat terjadi karena pada daerah yangbulan Februari dengan batasan 12o – 14o LS dan mengalami siklonik eddy maka akan terjadi divergensi106o – 108o BT (Gambar 2). Terlihat pada Gambar 2. yang menyebabkan adanya kekosongan massa airbahwa pada lapsisan permukaan tidak terlihat adanya dan rendahnya TPL pada titik pusat eddy (Lutfiyati,indikasi fenomena upwelling, namun pada kedalaman 2013). Sebaliknya pada antisiklonik eddy maka akan100 m mulai terlihat terjadinya kenaikan massa air dari terjadi konvergensi yang menyebabkan menumpuknyalapisan dalam yang ditunjukkan dengan nilai suhu massa air dan tingginya TPL pada titik pusat eddy.Selanjutnya adanya efek Coriolis menyebabkan arahyang lebih rendah.arus menuju keluar pusat eddy pada tipe siklonik danSelanjutnya dapat dilihat dalam Tabel 1, rata- pada tipe antisiklonik menuju kedalam pusat eddyrata nilai suhu pada titik pusat siklonik dan antisiklonik (Bakun, 2006).eddy memiliki perbedaan antar September danNilai TPL tertinggi pada titik pusat eddy terdapatOktober sebesar 1-2oC. Dimana pada suhu siklonikeddy memiliki nilai suhu yang lebih rendah (24,64oC) pada Juli – September, yaitu pada siklonik eddydibandingkan dengan suhu antisiklonik eddy (25,55oC) berkisar 0,57 – 0,6 m dan pada antisiklonik eddypada September. Selanjutnya pada Oktober suhu berkisar 0,61 – 0,76 m. Meningkatnya nilai TPL padasiklonik eddy sebesar 24,83oC sedangkan antisiklonik bulan ini diakibatkan adanya aliran AKS yang mengalireddy sebesar 26,39oC. Hal ini menunjukkan bahwa kuat menuju arah barat Samudera Hindia sampaipada tipe siklonik eddy terjadinya upwelling yang dengan 90o BT. Selanjutnya pada September (Gambardibangkitkan oleh eddy pada September dan Oktober. 3) untuk nilai TPL tipe siklonik eddy mengalamiSelain itu, menurunnya suhu pada siklonik eddy ini penurunan walaupun tidak signifikan dibandingkandapat terjadi karena pada September dan Oktober dengan Agustus (dari 0,55 m menjadi 0,58 m). Namunterjadinya fenomena upwelling dan berada pada fase pada tipe antisiklonik eddy memiliki peningkatan yangkuatnya di wilayah Perairan Selatan Jawa. Seperti cukup signifikan dibandingkan dengan Juni, dimanayang dinyatakan oleh Kunarso et al. (2011) dalam pada Juni nilai TPL berkisar 0,6 – 0,7 m dan padaWardani et al. (2013) bahwa pada perairan Selatan September berkisar 0,6 – 0,83 m. Dapat dilihat padaJawa – Bali nilai SPL menurun pada Juni – Oktober tipe antisiklonik eddy dengan koordinat titik pusatdan intensitas upwelling pada wilayah Selatan Jawa berada pada 113,17o BT dan 14,42o LS memiliki nilaimencapai puncaknya pada Musim Timur – Peralihan II TPL sebesar 0,83 m.(Susanto et al., 2001).Gambar 3.Visualisasi Vertikal Suhu Titik Pusat Siklonik Eddy.163

Karakteristik dan Variabilitas Eddy di Samudera Hindia Selatan Jawa (Pranowo, W.S., et al.)Tabel 1.Rata-rata Suhu pada Titik Pusat EddyBulan Suhu (oC)Siklonik EddyAntisiklonik EddyJanuari28,1628,15Februari 28,44 28,33Maret28,8729,69April 28,91 tus25,3825,19September24,6425,55Oktober 24,83 26,39November26,6027,02Desember28,0728,09Gambar 4.Overlay Eddy dan TPL pada September.KESIMPULANPERSANTUNANPembentukan eddy pada wilayah PerairanSamudera Hindia Selatan Jawa pada tahun 2014didominasi oleh tipe siklonik eddy (192 eddy)dibandingkan dengan tipe antisiklonik eddy (181eddy). Pembentukan tipe siklonik eddy di SamuderaHindia Selatan Jawa cenderung dipengaruhi olehketidakstabilan arus yang terjadi pad

dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya