Transcription

KUMPULAN MAKALAH FILSAFAT ILMUDipresentasikan pada Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat IlmuPada Program Magister (S2)Oleh :Panji Syahid RahmanChusnul Chatimah Asmad HaruddiAsril SapliNur ArifinAndi Muhammad AminullahRahmat AliAbd. RizalIndah BinarniFitratul MubaraqAbustan NurDosen Pemandu:Prof. Dr. Saleh Tajuddin, M.A. Ph.DDr. Abdullah, M.Ag.PROGRAM PASCASARJANAUNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR2018

DAFTAR ISIHALAMAN JUDUL .iKATA PENGANTAR .iiDAFTAR ISI .iiiA. Filsafat Rasionalisme .1B. Teori Epistemologi Empirisme .18C. Teori Filsafat Positivisme .29D. Filsafat Ilmu : Epistemologi Modernisme Dan EpistemologiPostmodernisme .43E. Filsafat Epistemologi Fenomenologi .62F. Filsafat Ilmu (Epistemologi Intuisionisme) .72G. Tentang Kebenaran Absolutisme Dan Relativisme .88H. Membangun Paradigma Sains Islam .106I. Petunjuk Islam Tentang Ilmu Pengetahuan.122J. Dasar-Dasar Ilmu Ontologi, Epistemologi, Dan Aksiologi .151K. Pemikiran tentang Islamisasi Ilmu

KATA PENGANTARAssalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu!Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat-Nya, sehingga penulisdapat menyelesaikan tugas makalah Filsafat Ilmu tepat pada waktunya. Shalawatserta salam juga semoga selalu tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW, sangmanajer sejati Islam yang selalu becahaya dalam sejarah hingga saat ini.Dalam pembuatan makalah ini, tentu tak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada Dosen Pengampu yang telah membimbing penulis selama ini. Tentunyamakalah ini, masih jauh dari kesempurnaan. Olehnya itu penulis senantiasamengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga makalah ini bermanfaatbagi kita semua. Amiin Yaa Robbal „Aalamiin.Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu!Makassar, 05 Agustus 2018Penulisiii

FILSAFAT RASIONALISMEMakalahDipresentasikan dalam Seminar Kelas Mata kuliah Filsafat IlmuOlehPanji Syahid RahmanDosen Pemandu:Prof. Dr. Saleh Tajuddin, M.A. Ph.DDr. Abdullah, M.Ag.PASCASARJANAUIN ALAUDDIN MAKASSAR20184

BAB IPENDAHULUANA.Latar BelakangManusia pada dasarnya adalah makhluk pencari kebenaran. Manusia tidakpernah puas dengan apa yang sudah ada, tetapi selalu mencari dan mencari kebenaranyang sesungguhnya dengan bertanya-tanya untuk mendapatkan jawaban. Namunsetiap jawaban-jawaban tersebut juga selalu memuaskan manusia. Ia harusmengujinya dengan metode tertentu untuk mengukur apakah yang dimaksud disinibukanlah kebenaran yang bersifat semu, tetapi kebenaran yang bersifat ilmiah yaitukebenaran yang bisa diukur dengan cara-cara ilmiah.Perkembangan pengetahuan yang semakin pesat sekarang ini, tidaklahmenjadikan manusia berhenti untuk mencari kebenaran. Justru sebaliknya, semakinmenggiatkan manusia untuk terus mencari dan mencari kebenaran yang berlandaskanteori-teori yang sudah ada sebelumnya untuk menguji sesuatu teori baru ataumenggugurkan teori sebelumnya. Sehingga manusia sekarang lebih giat lagimelakukan penelitian-penelitian yang bersifat ilmiah untuk mencari solusi dari setiappermasalahan yang dihadapinya. Karena itu bersifat statis, tidak kaku, artinya iatidak akan berhenti pada satu titik, tapi akan terus berlangsung seiring dengan waktumanusia dalam memenuhi rasa keingintahuannya terhadap dunia.Untuk itulah setiap manusia harus dapat berfikir filosofis dalam menghadapisegala realitas kehidupan ini yang menjadkan filsafat harus dipelajari. Filsafatmerupakan sebuah disiplin ilmu yang terkait dengan perihal kebijaksanaan.Kebijaksanaan merupakan titik ideal dalam kehidupan manusia, karena ia dapatmenjadikan manusia untuk bersikap dan bertindak atas dasar pertimbangankemanusiaan yang tinggi (actus humanus), bukan asal bertindak sabagaimana yangbiasa dilakukan manusia (actus homoni). Kebijaksanaan tidaklah dapat dicapaidengan jalan biasa, ia memerlukan langkah-langkah tertenu, khusus, istimewa.Beberapa langkah menuju kea rah kebijaksanaan itu antara lain: 1) membiasakan diriuntuk bersikap kritis terhadap kepercayaan dan sikap yang selama ini sangat kita1

2junjung tinggi, 2) Berusaha untuk memadukan (sintesis) hasil bermacam-macamsains dan pengalaman kemanusian, sehingga menjadi pandangan yang konsistententang alam semesta beserta isinya, 3) mempelajari dan mencermati jalan pemikiranpara filsuf dan meletakkannya sebagai pisau analisis untuk memecahkan masalahkehidupan yang berkembang dalam kehidupan konkrit, sejauh pemikiran itu memangrelevan dengan situasi yang kita hadapi, 4) menelusuri hikmah yang terkandungdalam ajaran agama, sebab agama merupakan sumber kebijaksanaan hidup manusia. 1Pengetahuan dalam filsafat dibahas dalam epistemologi. Dari epistemologi,lahirlah dua madzhab besar sumber pengetahuan yang sangat terkenal, yaiturasionalisme dan empirisme. Dalam tulisan ini, secara panjang akan diuraikanmadzhab yang pertama, yakni rasionalisme. Latar belakang munculnya rasionalismeadalah adanya keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikirantradisional(scholastic), yang pernah diterima, tetapi ternyata tidak mampu mengenaihasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Pada tokoh aliran Rasionalismediantaranya adalah Descartes (1596- 1650 M). Tema yang kerap kali muncul dalamfilsafat adalah hubungan antara pikiran kita dan dunia. Yakni para filosof yangpandangannya saling berbeda, Descartes dan John Locke, telah setuju bahwa alampikiran kitalah yang membedakan manusia dari binatang, dan sebagian besar filsafatberkaisar pada persoalan yang muncul didalam fikiran yang demikian itu ketikamereka memikirkan bagaimana wilayah pemikiran itu berkerjaAliran filsafat yang berasal dari Descartes ini di sebut dengan rasionalisme,karena aliran ini sangat mementingkan rasio. Dalam rasio terdapat ide-ide dengan ituorang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas di luarrasio. Dalam memahami aliran rasionalisme, kita harus memerhatikan 2 masalah1Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), Cet.1, h. 1-2.

3utama yang keduanya di warisi dari Descartes. Pertama, masalah substansidan kedua masalah hubungan antara jiwa dan tubuh.2Rasonalisme kebanyakan dihubungkan secara erat dengan filsuf abad ke-18 danke-19, seperti Descartes, Leibniz, dan Spinoza. Bagaimanapun juga, karakteristikyang pasti dari rasionalisme bisa dideteksi dalam banyak pemikir sebelum dansesudah mereka. Rasionalisme percaya bahwa cara untuk mencapai pengetahuanadalah menyandarkan diri pada sumber daya logika dan intelektual. Penalarandemikian tidak berdasarkan pada data pengalaman, tetapi diolah dari kebenaran dasaryang tidak menuntut untuk menjadi dan mendasarkan diri pada pengalaman.Rene Descartes yang mendirikan aliran rasionalisme ini berpendapat bahwasumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal. Hanya oengetahuan yangdiperoleh lewat akallah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh semua ilmupengetahuan ilmiah. Dengan akal, dapat diperoleh kebenaran dengan metodededuktif, seperti yang dicontohkan dalam ilmu pasti.3Ada anggapan bahwa kaum rasionalis adalah sebagai ―filosof yangmengawang-awang‖ tidak seluruhnya salah, karena pendekatan mereka kepadafilsafat menyarankan bahwa seluruh kebenaran penting tentang realitas bisaditemukan hanya dengan berpikir, tanpa kebutuhan untuk berangkat dan mengujidunia. Rasionalisme bisa memunculkan sedikit bintik pada pikiran modern, yangdigunakan untuk ide bahwa pengatahuan yang menekankan diri pada percobaan danpengamatan, adalah penting untuk mengetahui selanjutnya. 4Oleh karena itu, dalam tulisan ini sangat penting kiranya untuk diulas secaramandalam tentang bagaimana corak pemikiran rasionalisme sebagai bagian alirandari epistemologi filsafat, bagaimana cara kerjanya, metodenya, siapa saja tokohnyadan apa saja pemikiran yang om/category/filsafat/, diunduh pada tanggal 11 Mei201734Asmoro Akhmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: Raja grafindo Persada, 2007), h. 115Asmoro Akhmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: Raja grafindo Persada, 2007), h. 115

4B.Rumusan Masalahberdasarkan latar belakang penulisan makalah ini, maka dirumuskan masalahsebagai berikut :1.Apakah yang dimaksud Epistemologi dalam Filsafat ?2.Apakah Pengertian Rasionalisme sebagai Aliran Epistemologi ?3.Bagaimana Pemikiran para Tokoh Rasionalisme ?

BAB IIPEMBAHASANA.Epistemologi dalam Filsafat1. Pengertian EpistemologiSebelum menyelam lebih jauh pada aliran rasionalisme, terlebih dahulu yangharus dipahami adalah ―Epistemologi‖ dalam filsafat, karena darinyalah dilahirkanaliran rasionalisme. Epistemologi berasal dari kata Yunani, yaitu epistememe pengetahuan dan logos perkataan, pikiran, ilmu.5 Epistemologi bermaksud secarakritis mengkaji pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang mendasaridimungkinkannya pengetahuan serta mencoba memberi pertanggungjawaban rasionalterhadap klaim kebenaran dan objektivitasnya. 6Jadi, epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan caramemperolehnya. Dengan bahasa yang lain, menurut Mohammad Adib, Epistemologiadalah suatu cabang filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata cara, teknikatau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan.7 Dari sini dapat ditarik pengertianbahwa epistemologi membahas tentang bagaimana suatu pengetahuan atau keilmuandapat diperoleh manusia.Rasionalisme tidak mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalamanhanya dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Karenanya, aliran ini yakinbahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide, dan bukannya di dalam barangsesuatu. Jika kebenaran bermakna sebagai mempunyai ide yang sesuai dengan atau5Lihat di Bdk. A.M.W. Pranarka, Epistemologi Dasar: Suatu Pengantar, Jakarta: CSIS, 1987,h. 3-5 dalam Hardono Hadi, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, Yogyakarta: 2002, h. 186Lihat di Bdk. A.M.W. Pranarka, Epistemologi Dasar: Suatu Pengantar, Jakarta: CSIS, 1987,h. 3-5 dalam Hardono Hadi, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, Yogyakarta: 2002, h. 187Mohammad Adib, Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika IlmuPengetahuan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 2011, h. 745

6yang menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikirankita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja.82. Cara Kerja EpistemologiCara kerja atau metode pendekatan dalam epistemologi menggambarkanbagaimana ciri khas pendekatan filosofis terhadap gejala pengetahuan. Ciri khas carapendekatan filsafat terhadap objek kajiannya tampak dari jenis pertanyaan yangdiajukan dan upaya jawaban yang diberikan. Filsafat berusaha secara kritis mencobamengajukan pertanyaan dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifatumum, menyeluruh dan mandasar. Filsafat bermaksud secara kritis menggugat sertamengusik pandangan dan pendapat umum yang sudah mapan. Semua itu gunamerangsang orang lain untuk berpikir lebih serius dan bertanggung jawab. Tidak asalsaja menerima pandangan dan pendapat umum.9 Misalnya, apabila pengetahuanmanusia secara umum disamakan dengan ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuandiidentikkan dengan sains, maka lingkup pengetahuan manusia akan semakindipersempit. Penyempitan paham pengetahuan seperti ini, sebagaimana terjadi dalampaham saintisme, jelas akan memasung kekayaan budaya manusia dan harusditanggapi seara ktitis. Dalam hal pengetahuan, ada beberapa pertanyaan filosofismendasar yang diajukan, seperti; Apa itu pengetahuan? Apa ciri-ciri hakikinya danmana batas-batas ruang lingkupnya? Apa beda antara pengetahuan dan kepercayaan?dan masih banyak lagi yang lainnya.3. Macam-Macam EpistemologiBerbicara tentang bagaimana macam-macam epistemologi, berarti berbincangtentang bagaimana macam-macam cara atau metode memperoleh pengetahuan, ilmupengetahuan, ilmu atau keilmuan. Menurut Keith Lehrer, ada tiga macam metode8Tedy Machmud, Rasionalisme dan Empirisme; Kontribusi dan Dampaknya padaPerkembangan Filsafat Matematika, dalam jurnal INOVASI, Volume 8, nomor 1, Maret 2011,Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo9Hardono Hadi, Epistemologi Filsafat Pengetahuan , h. 20

7dalam memperoleh ilmu pengetahuan, yaitu: a) dogmatic epistemology, b) criticalepistemology dan c) scientific epistemology.10Pertama, dogmaticepistemology adalahpendekatantradisionalterhadapepistemologi. Dalam prespektif epistemology dogmatik, metafisika (ontologi)diasumsikan ada terlebih dahulu, baru kemudian ditambahkan epistemologi. Tokohpendekatan/metode ini adalah Plato. Setelah realitas dasar diasumsikan ada, barukemudian ditambahkan epistemologi untuk menjelaskan bagaimana kita mengetahuirealitas tersebut. Pertanyaan utama epistemologi ini adalah: Apa yang kita ketahui?Lalu bagaimana cara kita mengetahuinya?, secara singkat epistemologi dogmatikmenetapkan ontologi sebelum epistemology.Kedua, critical epistemology. Ini dikenalkan oleh Rene Descartes, yaitu diamembalik epistemology dogmatik dengan menanyakan apa yang dapa kita ketahuisebelum menjelaskannya. Pertanyakan dulu secara kritis baru kemudian diyakini.Ragukan dulu bahwa sesuatu itu ada, kalau sudah terbukti ada, baru dijelaskan.Berpikir terlebih dahulu, baru diyakini atau tidak, meragukan dahulu baru diyakiniatau tidak. Metode Descartes disebut juga metode skeptis. Yakni, skeptis (ragu)bahwa kita dapat mengetahui secara langsung objek di luar diri kita tanpa melaluijiwa kita. Pertanyaan utama epistemologi jenis ini: Apa yang dapat kita ketahui?Dapatkah kita mengetahuinya? Mungkinkah kita dapat mengetahui sesuatu di luardiri kita?. Dengan kata lain, epistemologi kritis menetapkan ontologi setelahepistemologi.Ketiga, scientific epistemology. Pertanyaan utama epistemologi ini adalah apayang benar-benar sudah kita ketahui dan bagaimana cara kita mengetahuinya?.Epistemologi ini tidak peduli apakah batu di depan mata kita adalah penampakan ataubukan, yang menjadi urusannya adalah bahwa ada batu di depan mata kita dan kitateliti secara sainstifik.4. Aliran-Aliran Epistemologi10Mohammad Adib, Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika IlmuPengetahuan .h. 76-78

8Dalam memperoleh pengetahuan, ada beberapa cara yang masing-masingterdapat perbedaan yang fundamental. Kemudian cara pemerolehan pengetahuantersebut berkembang menjadi madzhab atau aliran dalam epistemologi. Dalam filsafatBarat, ada beberapa aliran yang berkembang, antara lain; empirisme, rasionalisme,positivisme dan intuisionisme.11 Pertama, aliran Empirisme memandang bahwamanusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman panca inderanya. Manusiatahu es itu dingin karena dia menyentuhnya, gula terasa manis karena iamencicipinya. Tokoh aliran ini adalah John Locke (1632-1704). Kedua, adalah aliranRasionalisme. Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan.Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperolehpengetahuan melalui kemampuan akal menangkap objek. Tokoh yang seringdibicarakan pada aliran ini adalah Rene Descartes (1596-1650).Ketiga,aliranPositivisme. Sejalan dengan empirisme, aliran ini menganut paham empirisme, akantetapi ada penambahan di dalamnya, bahwa indera itu amat penting dalammemperoleh pengatahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan steComte(1798-1857). Keempat, adalah aliran Intuisionisme. Menurut aliran ini, tidak hanya inderasaja yang terbatas, akal juga terbatas, objek-objek yang kita tangkap itu adalah objekyang selalu berubah, jadi pengetahuan tentangnya tidak pernah tetap. Akal hanyadapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu.Dalam hal seperti itu, manusia tidak mengetahui keseluruhan, juga tidak mampumemahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Tokohnya adalah Henri Bergson (18591941).Dalam makalah ini akan dibahas sebaca spesifik aliran rasionalisme dalamepistemologi dengan para tokoh pengusungnya.11Ahmad Tafsir, Filsafat Umum; Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Bandung:Remaja Rosdakarya, 2003, h. 23-27

9B.Rasionalisme Sebagai Aliran dalam Epistemologi1. Pengertian RasionalismeRasionalisme adalah faham filsafat yang menyatakan bahwa akal huandanmenetespengetahuan.12 Jika empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh denganalam mengalami objek empiris, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuandiperoleh dengan dengan cara berpikir. Alat dalam berpikir itu adalah kaidah-kaidahlogis atau aturan-aturan logika.Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperolehpengetahuan. Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikanbahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainyamanusia kepada kebenaran, adalah semata-mata dengan akal. Laporan indera menurutrasionalisme merupakan bahan yang belum jelas dan kacau. Bahan ini kemudiandipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir. Akal mengatur bahan itusehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Akal dapat bekerja denganbantuan indera, tetapi akal juga dapat menghasilkan pengetahuan yang tidakberdasarkan bahan inderawi sama sekali, jadi, akal dapat menghasilkan pengetahuantentang objek yang betul-betul abstrak.132. Sejarah RasionalismeSejarah rasionalisme sudah tua sekali, pada zaman Thales (624-546 SM) telahmenerapkan rasionalisme pada filsafatnya. Pada filsafat modern, tokoh pertamarasionalisme adalah Descarts, (1596-1650), kemudian dilanjutkan oleh beberapatokoh lain, yaitu Baruch De Spinoza (1632-1677), Leibniz (1646-1716) dan BlaisePascal (1632-1662). Setelah periode ini, rasionalisme dikembangkan secara sempurnaoleh Hegel yang kemudian terkenal sebagai tokoh rasionalisme dalam sejarah.Rasionalisme lahir adalah sebagai reaksi terhadap dominasi Gereja padaAbad Pertengahan Kristen di Barat. Munculnya rasionalisme ini menandai perubahan1213Ahmad Tafsir, Filsafat Umum; Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra .h.127Ahmad Tafsir, Filsafat Umum; Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra .h.25

10dalam sejarah filsafat, karena aliran yang dibawa Descartes ini adalah cikal bakalZaman Modern dalam sejarah perkembangan filsafat. Kata ―modern‖ disini hanyadigunakan untuk menunjukkan suatu filsafat yang mempunyai corak yang amatberbeda, bahkan berlawanan dengan corak filsafat pada Abad Pertengahan Kristen.Corak berbeda yang dimaksud disini adalah dianutnya kembali rasionalisme sepertipada masa Yunani Kuno. Gagasan itu disertai argumen yang kuat oleh Descartes.Oleh karena itu, pemikiran Descartes sering juga disebut bercorak renaissance, yaitukebangkitan rasionalisme seperti pada masa Yunani terulang kembali. Pengaruhkeimanan Kristen yang begitu kuat pada Abad Pertengahan, telah membuat parapemikir takut mengemukakan pemikiran yang berbeda dengan tokoh Gereja.Descartes telah lama merasa tidak puas dengan perkembangan filsafat yang sangatlamban dan memakan banyak korban. Ia melihat tokoh-tokoh Gereja yangmengatasnamakan agama telah menyebabkan lambannya perkembangan itu. Ia inginfilsafat dilepaskan dari dominasi agama Kristen. Ia ingin filsafat dikembalikan padasemangat filsafat Yunani, yaitu filsafat yang berbasis pada akal.14Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhirabad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalahpenggunaan yang eksklusif daya akal budi (rasio) untuk menemukan kebenaran.Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmupengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam.Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang terpelajarmakin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dandunia.153. Metode dalam RasionalismeAgar filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbaharui, kita memerlukanmetode yang baik, demikian pendapat Descartes (tokoh utama rasionalisme). Hal ini14Ahmad Tafsir, Filsafat Umum; Akal dan Hati Sejak Thales SampaiCapra /06/23/aliran-filsafat-rasionalisme/, diunduh padatanggal 11 Mei 2017

11mengingat bahwa terjadinya kesimpangsiuran dan ketidak pastian dalam pemikiranfilsafat disebabkan oleh karena tidak adanya suatu metode yang mapan, sebagaipangkal tolak yang sama bagi berdirinya suatu filsafat yang kokoh dan pasti. Ia sudahmenemukan metode yang dicarinya, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya, ataukeragu-raguan.16 Kemudian, ia menjelaskan, untuk mendapatkan hasil yang sahih darimetode yang hendak dicanangkannya, ia menjelaskan perlunya 4 hal, yaitu: 17a) Tidak menerima sesuatu pun sebagai kebenaran, kecuali bila saya melihatbahwa hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas, sehingga tidak ada suatukeraguan apapun yang mampu merobohkannya.b) Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu atau sebanyak mungkinbagian, sehingga tidak ada keraguan apapun yang mampu merobohkannya.c) Bimbangkanlah pikiran dengan teratur, dangan mulai dari hal yangsederhana dan mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampaipada yangpaling sulit dan kompleks.d) Dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harusdibuatperhitungan-perhitunganyang sempurnasertapertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita yakin tidak ada satu pun yangdiabaikan dalam penjelajahan itu.C.Pemikiran Tokoh – Tokoh Rasionalisme1. Rene Descartes (1596-1650)Kelahiran dan PendidikanDescartes di samping tokoh rasionalisme juga dianggap sebagai bapak filsafat,terutama karena dia dalam filsafat-filsafat sungguh-sungguh diusahakan adanyametode serta penyelidikan yang mendalam.Ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum, danilmu kedokteran.Ia yang mendirikan aliran Rasionalisme berpendapat bahwa sumberpengetahuan yang dapat dipercayai adalah akal. Ia tidak puas dengan filsafat1617Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta: Kencana, 2003), Cet. 2, h. 95Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta: Kencana, 2003), Cet. 2, h. 95-95

12scholastik karena dilihatnya sebagai saling bertentangan dan tidak ada kepastian.Adapun sebabnya karena tidak ada metode berpikir yang pasti. Descartes merasabenar-benar ketegangan dan ketidak pastian merajalera ketika itu dalam kalanganfilsafat. Scholastic tak dapat memberi keterangan yang memuaskan kepada ilmu danfilsafat baru yang dimajukan ketika itu kerapkali bertentangan satu sama lain. ReneDescartes adalah tokoh filsafat abad modern, bahkan dialah pendiri dan peloporutamanya.Rene Descartes (Renatus cartesius) adalah putra keempat Joachim Descartes,seorang anggota parlemen kota britari, propinsi renatus di prancis. Kakeknya, piereDescartes, adalah seorang dokter. Neneknya juga berlatar belakang kedokteran,dilahirkan pada tanggal 31 Maret 1596 di La Haye (sekarang disebut La HayeDescartes), propinsi Teuraine. Descartes kecil yang mendapat nama baptis Rene,tumbuh sebagai anak yang menampakan bakatnya dalam bidang filsafat, sehinggaayahnya pun memanggilnya dengan julukan Si Filsuf Cilik. Pendidikan pertamanyadiperoleh dari sekolah Yesuit di La Fleche dari tahun 1604-1612. Disinilah iamemperoleh pengetahuan dasar tentang karya ilmiah Latin dan Yunani, bahasaPrancis, music dan acting, logika aristoteles dan Etika Nichomacus, fisika,matematika, astronomi dan ajaran metafisika dari filsafat Thomas Aquinas. 18Metode Kesangsian dan “Cogito Ergo Sum”Untuk memperoleh titik kebenaran pengetahuan, Descartes mulai denganesebuah kesangsian atas segala sesuatu. Menurut Dascartes, sekurang-kurangnya―aku yang menyangsikan‖ bukanlah hasil tipuan. Semakin kita dapat menyangsikansegala sesuatu, entah kita sungguh ditipu atau ternyata tidak, termasuk menyangsikanbahwa kita tidak dapat menyangsikan, kita semakin mengada (exist). Justrukesangsianlah yang membuktikan kepada diri kita bahwa kita ini nyata. Selama kitaini sangsi, kita akan merasa semakin pasti bahwa kita nyata-nyata ada. Jadi, meskidalam tipuan yang lihai, kepastian bahwa ―aku yang menyangsikan‖ itu ada tidak egory/filsafat/

13dibantah. Menyangsikan adalah berpikir, maka kepastian akan eksistensiku dicapaidengan berpikir. Descartes kemudian mengatakan Je pense donce je suis atau cogitoergo sum (aku berpikir, maka aku ada).192. Baruch De Spinoza (1632-1677)KelahiranSpinoza dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal dunia pada tahun 1677 M.Nama aslinya Baruch Spinoza. Setelah ia mengucilkan diri dari agama Yahudi, iamengubah namanya menjadi Benedictus de Spinoza. Ia hidup di pinggiran kotaAmsterdam.20 Spinoza mengikuti pemikiran Rene Descartes. Spinoza mencobamenjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kebenaran tentang sesuatu,sebagaimana pertanyaan, apa substansi dari sesuatu, bagaimana kebenaran itu bisabenar-benar yang terbenar. Spinoza menjawabnya dengan pendekatan yang jugasebelumnya dilakukan oleh Rene Descartes, yakni pendekatan deduksi matematis,yang dimulai dengan meletakkan definisi, aksioma, proposisi, kemudian a,proposisiitu.De Spinoza memiliki cara berfikir yang sama dengan Rene Descartes, ia mengatakanbahwa kebenaran itu terpusat pada pemikiran dan keluasan. Pemikiran adalah jiwa,sedangkan keluasan adalah tubuh, yang eksistensinya berbarengan.Tentang PengetahuanMenurut Spinoza, ada tiga taraf pengetahuan, yaitu berturut-turut: tarafpersepsi indrawi atau imajinasi, taraf refleksi yang mengarah pada prinsip-prinsip dantaraf intuisi. Hanya taraf kedua dan ketigalah yang dianggap pengetahuan sejati.Dengan ini, Spinoza menunjukkan pendiriannya sebagai seorang rasionalis.Pendiriannya dapat dijelaskan demikian, menurutnya sebuah idea berhubungandengan ideatum atau obyek dan kesesuaian antara idea dan ideatuminilah yangdisebut dengan kebenaran. Dia membedakan idea ke dalam dua macam, yaitu idea19F. Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern, (Jakarta:Erlangga, 2010), h. ran-rasionalisme-dan-empirisme.html,diunduhpada tanggal 10 Mei 2017

14yang memiliki kebenaran intrinsik dan idea yang memiliki kebenaran ekstrinsik. Ideayang benar secara intrinsik menurutnya memiliki sifat ―memadai‖, sedangkan ideayang benar secara ekstrinsik disebutnya ―kurang memadai‖.21 Misalnya, anggapanbahwa matahari adalah bola raksasa yang panas sekali pada pusat tata surya lebih―memadai‖ dari pada anggapan bahwa matahari adalah bola merah kecil. Memadaiatau tidaknya suatu idea, tergantung dari modifikasi badan yang mengamatinya, danmodifikasi ini menyertai pula modifikasi mental. Jadi, karena kita mengamatinyadari jauh, maka matahari tampak kecil. Teori pengetahuannya pada akhirnyamenyarankan bahwa setiap idea adalah cermin proses-proses fisik dan sebaliknyasetiap proses fisik adalah perwujudan idea.3. Leibniz (1.646-1716 M)KelahiranLeibniz lahir di Jerman, nama kengkapnya Gottfried Wilhem von Leibniz.Sama halnya Spinoza, Leibniz termasuk pengagum sekaligus pengkritik Descartes.Baginya, ia khawatir tentang kehidupan dan bagaimana menjalani hidup. Tetapiberbeda dengan Spinoza yang kesepian, ia justru termasuk orang yang kaya raya dandipuja. Leibniz juga dikenal sebagai penemu kalkulus bersama Newton. Ia adalahilmuan, pengacara, sejarawan, akademisi, ahli logika, ahli bahasa, dan teolog. BagiLeibniz, filsafat adalahhobi yang berkesinambungan dan ia terlibat dalam diskusifilosofis dan melakukan korespondensi sepanjang hidupnya bersama para filsuf dizamnnya. Sayangnya, karyanya tidak bisa dinikmati banyak orang, karena setelah iameninggal, karyanya tidak diterbitkan.22PemikiranPemikiran Leibniz yang terkenal adalah ―monadologi‖-nya, dia berpendapatbahwa banyak sekali subtansi yang terdapat di dunia ini, yang disebutnya “monad”21F. Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern h. 43Ali Maksum, Pengantar Filsafat; Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme, (Yogyakarta:Arruzz Media, 2008), Cet. 1, h. 131-13222

15(monos: satu, monad: satu unit). Secaraa singkat, sistem Leibniz dijelaskan dalamlima tesisnya, yaitu:23a) Alam semesta itu sepenuhnya rasionalb) Setiap bagian elementer alam semesta berdiri sendiric) Ada harmoni yang dikehendaki Allah di antara segala hal di alam semestainid) Dunia ini secara kuantitatif dan kualitatif tidak terbatase) Alam dapat dijelaskan secara mekanistis sepenuhnya.Monad ini semacam cermin yang membayangkan kesempurnaan yang satu itudengan caranya sendiri. Tiap-tiap pencerminan yang terbatas ini mengandungkemungkinan tidak terbatas karena dalam seluruhnya dapat diperkaya dandipergandakan oleh sesuatu dari sesuatu yang mendahuluinya. Dalam rentetan ini adatujuan yang terakhir, yaitu menuju yang tak terbatas sesungguhnya. Tuhan itutransendent, artinya Tuhan di luar makhluk, Tuhan merupakan dasar dari segalarentetan yang ada.242324F. Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern .h. 48-49Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Filsafat, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet. 10, h. 103

16

BAB IIIPENUTUPA.Kesimpulanberdasarkan dari materi dalam makalah ini maka dapat disimpulkan sebagaiberikut :1. Epistemologi dalam Filsafat, Epistemologi berasal dari kata Yunani,yaitu epistememe pengetahuan dan logos perkataan, pikiran, ilmu.Epistemologi bermaksud secara kritis mengkaji pengandaian-pengandaiandan syarat-syarat logis yang mendasari dimungkinkannya pengetahuan sertamencoba memberi pertanggungjawaban rasional terhadap klaim kebenarandan objektivitasnya.2. Rasionalisme adalah faham filsafat yang menyatakan bahwa akal (reason)adalah alat terpenting u

Shalawat serta salam juga semoga selalu tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW, sang . Berbicara tentang bagaimana macam-macam epistemologi, berarti berbincang tentang bagaimana macam-macam cara atau metode memperoleh pengetahuan, ilmu pengetahuan, ilmu atau keilmuan.