Transcription

KONSEP DIRI REMAJA YANG PERNAH MENGALAMIKEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)(Penelitian Kualitatif Fenomenologis di Kota Semarang)SKRIPSIDisusun oleh:Marliana N. SianturiM2A 003 041FAKULTAS PSIKOLOGIUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANGNOVEMBER 2007

KONSEP DIRI REMAJA YANG PERNAH MENGALAMIKEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)(Penelitian Kualitatif Fenomenologis di Kota Semarang)Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas DiponegoroUntuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Guna MemperolehDerajat Sarjana PsikologiSKRIPSIDisusun Oleh:MARLIANA NYEPIANI SIANTURIM2A 003 041FAKULTAS PSIKOLOGIUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANGNOVEMBER 2007ii

HALAMAN PENGESAHANDipertahankan di depan Dewan penguji SkripsiFakultas Psikologi Universitas DiponegoroUntuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna MencapaiDerajat Sarjana PsikologiPada Tanggal----------------------MengesahkanDekan Fakultas PsikologiUniversitas DiponegoroDrs. Karyono, MSiDewan Penguji1. Dra. Sri Hartati, M.S.2. Dra. Siswati, M.Si.3. Tri Rejeki Andayani, S.Psi., M.Si.Tanda Tangan

4HALAMAN PERSEMBAHANSkripsi ini bisa jadi tepat waktu hanya karena mujizat Yesus Kristus.Oleh karena itu, skripsi ini saya persembahkan untuk menyenangkanhatiNya dan memuliakan namaNya.Terima kasih Yesusku, karena janjiMu tentang skripsi ini yang tergenapidalam hidupku dengan melalui berbagai anugrah, mujizat, dankekuatan yang Kau berikan padaku selama mengerjakan skripsi ini.Buat Papa, Kapt.Pol.A.B. Sianturi (alm). Pa, walaupun Papa sudah gakada, hanya karena anugerah dan mujizat Tuhan Cece bisa jadiSarjana Psikologi.Buat Mama yang tak pernah berhenti berjuang buat anak-anaknya.Perjuangan Mama mengajarkan banyak hal bagi Lia dan Leo. Cecebangga punya Ibu seperti Mama. Ma, natal tahun ini Cece pulangdengan membawa gelar Sarjana PsikologiBuat Icong dan Tai Ji, terima kasih karena sudah menjadi orangtuakedua Sejak awal Lia hendak kuliah, Icong dan Tai Ji adalah salah satumujizat dari Tuhan sehingga Lia bisa kuliah dan jadi Sarjana Psikologi.Tuhan Memberkati kalian sekeluarga.

5MOTTO!"!"#% %&'%()'%

6KATA PENGANTARPenyelesaian skripsi ini melibatkan bantuan dari banyak pihak. Penulismengucapkan terima kasih kepada:1. Tuhan, Raja, Penyelamat, Guru, Bapa, dan Sahabatku Yesus Kristus. Pembuatanskripsi ini adalah salah satu media yang Ia buat untuk mendidik dan mengajarsaya menjadi pribadi yang lebih baik.2. Drs. Karyono, MSi selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.3. Drs. Darmanto Jatman, SU yang sempat menjadi Pembimbing I saya. Bagi saya,Bapak adalah Ayah di kampus Psikologi UNDIP.4. Dra. Siswati, MSi sebagai dosen pembimbing utama saya. Bisa mengenal Ibu danmemiliki hubungan dekat dengan Ibu adalah kebanggaan tersendiri bagi saya.5. Kartika Sari Dewi, S.Psi, M.Psi selaku pembimbing kedua saya. Pemikiran dansaran dari Ibu membuat saya mendapat pencerahan setelah pikiran saya buntu.6. Mamaku, Cicilia Lannyana Siregar, yang amat kusayangi, cintai, dan banggakan.Ma, ma kasih ya buat semuanya. Mama sungguh adalah Ibu yang luar biasa. Cecebisa jadi kayak gini karena doa dan usaha Mama setiap harinya. I LUV U SOMUCH.7. Icong dan Tai Ji yang menjadi orangtua kedua bagiku. Ma kasih banget buatbantuannya yang tidak pernah terlambat dan selalu ada selama ini. Icong dan TaiJi adalah mujizat dalam hidup Lia.8. Adikku yang ganteng, Leonardo Daniel Sianturi. Ma kasih ya buat dukungan danpenghiburannya saat Cece lagi stres buat skripsi.

79. Abangku tersayang, Ericko Nickolas Hutagalung. Ma kasih buat kasih sayang,bantuan, semangat dan dukungan yang Abang berikan, udah mau jadi tempatcurhat, gak bosen dengerin keluhan dan tangisan Lia yang hampir tiap hari.10. Dra. Sri Hartati, MS selaku biro skripsi saat saya mengajukan proposal. Terimakasih buat semangat dan bantuan yang Ibu berikan mulai saat saya mengajukanproposal.11. Dra. Endah Kumala Dewi, M.Kes. selaku biro skripsi. Terima kasih buatkebijaksanaan dan toleransi yang Ibu berikan.12. Dian Ratna Sawitri, Psi selaku dosen wali saya. Terima kasih atas bimbingannyaselama ini.13. Yohanis Frans Lakahija, S.Psi. Pak, terima kasih karena sudah mau memberikanwaktu untuk membimbing dan memberi saran untuk skripsi saya.14. Seluruh staf tata usaha dan perpustakaan Prodi Psikologi Undip: Mbak Nur, PakKhambali, Mas Tarto, Mas Muh, Pak Asep, dan Bu Lies – Mamiku.15. Kedua subjekku, kalian adalah adik bagiku.16. Teman-teman 2003: Lida, thanx buat info tentang kebijaksanaan baru dari biroskripsi. Uqce, ma kasih ya buat supportnya dan selalu kirim SMS kalau Lia jarangterlihat di kampus. Ipan, Fika dan Ayu, ma kasih buat dukungannya. Semangatdan berjuang buat selesai Desember 2007. Rein dan Current, melihat pengerjaanskripsi kalian, membuat Lia menjadi lebih bersemangat untuk mengerjakanskripsi. Ma kasih juga buat Nova, Ika, Dewo, Rakhmad, Eko, Raju, dan temanteman lain yang gak lia sebutkan yang sedang berjuang bersama untuk buat

8skripsi.tetap semangat ya, jangan pernah berhenti berjuang sebelum perjuanganitu selesai, nanti rugi sendiri karena banyak waktu yang terbuang.17. Buat teman-teman di PMK Psikologi. Thanx buat dukungan doanya untuk kakakkakak yang lagi buat skripsi. Buat Wina, Maya, Tasya, Andari, Venthy, Siska,Mega yang semangat ya ngerjain skripsinya.18. Teman-teman komselku: Thea, ma kasih buat dukungan dan doanya. Santi, cepetnyusul ya.19. Buat teman-teman gereja: Mas Damar, ma kasih banget udah mau pinjeminprinter dan urunan tinta, it has helped me so much. Ce Li2e, Mbak Anita, KakTuti, Ci Vera, ma kasih udah ngasih semangat buat Lia.20. Sekolah Minggu Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alfa Omega Jemaat NgesrepKelas Pra Remaja, ma kasih buat doanya untuk kakak.21. Pdt. Henoch Edi Haryanto, M.Th, ma kasih karena selalu mendoakan kami yangsedang mengerjakan skripsi.22. Teman-teman kos di Bukit Agung AA-4: Mami (Mbak Risty), ma kasih ya buatsupportnya. Mbak Eli, ma kasih buat printernya.23. Pihak lain yang tidak bisa penulis tuliskan satu per satu, ma kasih banget buatsemuanya.Semarang, November 2007Marliana Nyepiani Sianturi(M2A 003 041)

9DAFTAR ISIHalaman Judul. iHalaman Pengesahan . iiHalaman Persembahan . iiiHalaman Motto . ivKata Pengantar . vDaftar Isi . xDaftar Tabel . xivDaftar Gambar. xvDaftar Lampiran . xviAbstrak . .xviiBAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah1. Pernyataan Masalah . 122. Pertanyaan Penelitian . 14B. Tujuan Penelitian . 15C. Manfaat Penelitian1. Manfaat Teoretis . 152. Manfaat Praktis . 16

10BAB II. TINJAUAN PUSTAKAA. Konsep Diri . 161. Definisi Konsep Diri . 162. Gambaran Umum Konsep Diri . 173. Konstitusi Konsep Diri. 184. Perkembangan Konsep Diri . 205. Sumber Informasi Konsep Diri . 23B. Remaja yang Pernah Mengalami KekerasanDalam Rumah Tangga (KDRT) . 261. Definisi Remaja. 262. Gambaran Umum Remaja. 273. Tugas Perkembangan Remaja . 314. Konsep Diri Remaja. 325. Konsep Diri Remaja dan Peran Keluarga . 366. Dampak KDRT pada Remaja . 49C. Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) . 441. Definisi KDRT . 512. Gambaran Umum KDRT . 533. Bentuk-Bentuk KDRT . 574. Penyebab KDRT . 59D. Dinamika Alur Pemikiran Peneliti . 64

11BAB III. METODE PENELITIANA. Perspektif Fenomenologis. 67B. Fokus Penelitian . 72C. Subjek Penelitian. 72D. Metode Pengumpulan Data . 73E. Analisis Data . 74F. Verifikasi Data . 75BAB IV. ANALISIS DATAA. Deskripsi Kancah Penelitian . 791. Proses Penemuan Subjek . 79a. Subjek 1. 79b. Subjek 2. 812. Pengalaman Peneliti Dengan Subjeka. Subjek 1. 85b. Subjek 2 . 863. Kendala Penelitian . 87B. Horisonalisasi. 89C. Unit Makna dan Deskripsi . 90D. Pemetaan Konsep . 136E. Esensi atau Makna Terdalam . 144

12BAB V. PEMBAHASANA. Temuan Peneliti. 1451. Dinamika psikologis subjek 1. 1452. Dinamika psikologis subjek 2. 160B. Interpretasi Teoretis Temuan. 173BAB VI. PENUTUPA. Kesimpulan. 195B. Saran. 196DAFTAR PUSTAKA . 198

13DAFTAR TABELTabel 1.1 Kekerasan terhadap Perempuan di Jawa BaratPeriode Januari – Desember 2004 . 5Tabel 4.1. Tabel Unit Makna dan Makna Psikologis. 90

14DAFTAR GAMBARGambar 2.1 Skema Dinamika Alur Pemikiran Peneliti . 66Gambar 4.1 Peta Konsep Keterhubungan Antar Unit Makna . 137Gambar 5.1 Dinamika Psikologis Subjek 1 . 159Gambar 5.2 Dinamika Psikologis Subjek 2 . 172

15DAFTAR LAMPIRANLampiran A. Surat-surat Penelitian . 202Lampiran B. Jadwal Pelaksanaan Penelitian. 209Lampiran C. Pertanyaan Wawancara. 212Lampiran D. Transkrip Wawancara. 221Lampiran E. Horisonalisasi. 335Lampiran F. Tabel Unit Makna. 448Lampiran G. Hasil Observasi. 451Lampiran H. Data Triangulasi . 468

16KONSEP DIRI REMAJA YANG PERNAH MENGALAMI KEKERASANDALAM RUMAH TANGGA (KDRT)Oleh :MARLIANA NYEPIANI SIANTURIM2A 003 041FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANGABSTRAKTingginya prosentase KDRT di Indonesia dan parahnya dampak yang dialamioleh korban maupun saksi dari KDRT adalah latar belakang diadakannya penelitianini. Pada umumnya, remaja yang pernah mengalami dan menyaksikan KDRT dalamkeluarganya akan melakukan tindakan kriminal sebagai dampak dari keadaankeluarganya yang tidak dapat memberikan kehangatan dan kasih sayang yang cukup.Tindakan kriminal yang mereka lakukan bersama teman-teman sebaya, membuatmereka mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan yang tidak pernah mereka dapatkandari keluarganya. KDRT yang para remaja alami dan saksikan memberikan pengaruhyang besar dalam perkembangan konsep dirinya dan mempengaruhi penyesuaianmereka dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk memahami danmendeskripsikan konsep diri remaja yang pernah mengalami KDRT.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif fenomenologis.Subjek dalam penelitian adalah dua orang remaja akhir, mengalami, dan menyaksikanKDRT selama lebih dari sepuluh tahun. Metode yang digunakan dalam pengumpulandata adalah wawancara mendalam (depth interview) dan observasi. Hasil wawancaramendalam kemudian dibuat dalam bentuk transkrip dan dianalisis untuk menemukanmakna psikologis, kumpulan unit makna, pemetaan konsep, dan esensi terdalam darihasil penelitian.Penelitian ini menemukan bahwa konsep diri remaja yang pernah mengalamiKDRT memiliki kecenderungan berkembang ke arah negatif. Mereka merasa dirinyatidak berharga dan merasa inferior saat berada di lingkungan sosial. Namun keadaansubjek yang tidak lagi mengalami KDRT membuat konsep diri mereka memilikikesempatan untuk berkembang ke arah positif. Konsep diri yang mereka milikimempengaruhi sikap mereka terhadap hubungan interpersonal. Mereka tidak memilikipenilaian yang positif terhadap pernikahan. Sebaiknya remaja yang pernah mengalamiKDRT meningkatkan religiusitasnya dan melibatkan diri dalam aktivitas yang dapatmengembangkan potensi mereka. Orangtua juga disarankan untuk berperan aktifmengurangi pertengkaran. Masyarakat yang mengetahui keluarga dengan KDRTdiharapkan menghubungi Polisi atau lembaga sosial yang terkait dan memberikandukungan bagi para korban, misalnya Woman Crisis Center (WCC) dan Pusat StudiWanita (PSW).Kata kunci: Konsep Diri Remaja, Kekerasan dalam Rumah Tangga

17BAB IPENDAHULUANA.Latar Belakang MasalahApabila dapat memilih, maka setiap anak di dunia ini akan memilih dilahirkan dikeluarga yang harmonis, hangat, dan penuh kasih sayang. Keluarga yang demikianadalah dambaan dari setiap anak di dunia. Tapi sayangnya, anak tidak dapat memilihsiapa yang akan menjadi orangtuanya. Saat mereka lahir, mereka harus menerimasiapapun yang menjadi orangtua mereka. Termasuk saat mereka memiliki orangtuayang melakukan tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Tidak ada satuanakpun di dunia ini yang ingin memiliki orangtua yang sering bertengkar. Lebih darisekedar orangtua yang sering bertengkar, tidak ada satupun anak yang bahagia saatmelihat salah satu orangtuanya menyiksa pasangannya. Bahkan, acapkali mereka punmenjadi korban dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh orangtua kandung merekasendiri.Menurut UU RI No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalamRumah Tangga pasal 1 ayat 1,”Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadapseseorang terutama terhadap perempuan, yang berakibat timbulnyakesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/ataupenelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukanperbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawanhukum dalam lingkup rumah tangga”.

18Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, KDRTadalah setiap tindakan yang mengakibatkan kesengsaraan dan penderitaanpenderitaan pada perempuan secara psikologis, fisik, dan seksual termasuk ancamantindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenangwenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi.KDRT mengacu pada bentuk-bentuk perilaku yang dilakukan dengan niatmenyakiti atau mencederai salah seorang anggota keluarga. Fitur khasnya adalahtindakan tersebut jarang merupakan kejadian tunggal, tetapi cenderung berlangsungberulang-ulang, terkadang terus menerus dalam jangka waktu yang lama (Krauss danKrauss dalam Barbara, 1995, h. 244).Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa kekerasan dalam rumahtangga adalah setiap tindakan/perbuatan yang bersifat kekerasan, pemaksaan, ataupunperampasan kemerdekaan yang menyebabkan penderitaan/luka fisik, psikologis,maupun seksual yang dilakukan oleh anggota keluarga terhadap anggota keluarganyalainnya yang dilakukan secara terus menerus. Biasanya, pelaku kekerasan adalahsuami/ ayah, keponakan, sepupu, paman, mertua, anak laki-laki, majikan, dan isteriperkasa; sedangkan yang menjadi korban adalah anak, pembantu, isteri, lansia, dansuami yang tidak bekerja. Sebagian besar pelaku berusia antara 31-45 tahun (Hidayat,2006).Kekerasan bisa dalam bentuk kekerasan fisik (physical abuse) seperti tamparan,tendangan, dan pukulan; kekerasan seksual (sexual abuse) seperti melakukanhubungan seks dengan paksa, rabaan yang tidak berkenan, pelecehan seksual,

19ataupun penghinaan seksual; dan kekerasan emosional (emotional abuse) seperti rasacemburu atau rasa memiliki berlebihan, merusak barang-barang milik pribadi, dancaci maki (Yayasan Jurnal Perempuan Indonesia, 2002, h. 148).Masalah KDRT adalah masalah pelanggaran hak asasi manusia. Hukum diIndonesia belum mengatur secara khusus bentuk perlindungan untuk pencegahan danpenanggulangan KDRT. Kurangnya penegakan hukum terhadap kasus KDRTdisebabkan oleh hubungan kekeluargaan antara pelaku dan korban yang dianggapsebagai urusan pribadi dan bukan urusan publik sehingga tidak memerlukanperlindungan hak asasi manusia (Kolibonso dalam Yayasan Jurnal Perempuan, 2002,h.21). Pendapat ini diperkuat oleh Saraswati dan Pratiwi (dalam KOMPAS, 2004, hal,E) dari Pusat Studi Wanita (PSW) Unika Soegjipranata Semarang yang mengatakanbahwa“Kasus kekerasan dalam rumah tangga dianggap sebagai persoalanpribadi atau persoalan rumah tangga sehingga dianggap tidak layakdicampuri orang lain, termasuk aparat negara”.Menurut mereka, kondisi itu menunjukkan belum semua anggota masyarakatmemahami benar tentang KDRT. Persoalan yang bersifat privat dan domestik,misalnya relasi suami-isteri, keluarga, dan seksualitas berada di luar campur tanganindividu lain dan negara. Kasus KDRT masih dianggap sebagai tanggung jawabpersonal sehingga ketika seorang suami akan dilindungi ketika melakukan KDRT.Persoalan KDRT tidak mengenal ras, suku, agama dan bukan dominasimasyarakat menengah ke bawah. Di kalangan menengah ke ataspun, juga terjadiKDRT. Hanya saja, kekerasan pada ekonomi elite terkesan halus (Sumantri, 2004).

20Pernyataan ini diperkuat oleh Sirait (dalam HAM, 2006) yang menyatakan bahwajumlah pelaku yang berasal dari keluarga miskin memiliki presentase yang samadengan pelaku yang berasal dari keluarga menengah. Hanya saja kasus yang terjadipada kelas masyarakat menengah ke atas tidak dibuka untuk umum.Tingkat pendidikan tidak menentukan adanya KDRT. Pelaku dan korban dapatberasal dari tingkat pendidikan rendah hingga yang mengenyam pendidikan tinggi.Berdasarkan data Mitra Perempuan, sebanyak 43,3% pelaku KDRT adalah lulusanPerguruan Tinggi. Sebanyak 46,8% dari istri yang menjadi korban adalah wanita ikanhinggaPerguruanTinggi.Lutfi (dalam Jalu, 2004) berpendapat bahwa korban KDRT cenderung tertutupdan menganggap kekerasan yang dialaminya adalah urusan domestik. Adanyaanggapan bahwa tindak KDRT merupakan masalah keluarga yang sebaiknyadiselesaikan oleh keluarga, membuat data jumlah kasus KDRT yang sebenarnya sulitdidapat sehingga data yang ada hanyalah “puncak dari gunung es”.Belakangan ini kasus KDRT mulai bermunculan ke permukaan dan dari waktu kewaktu semakin mengalami peningkatan yang berarti (Sakretin, 2004, hal. 39). DiIndonesia, 11,4% dari 217.000.000 jiwa penduduk Indonesia atau sekitar 24 jutaperempuan, mengaku pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Menurutdata yang ada, hanya 15,2% dari perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumahtangga yang menempuh upaya hukum, seperti melapor ke polisi atau menggugat

21cerai ke pengadilan. Mayoritas dari mereka memilih pindah rumah, dan sebesar10,9% korban memilih untuk berdiam diri (Hidayat, 2006).Rifka Annisa menyatakan bahwa dari tahun 1994-2001 tercatat 1.037 kasuskekerasan terhadap istri. Berdasarkan data statistik yang dikumpulkan YayasanPenghapusan Kekerasan, sepanjang tahun 2001 terdapat 258 kasus dan pada tahun2002 ada 226 kasus KDRT. Yayasan Rumahku mencatat bahwa sepanjang FebruariOktober 2004 ada 112 klien perempuan yang menjadi korban KDRT (Jalu, 2004).Tabel berikut adalah hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Rismiyati dari FakultasPsikologi Universitas Padjajaran mengenai kekerasan terhadap perempuan di daerahJawa BaratTabel 1.1. Kekerasan Terhadap Perempuan di Jawa BaratPeriode Januari-Desember 2004Jenis KekerasanKekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)KTP (Kekerasan Terhadap Perempuan)STA (Kekerasan Seksual Terhadap Anak)JUMLAHKepolisian ensi%8738,166026,328135,35228100Hasil penelitian tentang KDRT yang dilakukan kolektif oleh Rifka Anissa WomenCrisis Center (RAWCC) bekerja sama dengan Laboratorium Penelitian KesehatanDan Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, UniversitasUmea Swedia dan Women’s Health Exchange Amerika Serikat pada tahun 2001memperlihatkan bahwa dari 765 responden, (perempuan yang telah menikah diKabupaten Purworejo, Jawa Tengah) sebanyak 41% responden pernah mengalami

22kekerasan fisik ataupun seksual, setidaknya sekali setelah berusia 15 tahun.Pelakunya, terutama adalah suami (Adiningsih, 2004).Di Semarang, kasus KDRT juga menjadi perhatian dari beberapa lembaga sosialmasyarakat. Sebanyak 14 orang perempuan korban KDRT datang ke Balai Konsultasidan Bantuan Hukum (BKBH) Unika Soegijapranata Semarang selama JanuariSeptember 2004 (Saraswati dan Pratiwi, KOMPAS, 2004, hal, E). Penelitian yangdilakukan pada tahun 2005 oleh Suliyati dan Riyanti dari Pusat Studi Wanita (PSW)UNDIP di daerah Ungaran dan Gunung Pati, Semarang, Jawa Tengah, memperolehhasil bahwa di dua daerah tersebut terdapat 20 responden yang mengalami KDRT.Responden memiliki karakteristik berusia di atas 25 tahun, memiliki tingkatpendidikan terakhir SD sampai dengan Perguruan Tinggi, memiliki dua sampai tigaanak dan telah menikah selama tiga sampai sepuluh tahun. Pada awalnya, merekatidak menyadari bahwa tindakan yang dilakukan oleh suami mereka merupakanKDRT. Setelah umur perkawinan yang telah berlangsung lama dan tanpa perubahan,mereka baru menyadari bahwa mereka adalah korban KDRT. Mereka mengalamistres emosional karena terjebak dalam siklus kekerasan yang dilakukan olehsuaminya. Selain itu, ketergantungan ekonomi kepada suami dan penilaianmasyarakat terhadap keluarganya yang hancur menjadi penyebab masalah psikologisyang dialami oleh korban KDRT.Salah satu bentuk KDRT adalah tindak Kekerasan terhadap Anak (KTA).Mulyadi mengatakan bahwa, pada tahun 2004 tercatat 426 kasus KTA yang masuk keKomisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA/ KPA). Pada tahun 2005 naik

23menjadi 736 kasus dan tahun 2006 menjadi 1.124 kasus. Pada tahun 2007, hinggapertengahan Juli, telah terjadi lebih dari 1.000 kasus (Yan, 2007).Ironisnya, para pelaku tindak kekerasan tersebut merupakan orang terdekatkorban, misalnya orang tua (ayah dan ibu) dan kerabat dekat (paman, bibi, ataunenek). Bahkan, menurut catatan KPA, terdapat 70% kasus dengan pelaku yangberasal dari orang terdekat dan 30% kasus dengan pelaku yang tidak dikenal anak(Firmansyah, 2007 dan Hadi, 2006). Sumber lain mengatakan bahwa 80% pelakukekerasan adalah ibu kandung korban (Idh, 2006).Berdasarkan laporan yang masuk dan pengaduan yang diterima hotline service(HLS) KPA, dari total kasus KTA pada tahun 2005, kasus kekerasan seksual lebihsering terjadi daripada kasus kekerasan fisik maupun kekerasan psikis (Joni, 2006).Sebagai informasi tambahan, kasus kekerasan terhadap anak tidak hanya terjadi didaerah perkotaan, tapi juga di daerah pedesaan (Jalu, 2006).Kekerasan akan membuat korban menderita kecemasan, depresi dan sakit jiwaakut. Kondisi ini akan mereduksi kemampuannya dalam menyelesaikan masalah.Tidak tertutup kemungkinan memunculkan keinginan untuk bunuh diri ataumembunuh pelaku (Adiningsih, 2004).KDRT juga berdampak bagi anak-anak yang ada dalam keluarga itu. Denganmelemahnya kemampuan menguasai diri, baik dari suami maupun istri, akanmembuka kemungkinan mereka bertindak kejam terhadap anak. Kondisi ini tentutidak baik bagi anak karena akan membuat mereka trauma baik secara fisik maupunpsikis. Mereka menjadi sering gugup, suka menyendiri, cemas, sering ngompol,

24gelisah, gagap, sering menderita gangguan perut, sakit kepala, asma, dan sukamemukul teman. Terdapat kemungkinan berkembangnya pemahaman pada anak(terutama laki-laki) bahwa kekerasan adalah hal yang wajar dan timbulnya persepsibahwa tidak perlu menghormati perempuan. Kondisi ini akan membuka kemungkinandi saat mereka dewasa nanti, merekapun melakukan kekerasan. Sebuah penelitianmemperlihatkan bahwa 50% –80% suami yang memukul istrinya atau anak-anaknyadibesarkan dalam rumah tangga dimana ayah memukuli ibunya (Ciciek dalamAdiningsih, 2004).Anak dan remaja yang terbiasa melihat dan mendapat tindak kekerasan darianggota keluarganya, memiliki kecenderungan terbiasa melakukan kekerasan. Ahliyang meneliti setiap individu yang terlibat dalam tindakan kriminal yang dilakukanoleh anak dan remaja menemukan bahwa banyak di antara mereka mengalamimasalah dalam keluarga. Persoalan yang disebabkan oleh mereka sering bersumberpada rumah yang tidak dapat memberikan rasa aman yang biasanya didapatkan dalamsebuah ikatan kekeluargaan. Keadaan tanpa hubungan emosional ini menimbulkanperasaan tidak puas yang terwujud dalam tindakan yang meresahkan lingkungan(Gunarsa, 1999, h. 3).Menurut Kartono (2002, h. 60), setiap perubahan dalam relasi antara suami istriyang menjurus kepada konflik dan perceraian merupakan faktor penentu munculnyaanak dan remaja yang mengalami kasus neurotik, tingkah laku asosial, dan kebiasaankebiasaan delinkuen. Mereka merasa tidak aman sehingga membuat merekamengembangkan reaksi kompensatoris dalam bentuk dendam dan sikap permusuhan

25terhadap dunia luar. Mereka mendapatkan kenyamanan dan kepuasan hidup denganmelakukan perbuatan kriminal. Anak-anak yang merasa tidak bahagia akan dipenuhibanyak konflik batin serta mengalami frustrasi terus-menerus. Keadaan ini membuatmereka akan menjadi sangat agresif.Dampak yang dialami oleh anak dan remaja yang berasal dari keluarga dengankasus KDRT mungkin saja tidak akan hilang dan berpengaruh buruk terhadapperkembangan mereka selanjutnya. Mereka seringkali memiliki simtom trauma yangcukup parah/ cukup berat. Anak dan remaja yang hidup dalam keluarga denganKDRT memiliki resiko mengalami gangguan stres paska trauma dan bermasalahdalam adaptasi kesehariannya (Davies dkk dalam Cooper dan Vetere, 2005, h. 53).Hurlock (1992, h. 226) menambahkan bahwa anak yang tumbuh di dalam rumahtangga dengan hubungan keluarga yang diwarnai dengan perselisihan danpertengkaran, sering mengembangkan pola penyesuaian yang tidak baik. Pola iniakan bertahan hingga dewasa. Mereka akan mengembangkan sikap yang tidak sehatterhadap pernikahan dan peran sebagai orangtua. Apabila sikap ini tidak

makna psikologis, kumpulan unit makna, pemetaan konsep, dan esensi terdalam dari hasil penelitian. Penelitian ini menemukan bahwa konsep diri remaja yang pernah mengalami KDRT memiliki kecenderungan berkembang ke arah negatif. Mereka merasa dirinya tidak berharga dan merasa inferior saat berada di lingkungan sosial. Namun keadaan