Transcription

LAPORAN PENELITIANJudulUji Stabilitas Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol Menggunakan Dapar FosfatDibandingkan Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol Menggunakan Dapar BoratDengan Metode Uji DipercepatOleh :Insan Sunan Kurniawan Syah, S.Si, Apt.Fakultas FarmasiUniversitas Padjadjaran2006

ABSTRAKTelah dilakukan penelitian mengenai pengaruh penggunaan dapar fosfat dan dapar boratterhadap stabilitas sediaan tetes mata kloramfenikol dengan menggunakan metode ujidipercepat. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan dapar fosfat dalam sediaantetes mata kloramfenikol dibandingkan dengan penggunaan dapar borat menunjukkanperbedaan penurunan kadar kloramfenikol yang cukup signifikan. Hasil uji stabilitasdengan metode uji dipercepat menunjukkan bahwa penggunaan dapar fosfat dalamsediaan tetes mata kloramfenikol dapat menurunkan energi aktivasi, mengubah ordereaksi, serta meningkatkan laju reaksi hidrolisis kloramfenikol, sehingga waktu paruhserta batas umur simpannya menjadi lebih cepat dibandingkan dengan tetes matakloramfenikol yang menggunakan dapar borat.i

ABSTRACTThe influence of phosphoric and boric buffer on chloramphenicol content of eyedrop preparation have been investigated. The result showed that chloramphenicolconcentration decrease significantly. The stability test result used an accelerated testmethod showed that phosphoric buffer on chloramphenicol eye drop preparation candecreased the activation energy, changed the reaction order, and increased the reactionrate of chloramphenicol hydrolysis, so the half-life and shelf-life was faster comparedwith chloramphenicol eye drop preparation that contain boric buffer.ii

KATA PENGANTARPuji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas perkenan-Nyapenulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini.Laporan penelitian dengan judul “Uji StabilitasSediaan Tetes MataKloramfenikol Menggunakan Dapar Fosfat Dibandingkan Sediaan Tetes MataKloramfenikol Menggunakan Dapar Borat Dengan Metode Uji Dipercepat” inimerupakan bagian dari kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu di bidang penelitian.Ucapan terima kasih yang setulusnya penulis sampaikan kepada Prof. Dr. AnasSubarnas,M.Sc., Apt. selaku Dekan Farmasi Universitas Padjadjaran; Drs. SohadiWarya, MS., Apt.; Mutakin, M.Si., Apt. dan Dwi Ayu Larasati, S.Si. yang membantudalam penelitian ini. Juga tidak lupa kepada pihak-pihak lain yang dengan tulus danikhlas telah membantu penelitian ini baik secara langsung maupun tidak langsung.Penulis menyadari, masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki dalamlaporan penelitian ini, baik dari segi penulisan maupun materinya. Namun demikian,sumbangan kritik dan saran penulis terima untuk menyempurnakan penelitianselanjutnya. Semoga laporan penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yangmemerlukan.Jatinangor, Nopember 2006Penulisiii

DAFTAR ISIHalamanABSTRAKiABSTRACTiiKATA PENGANTARiiiDAFTAR ISIivDAFTAR TABELvDAFTAR GAMBARviPENDAHULUAN1TINJAUAN PUSTAKA2TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN6METODE PENELITIAN6HASIL PEMBAHASAN10KESIMPULAN DAN SARAN19DAFTAR PUSTAKA20iv

DAFTAR TABELHalamanTabel 1. Hasil Pengukuran Konsentrasi Larutan Baku Kloramfenikoldalam Dapar Borat dan Dapar Fosfat10Tabel 2. Konsentrasi Kloramfenikol (ppm) dalam Sediaan Tetes Matadengan menggunakan Dapar Borat11Tabel 3. Konsentrasi Kloramfenikol (ppm) dalam Sediaan Tetes Matadengan menggunakan Dapar Fosfat11Tabel 4. Penurunan Kadar Kloramfenikol dalam Sediaan Tetes MataPada Suhu 50oC12Tabel 5. Penurunan Kadar Kloramfenikol dalam Sediaan Tetes MataPada Suhu 60oC13Tabel 6. Penurunan Kadar Kloramfenikol dalam Sediaan Tetes MataPada Suhu 70oC13Tabel 7. Hasil Perhitungan Tetapan Laju Reaksi pada Tiap Suhuv14

DAFTAR GAMBAR/ILUSTRASIHalamanGambar 1. Kurva baku kloramfenikol dengan dapar borat dan dapar fosfat10Gambar 2. Grafik penurunan kadar kloramfenikol dalam sediaan tetes matapada suhu 50oC12Gambar 3. Grafik penurunan kadar kloramfenikol dalam sediaan tetes matapada suhu 60oC13Gambar 4. Grafik penurunan kadar kloramfenikol dalam sediaan tetes matapada suhu 70oC13Gambar 5. Plot Arrhenius tetes mata kloramfenikol menggunakan dapar borat15Gambar 6. Plot Arrhenius tetes mata kloramfenikol menggunakan dapar fosfat15Gambar 7. Kromatogram kloramfenikol dalam dapar borat16Gambar 7. Kromatogram kloramfenikol dalam dapar fosfat17vi

PENDAHULUANMasalah utama dari sediaan obat yang menggunakan pelarut air yaitu adanyakecenderungan molekul obat berinteraksi dengan molekul-molekul air menghasilkanproduk pecahan dari konstitusi kimia yang berbeda yang dikenal sebagai reaksi hidrolisis.Reaksi hidrolisis merupakan salah satu penyebab ketidakstabilan kimia dari sediaan yangmengakibatkan terjadinya degradasi atau kerusakan kimia pada sediaan (Ansel, 1989).Garam dapar pada umumnya digunakan dalam formulasi cairan farmasi untukmengatur pH larutan. Meskipun garam-garam tersebut cenderung mempertahankan pHlarutan pada tingkat tetap, tetapi dapat juga mengkatalisis reaksi hidrolisis sehinggamempercepat terjadinya degradasi sediaan (Lachman, 1994).Tetes mata Kloramfenikol merupakan larutan steril kloramfenikol dalam airmurni, mengandung larutan dapar yang cocok, dapat pula ditambahkan bahan pengawetyang cocok. Tetes mata kloramfenikol mempunyai pH optimal7,0 – 7,5 (BritishPharmacopoeia, 2001). Serbuk kloramfenikol dapat larut dalam 400 bagian air, memilikistabilitas yang sangat baik pada suhu kamar dan kisaran pH yang lebar yaitu 2,0 – 7,0(Connors, 1992).Penyebab utama terjadinya degradasi kloramfenikol dalam media air adalahpemecahan hidrolitik pada lingkaran amida. Berlangsungnya hidrolisis kloramfenikolterkatalisis oleh asam umum yang terdapat pada larutan dapar yang digunakan. Hal inimenyebabkan kloramfenikol peka terhadap katalisis asam-umum, salah satunya adalahion monohidrogen fosfat yang terdapat dalam dapar fosfat. Adanya ion monohidrogenfosfat dapat meningkatkan laju degradasi kloramfenikol (Connors, 1992).Metode uji stabilitas dipercepat telah lama dilakukan, khususnya menggunakanperlakuan termik. Dalam hal ini, peraturan kinetika reaksi dipergunakan, dimanaperuraian dipelajari pada suhu tinggi dan tidak pada suhu kamar, yang selanjutnyadiekstrapolasikan pada suhu penyimpanannya. Sebagai besaran dasar pertama yangditentukan adalah ketergantungan kecepatan peruraian akan konsentrasi, yang keduaadalah ketergantungan kecepatan reaksi akan suhu (Martin, 1990).Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh ion monohidrogenfosfat dalam dapar fosfat terhadap kestabilan sediaan tetes mata kloramfenikolmenggunakan metode uji stabilitas dipercepat.

TINJAUAN PUSTAKAObat tetes mata biasanya dipakai pada mata untuk maksud efek lokal padapengobatan bagian permukaan mata atau pada bagian dalamnya, dimana yang palingsering dipakai adalah larutan dalam air. Karena kapasitas mata untuk menahan ataumenyimpan cairan terbatas, pada umumnya obat mata diberikan pada volume yang kecil.Volume sediaan cair yang lebih besar dapat digunakan untuk menyegarkan atau mencucimata (Ansel, 1989).Volume normal air mata dalam mata adalah 7l. Dimana mata yang tidakberkedip dapat memuat paling banyak 30 l cairan, sedangkan mata yang berkedip hanyadapat menyimpan 10 l cairan. Cairan yang berlebih, baik dari produksi secara normalmaupun yang ditambahkan dari luar, dengan cepat dialirkan ke mata. Ukuran tiap tetesyang dimasukkan ke dalam larutan obat biasanya 50 l (berdasarkan 20 tetes/ml), jaditetesan yang dimasukkan kebanyakan akan hilang. Volume yang ideal dari larutan obatuntuk dipakai, berdasarkan kapasitas mata yaitu 5-10 l. Karena dosis mikroliter daripenetes mata biasanya tidak ada atau tidak dipakai oleh pasien, hilangnya obat yangdimasukkan penetes mata standar merupakan hal yang biasa. Jika diinginkan terapidengan tetesan beberapa kali, dianjurkan pemberiannya diulang setiap 5 menit. Hal inimemungkinkan penumpukan obat di sudut, sedangkan kehilangan melalui pengalirankecil. Kadang-kadang pemakaian larutan untuk mata dengan konsentrasi obat lebih besardapat digantikan untuk pengobatan dengan tetesan yang berulang kali dari larutan yanglebih encer (Ansel, 1989).Jadi, dosis efektif dari pengobatan yang dilaksanakan pada mata dapat berbedabeda dengan kekuatan obat yang diberikan; volume yang dipakai, lamanya pengobatanyang berhubungan dengan permukaan mata dan frekuensi pemberian (Ansel, 1989).Defenisi resmi larutan untuk mata adalah larutan steril yang dicampur dandikemas untuk dimasukkan ke dalam mata. Selain steril, preparat tersebut memerlukanpertimbangan yang cermat terhadap faktor-faktor farmasi seperti kebutuhan bahanantimikroba, isotonisitas, dapar, viskositas dan pengemasan yang cocok (Ansel, 1989).Dapar mungkin digunakan dalam suatu larutan mata karena salah satu atau semuaalasan berikut ini : (1) untuk mengurangi ketidaknyamanan si pasien, (2) untuk menjaminkestabilan obat, dan (3) untuk mengawasi aktivitas terapeutik bahan obat (Ansel, 1989).

Air mata mempunyai pH normal 7,4 dan memiliki suatu kemampuan dapar.Pemakaian suatu larutan yang mengandung obat mata merangsang aliran air mata yangmencoba menetralkan setiap kelebihan ion hidrogen atau hidroksil yang dikenakan padamata bersama larutan (Ansel, 1989).Daerah toleransi pH yang tidak merusak mata ternyata tidak sama untuk beberapaliteratur. Pada pemakaian tetesan biasa yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan denganharga pH 7,3 – 9,7. Daerah pH 5,5 – 11,4 masih dapat diterima (Voigt, 1994).Penyeimbangan pH pada umumnya dilakukan dengan larutan dapar isotonis. USPmenyediakan formula-formula untuk pembuatan larutan dapar yang sesuai untuk dipakaioleh obat-obat tertentu, termasuk larutan dapar berikut :-Dapar Borat. pH dapar ini sedikit di bawah 5,0; dibuat dengan cara melarutkan 1,9gram asam borat kedalam air yang cukup untuk untuk mendapatkan 100 ml. Dapar inicocok untuk garam yang dapat larut dalam air dari obat berikut: benoksinat, kokain,dibukain, fenilefrin, pilokarpin, piperokain, prokain, proparakain, tetrakain, dan seng(Ansel, 1989).-Dapar Fosfat Isotonis. Dapar ini disesuaikan untuk tonisitas dan memberikan suatupH pilihan berkisar antara 5,9-8,0. Dibuat dengan menggunakan dua larutanpersediaan, satu mengandung 8,00 gram mononatrium difosfat (NaH2PO4) per literdan lainnya mengandung 9,47 gram dinatrium monofosfat (Na2HPO4) per liter,sedangkan beratnya sebagai anhidrida (Ansel, 1989).Salah satu aktivitas yang paling penting dalam kerja preformulasi adalah evaluasikestabilan fisika dan kimia dari zat obat murni. Secara kimia, zat obat adalah alkohol,fenol, aldehid, keton, ester-ester, asam-asam, garam-garam, alkaloid, glikosida dan lainlain, masing-masing dengan gugus kimia relatif yang mempunyai kecenderungan kimiaberbeda terhadap kestabilan kimia (Ansel, 1989).Salah satu proses kerusakan yang paling sering terjadi dan dapat menyebabkanketidakstabilan kimia adalah reaksi hidrolisis. Hidrolisis merupakan suatu prosessolvolisis dimana molekul obat berinteraksi dengan molekul-molekul air menghasilkansuatu produk pecahan dari konstitusi kimia yang berbeda (Ansel, 1989).Proses hidrolisis kemungkinan besar merupakan proses tunggal yang palingpenting karena peruraian obat terutama karena sejumlah besar obat adalah ester-ester

yang mengandung gugus lain seperti amida tersubtitusi, lakton, dan laktam, yang rentanterhadap proses hidrolisis (Ansel, 1989).Ada beberapa pendekatan untuk menstabilkan preparat-preparat farmasi yangmengandung obat-obat yang cenderung mengurai dengan hidrolisis. Peruraian denganhidrolisis dapat dicegah untuk obat-obat yang diberikan dalam bentuk cairan denganmensuspensikannya dalam suatu pembawa bukan air. Penyimpanan pada lemaripendingin dianjurkan untuk beberapa preparat yang tidak stabil karena penyebabhidrolisis (Ansel, 1989).Bersama-sama dengan temperatur, pH merupakan suatu penentu utama dalamkestabilan obat yang cenderung mengalami peruraian hidrolisis. Hidrolisis darikebanyakan obat tergantung pada konsentrasi relatif dari ion hidroksil dan ion hidronium,dan pH dimana masing-masing obat stabil secara optimal dapat dengan mudahditentukan. Untuk kebanyakan obat-obat yang dapat dihidrolisis pH kestabilan optimaladalah pada sisi asam, pada pH antara 5 dan 6. Oleh karena itu, melalui penggunaan zatpendapar yang tepat, kestabilan senyawa-senyawa yang tidak stabil dapat ditingkatkan(Ansel, 1989).Ketidakstabilan formulasi obat dapat dideteksi dalam beberapa hal dengan suatuperubahan dalam penampilan fisik, warna, bau, rasa, dan tekstur dari formulasi tersebut,sedangkan dalam hal lain, perubahan kimia yang terjadi tidak dapat terlihat langsung dariperubahan fisik, tetapi harus melalui analisis kimia (Ansel, 1989).Data ilmiah yang menyinggung kestabilan dari suatu formulasi menghasilkanramalan shelf-life yang diharapkan dari produk yang diteliti tersebut, dan bila perlu untukmerancang kembali obat tersebut (misalnya menjadi bentuk ester atau garam yang lebihstabil) dan untuk formulasi kembali bentuk sediaan tersebut. Jelaslah laju dan kecepatanterjadinya degradasi obat dalam suatu formulasi merupakan hal yang sangat penting.Pengkajian laju perubahan kimia dan cara di mana zat tersebut dipengaruhi oleh faktorfaktor seperti konsentrasi obat atau reaktan, pelarut yang digunakan, kondisi temperaturdan tekanan, dan adanya zat-zat kimia lain, dalam formulasi tersebut disebut reaksikinetika (Ansel, 1989).Umumnya suatu pengkajian kinetis mulai dengan mengukur konsentrasi obatyang diuji pada selang waktu tertentu pada suatu rangkaian kondisi spesifik termasuk

temperatur, pH, kekuatan ion, intensitas cahaya, dan konsentrasi obat. Pengukurankonsentrasi obat pada berbagai selang waktu memperlihatkan kestabilan atauketidakstabilan dari obat tersebut yang dicirikan dengan berlalunya waktu (Ansel, 1989).Data yang dikumpulkan dapat diutarakan secara grafik, dengan memplotkonsentrasi obat terhadap waktu. Dari data eksperimen, laju reaksi dapat ditentukan dansuatu konstanta laju dihitung. Konstanta laju tersebut menggambarkan laju pada saat obatmengurai pada kondisi eksperimen (Ansel, 1989).Data tersebut juga dapat digunakan dalam penentuan waktu paruh obat secaraeksperimen. Waktu paruh obat didefenisikan sebagai waktu yang dibutuhkan obattersebut untuk mengurai menjadi separuh dari konsentrasi aslinya (Ansel, 1989).Kloramfenikol merupakan suatu antibiotik spektrum luas yang berasal daribeberapa jenis Streptomyces misalnya S. venezuelae, S. phaeochromogenes var.chloromyceticus, dan S.omiyamensis. Setelah para ahli berhasil mengelusidasistrukturnya, maka sejak tahun 1950, kloramfenikol sudah dapat disintesis secara total. S.venezuelae pertama kali diisolasi oleh Burkholder pada tahun 1947 dari contoh tanahyang diambil dari Venezuela. Filtrat kultur cair organisme menunjukkan aktivitasterhadap beberapa bakteri Gram negatif dan riketsia. Bentuk kristal antibiotik ini diisolasioleh Bartz pada tahun 1948 dan dinamakan kloromisetin karena adanya ion klorida dandidapat dari aktinomisetes.Kloramfenikol mempunyai rumus kimia yang cukup sederhana yaitu Gambar 2.1 Struktur kloramfenikolAntibiotik ini bersifat unik diantara senyawa alam karena adanya gugusnitrobenzen dan antibiotik ini merupakan turunan asam dikloroasetat. Bentuk yang aktifsecara biologis yaitu bentuk levonya. Zat ini larut sedikit dalam air (1:400) dan relatifstabil. Kloramfenikol diinaktivasi oleh enzim yang ada dalam bakteri tertentu. Disiniterjadi reduksi gugus nitro dan hidrolisis ikatan amida; juga terjadi asetilasi.

Berbagai turunan kloramfenikol berhasil disintesis akan tetapi tidak ada senyawayang khasiatnya melampaui khasiat kloramfenikol.Kloramfenikol adalah salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui palingstabil dalam segala pemakaian. Kloramfenikol memiliki stabilitas yang sangat baik padasuhu kamar dan kisaran pH 2 sampai 7, stabilitas maksimumnya dicapai pada pH 6. Padasuhu 25oC dan pH 6, memiliki waktu paruh hampir 3 tahun. Yang menjadi penyebabutama terjadinya degradasi kloramfenikol dalam media air adalah pemecahan hidrolitikpada lingkaran amida. Laju reaksinya berlangsung di bawah orde pertama dan tidaktergantung pada kekuatan ionik media (Connors, 1992).Berlangsungnya hidrolisis kloramfenikol terkatalisis asam umum/basa umum,tetapi pada kisaran pH 2 sampai 7, laju reaksinya tidak tergantung pH. Spesiespengkatalisasi adalah asam umum atau basa umum yang terdapat pada larutan dapar yangdigunakan; khususnya pada ion monohidrogen fosfat, asam asetat tidak terdisosiasi, sertaion asam monohidrogen dan dihidrogen sitrat dapat mengkatalisis proses degradasi. Dibawah pH 2, hidrolisis terkatalisis ion hidrogen spesifik memegang peranan besar padaterjadinya degradasi kloramfenikol. Obat ini sangat tidak stabil dalam suasana basa, danreaksinya terlihat terkatalisis baik asam maupun basa spesifik (Connors, 1992).Jalur utama degradasi kloramfenikol adalah hidrolisis ikatan amida, membentukamida yang sesuai dan asam dikloroasetat. H2O CHCl 2COOHGambar 2.2 Reaksi hidrolisis kloramfenikolDegradasi kloramfenikol lewat dehalogenasi tidak menjadi bagian yang berperandalam gambaran degradasi total, setidaknya di bawah pH 7. (Connors, 1992).Laju degradasi tergantung secara linier pada konsentrasi dapar, spesies daparberaksi sebagai asam umum dan basa umum. Laju hidrolisis kloramfenikol tidaktergantung kekuatan ionik, dan tidak terpengaruh oleh konsentrasi ion dihidrogen fosfat,dengan demikian aktivitas katalisisnya dianggap berasal dari aksi ion monohidrogenfosfat sebagai katalisis basa umum. (Connors, 1992).

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIANPenelitian bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh penggunaandapar fosfat terhadap kadar kloramfenikol dalam sediaan tetes mata dan untukmengetahui batas umur simpan sediaan tetes mata kloramfenikol yang menggunakandapar fosfat dibandingkan dengan sediaan tetes mata kloramfenikol yang menggunakandapar borat.Penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pengaruh katalisisasam/basa-umum yang terdapat dalam dapar fosfat dan dapar borat terhadap kadarkloramfenikol dalam sediaan tetes mata sehingga dapat menjadi bahan pertimbangandalam pemilihan bahan-bahan pendapar.METODE PENELITIANBahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kloramfenikol base lkoniumklorida(CendoPharmaceutical), Natrium dihidrogenfosfat, Dinatrium hidrogenfosfat, Natrium klorida,Air untuk injeksi, Metanol (sebagai fasa gerak).Alat-alat yang digunakan adalah, Oven (Memmert), pH-Meter (Metohm),Sonikator, Instrumen Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (Shimadzu ), Bakteri Filter,Syringe, Alat-alat gelas yang biasa digunakan di Laboratorium Teknologi dan FormulasiSediaan Steril.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode uji dipercepat denganlangkah kerja sebagai berikut :1. Sterilisasi alat dan bahan-Alat-alat yang digunakan disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 1210 C selama 15menit-Bahan yang digunakan, kecuali kloramfenikol, disterilkan dalam autoklaf dengansuhu 1210 C selama 15 menit

2. Pembuatan Sediaana. Pembuatan Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol 0,5 % dengan MenggunakanDapar BoratBerdasarkan Formularium Nasional tahun 1978, obat tetes matakloramfenikol mengandung kloramfenikol 50 mg, asam borat 150 mg, natriumtetraborat 30 mg, phenyl hidragiri nitras 200 g.Pembuatan obat tetes mata kloramfenikol berdasarkan pada formula yangada di Formularium Nasional 1978 dengan perubahan pada penggunaan pengawetyaitu menggunakan benzalkonium klorida 0,01 %.Kloramfenikol dilarutkan ke dalam cairan pembawa yang mengandungBenzalkonium Cl dan dapar borat dan dimasukkan kedalam wadah secara aseptisdengan disaring menggunakan bakteri filter (sterilisasi C).b. Pembuatan Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol 0,5 % dengan MenggunakanDapar FosfatPembuatan obat tetes mata kloramfenikol berdasarkan pada formula yangada di Formularium Nasional 1978 dengan perubahan pada penggunaan pengawetyaitu menggunakan benzalkonium klorida 0,01 % dan perubahan padapenggunaan dapar yaitu dapar fosfat isotonis sesuai dengan Farmakope Indonesiaedisi III tahun 1979 yang terdiri dari diNatrium monohidrogen fosfat sebanyak56.82 mg, Natrium dihidrogen fosfat sebanyak 32 mg dan natrium kloridasebanyak 46 mg.Kloramfenikol dilarutkan ke dalam cairan pembawa yang mengandungBenzalkonium Cl dan dapar fosfat isotonis dan dimasukkan kedalam wadahsecara aseptis dengan disaring menggunakan bakteri filter (sterilisasi C).3. Pengujian Stabilitas Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol Menggunakan VariasiSuhu yang Dinaikkan dengan Uji Dipercepat.Sediaan yang akan diuji diencerkan sehingga konsentrasinya menjadi 20 ppm, lalu dimasukkan ke dalam wadah inert yang tertutup kedap. Jumlah sampeldisesuaikan dengan jumlah titik pengambilan sampel dan replikasi penentuan kadar.

Setelah dimasukkan ke dalam oven selama 15 menit, kemudian dilakukan penentuankonsentrasi awal (C0).Sampel yang telah disiapkan, dimasukkan ke dalam oven pada masingmasing suhu yaitu 50oC, 60oC, 70oC. Pada waktu-waktu tertentu diambil masingmasing 2 wadah dari tiap suhu, lalu didinginkan pada lemari es untuk menghentikanpenguraian.Sampel kemudian disiapkan untuk penentuan kadar yang tersisa menggunakaninstrumen KCKT.Konsentrasi yang diperoleh kemudian diplot terhadap waktu sehinggadiperoleh nilai k (konstanta laju reaksi) untuk penguraian obat dalam larutan padatiap suhu yang dinaikkan. Logaritma laju penguraian spesifik kemudian diplotterhadap kebalikandari temperatur mutlak, dan hasilnya berupa garis lurusdiekstrapolasi sampai temperatur ruang k25o digunakan untuk memperolehpengukuran kestabilan obat pada kondisi penyimpanan biasa.4. Penetapan Kadar Menggunakan Instrumen Kromatografi Cair Kinerja Tinggi.Konsentrasi kloramfenikol yang tersisa dalam sampel diukur denganinstrumen Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) menggunakan kolom C-18, fasagerak metanol : air (60:40), laju alir 0,7 ml/menit, dan panjang gelombang deteksi279 nm.Larutan baku untuk menentukan kurva baku dibuat dalam beberapakonsentrasi yaitu 1, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 ppm. Larutan baku dan larutan sampelkemudian disaring melalui penyaring dengan porositas 0,45 m dan digunakan filtratyang jernih. Filtrat dimasukkan kedalam vial KCKT, dan disuntikkan secara terpisahmasing-masing sejumlah volume yang sama (20muncul direkam dan diukur dalam kromatograf.l). Respon puncak utama yang

HASIL PEMBAHASAN1. Kurva BakuHasil pengukuran konsentrasi larutan baku kloramfenikol dalam dapar boratdan dapar fosfat (Tabel 1) menggunakan instrumen KCKT menghasilkan suatu kurvabaku seperti yang terlihat pada Gambar 1 di bawah ini.Tabel 1Hasil Pengukuran Konsentrasi Larutan Baku Kloramfenikol dalam DaparBorat dan Dapar 000006000004000002000000Luas AreaDapar BoratDapar 1189516000001400000y 46740x 23058R2 0.997912000001000000800000600000y 49564x - 740.44R2 0.9985400000Luas Area FosfatLuas Area BoratPpmDapar BoratDapar FosfatLinear (Dapar Borat)Linear (Dapar Fosfat)200000015 10 15 20 25Konsentrasi (ppm)30Gambar 1 Kurva baku kloramfenikol dengan dapar borat dan dapar fosfat

2. Hasil Penetapan KadarHasil penetapan konsentrasi kloramfenikol yang tersisa dalam sediaantetes mata kloramfenikol yang telah disimpan pada beberapa suhu selama waktutertentu ditunjukkan dalam Tabel 2 dan Tabel 3 sebagai berikut :Tabel 2 Konsentrasi Kloramfenikol (ppm) dalam Sediaan Tetes Mata denganmenggunakan Dapar Borat.to( C)Waktu Sampling ------Keterangan : Tanda (-) tidak dilakukan pengambilan sampelTabel 3 Konsentrasi Kloramfenikol (ppm) dalam Sediaan Tetes Mata denganmenggunakan Dapar Fosfat.t (oC)Waktu Sampling 2Keterangan : Tanda (-) tidak dilakukan pengambilan sampelDari Tabel 2 dan 3 di atas, terlihat bahwa laju penurunan konsentrasikloramfenikol dalam sediaan tetes mata yang menggunakan dapar fosfat lebih cepatdibandingkan dengan sediaan tetes mata yang menggunakan dapar borat. Hal inidapat dilihat dari konsentrasi kloramfenikol yang menggunakan dapar borat padapenyimpanan suhu 50oC, berkurang dari 19.6822 ppm menjadi 5.8178 ppm dalamwaktu 22 hari, sedangkan konsentrasi kloramfenikol yang menggunakan dapar fosfatpada suhu yang sama, berkurang dari 20.7077 ppm menjadi 2.2142 ppm hanya dalamwaktu 16 hari.Hal serupa ditunjukkan pada penyimpanan suhu 60oC dan 70oC, dimanakonsentrasi kloramfenikol yang menggunakan dapar borat pada penyimpanan suhu60oC, berkurang dari 21.0831 ppm menjadi 5.8411 ppm dalam waktu 8 hari; padasuhu 70oC, konsentrasi kloramfenikol berkurang dari 20.9733 ppm menjadi 4.0674

ppm dalam waktu 4 hari. Sedangkan, konsentrasi kloramfenikol yang menggunakandapar fosfat pada suhu 60oC berkurang dari 22.7345 ppm menjadi 4.9981 ppm dalamwaktu 5 hari dan pada suhu 70oC, konsentrasi kloramfenikol berkurang dari 20.1136ppm menjadi 0.1636 ppm dalam waktu 6 hari.Pengambilan sampel hanya dilakukan hingga kadar kloramfenikol tersisakurang dari 30% karena kloramfenikol yang terdegradasi lebih dari 70% diasumsikanbahwa sediaan tersebut sudah tidak stabil.3. Hasil Perhitungan Persentase Penurunan Kadar Kloramfenikol dalam SediaanTetes Mata.Dari Tabel 2 dan 3 di atas, dihitung persentase penurunan kadarkloramfenikol dalam sediaan tetes mata yang menggunakan dapar borat dibandingkandengan sediaan tetes mata yang menggunakan dapar fosfat pada masing-masing suhupengujian, yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4, 5, dan 6, serta Gambar 2, 3, dan4 di bawah ini.Tabel 4 Penurunan Kadar Kloramfenikol dalam Sediaan Tetes Mata Pada Suhu 50oC.DaparWaktu Penyimpanan 2.24%40.66%10.69%---Keterangan : Tanda (-) tidak dilakukan pengambilan sampel120%Kadar 6182022Wa ktu Penyimpanan (hari)Gambar 2 Grafik penurunan kadar kloramfenikol dalam sediaantetes mata pada suhu 50oC.

Tabel 5 Penurunan Kadar Kloramfenikol dalam Sediaan Tetes Mata Pada Suhu 60oCDaparWaktu Penyimpanan 1.21%21.98%---Keterangan : Tanda (-) tidak dilakukan pengambilan sampelKadar 4567810 12 16 18 20 22Waktu Penyimpanan (hari)Gambar 3 Grafik penurunan kadar kloramfenikol dalam sediaantetes mata pada suhu 60oC.Tabel 6 Penurunan Kadar Kloramfenikol dalam Sediaan Tetes Mata Pada Suhu 70oC.DaparWaktu Penyimpanan 100%86.54%39.96%0.81%-Keterangan : Tanda (-) tidak dilakukan pengambilan sampelKadar 4567810 12 18 20 22Waktu Penyimpanan (hari)Gambar 4 Grafik penurunan kadar kloramfenikol dalam sediaantetes mata pada suhu 70oC

Dari Tabel 4, 5, dan 6, serta Gambar 2, 3, dan 4, terlihat bahwa terdapatperbedaan penurunan kadar kloramfenikol dalam sediaan tetes mata menggunakandapar borat dibandingkan dengan menggunakan dapar fosfat. Pada penggunaan daparborat, reaksi penguraian kloramfenikol merupakan reaksi orde pertama, dimana lajureaksi hanya berdasarkan pada satu reaktan saja. Hal ini dapat diketahui dari plot logkadar terhadap waktu menghasilkan slop yang lurus. Sedangkan pada penggunaandapar fosfat, reaksi penguraian berubah menjadi reaksi orde nol, dimana laju reaksitidak tergantung pada konsentrasi reaktan tetapi dipengaruhi oleh adanya faktor lainseperti katalis, dalam hal ini disebabkan karena adanya ion monohidrogen fosfatdalam dapar fosfat yang bertindak sebagai katalis, sehingga laju penguraiannyadipengaruhi oleh katalis tersebut. Hal ini dapat diketahui dari plot kadar terhadapwaktu akan menghasilkan slop yang lurus.4. Hasil Perhitungan Tetapan Laju Reaksi, Waktu Paruh, dan Batas Umur SimpanSediaan Tetes Mata Kloramfenikol.Berdasarkan data pada Tabel 2 dan 3 di atas, dapat ditentukan tetapan lajureaksi, k , dari tiap-tiap suhu yang dinaikkan yang kemudian dapat dibuat plotArrhenius untuk menentukan tetapan laju reaksi pada suhu kamar sehingga dapatdiketahui waktu paruh dan batas umur simpan dari sediaan tetes mata kloramfenikol.Hasil perhitungan tetapan laju reaksi terlihat pada Tabel 7 di bawah ini.Tabel 7 Hasil Perhitungan Tetapan Laju Reaksi pada Tiap SuhuoSuhu( C)Jenis 9954.02835700.4278278498.6217Dari Tabel 7 di atas, terlihat bahwa laju reaksi semakin meningkat seiringdengan meningkatnya suhu. Semakin tinggi suhu penyimpanan, maka laju reaksinyajuga akan semakin cepat (tetapan laju reaksi semakin besar). Pada Tabel 4.7 jugaterlihat bahwa tetes mata yang menggunakan dapar borat lebih lambat laju reaksinyadaripada tetes mata kloramfenikol yang menggunakan dapar fosfat. Hal ini

menunjukkan bahwa tetes mata kloramfenikol yang menggunakan dapar borat lebihstabil daripada tetes mata kloramfenikol yang menggunakan dapar fosfat.Setelah diketahui tetapan laju reaksi pada tiap suhu, maka dapat dibuatplot Arrhenius dari tiap penggunaan dapar sehingga diperoleh tetapan laju reaksi padasuhu kamar, seperti yang terlihat pada Gambar 5 dan Gambar 6 di bawah ini.00.0029-0.20.002950.0030.003050.00310.00315Ea 22761.5 kal/mol-0.4log KSlope -4974k25 3.034774069.10-3 /hari-0.6t1/2 249.52 hari 8.3 bulan-0.8t90 37.8 hari 1.26 bulan-1y -4974x 14.143R2 0.9986-1.2-1.41/TGambar 5 Plot Arrhenius tetes mata kloramfenikol menggunakan dapar borat1.2Slope -4441.7Ea 20325.7 kal/mol1k25 0.100124001log k0.8t1/2 99.88 hari 3.33 bulan0.60.40.2t90 19.98 hari 0

- Dapar Fosfat Isotonis. Dapar ini disesuaikan untuk tonisitas dan memberikan suatu pH pilihan berkisar antara 5,9-8,0. Dibuat dengan menggunakan dua larutan persediaan, satu mengandung 8,00 gram mononatrium difosfat (NaH 2PO 4) per liter dan lainnya mengandung 9,47 gram dinatrium monofosfat (Na 2HPO 4) per liter,