Transcription

View metadata, citation and similar papers at core.ac.ukbrought to you byCOREprovided by Direktori Jurnal Elektronik Universitas Imelda MedanJurnal Ilmiah Keperawatan ImeldaVol. 4, No. 1, Maret PERAWATANe-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108UPAYA PENCEGAHAN INFEKSI SALURAN KEMIH OLEHPERAWAT PADA PASIEN TERPASANGNYA KATETERDI RUMAH SAKIT UMUM IMELDA PEKERJA INDONESIAMEDANEdisyah Putra RitongaDosen Prodi S1Keperawatan, STIKes Imelda, Jalan Bilal Nomor 52 MedanE-mail: [email protected] saluaran kemih merupakan penyakit yang paling banyak ditemukan di tempat pelanyanankesehatan. Sebagian besar infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri tetapi virus dan jamur jugadapat menjadi penyebabnya. Infeksi bakteri sering diakibatkan Escherichia coli. Tujuan penelitian iniadalah mengetahui upanya pencengahan infeksi saluran kemih oleh perawat pada pasien terpasangnyakateter di RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan. Jenis penelitan ini adalah penelitian kuantitatif dengandesain deskritif observasioanal dan jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 39 orang. Berdasarakanpenelitian yang telah dilakukan bahwa mayoritas jenis kelamin responden adalah perempuan yaitusebanyak 26 responden (66,7%) dan minoritas jenis kelamin responden adalah laki-laki yaitu sebayak 13responden (33,3%). Mayoritas umur responden adalah berumur 20-24 tahun yaitu sebanyak 18responden (46,2%) dan minoritas umur responden adalah berumur 36 tahun yaitu sebayak 4 responden(10,2%), mayoritas lama bekerja responden adalah 0-4 tahun yaitu sebanyak 29 responden (74,4%) danminoritas lama bekerja responden adalah 10 tahun yaitu sebayak 4 responden (10,3%). Mayoritaspendidikan responden adalah D-III yaitu sebanyak 33 responden (84,7%) dan minoritas pendidikanresponden adalah S-I Keperawatan yaitu sebayak 6 responden (15,3%). Berdasarkan dari hasilpenelitian yang telah dilakukan dengan memberikan quisioner kepada perawat ditemukan bahwamayoritas upaya pencegahan infeksi saluran kemih yang dilakukan oleh perawat pada pasien terpasangkateter adalah baik yaitu sebanyak 29 responden (74,3%) dan minoritas upaya pencegahan infeksisaluran kemih yang dilakukan adalah kurang baik yaitu sebanyak 10 responden (25,7%). Bagi pihakRumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan diharapkan agar lebih meningkatkan kepatuhandalam melakukan perawatan kateter urine dalam pencegahan infeksi saluran kemih.Kata kunci : Infeksi Saluran Kemih, KateterPENDAHULUANInfeksi saluaran kemih merupakanpenyakit yang paling banyak ditemukan ditempat pelanyanan kesehatan. Infeksisaluaran kemih (ISK) adalah infeksi salurankemih yang disertai dengan kolonisas bakteridi dalam urine (bakteriuria). Bakteriuriamerupakanindikatorutamainfeksi saluran kemih. Keberadaan bakteriuria yang mejadi indikasi infeksi saluran kemihyaitu pertumbuhan bakteri murni sebanyak100.00 Colony forming units (cfu/mL) ataulebihpadaperkembangbiakanurine.Penderita yang mengalami bakteriuriaterkadang tanpa disertai tanda dan gejalaklinis (asimtomatik) atau dapat disertai tandadan gejala klinis (simtomatik) (Hooton et al,2010).Infeksi saluran kemih (ISK) merupakaninfeksi dengan keterlibatan bakteri terseringdi komunitas dan hampir 10% orang pernahterkena ISK selama hidupnya. Sekitar 150juta penduduk di seluruh dunia tiap tahunnyaterdiagnosis menderita infeksi saluran kemih.Prevalensinya sangat bervariasi berdasar padaumur dan jenis kelamin, dimana infeksi inilebih sering terjadi pada wanita dibandingkandengan pria yang oleh karena perbedaananatomis antara keduanya (Rajabnia, 2012).Menurut WHO dalam (2013). Infeksi salurankemih (ISK) adalah penyakit infeksi yangkedua tersering pada tubuh sesudah infeksisaluran pernafasan dan sebanyak 8,3 jutakasus dilaporkan per tahun.Kejadian infeksi saluran kemih seringterjadi pada pasien yang terpasangnya dowerkateter di rumah sakit. Diketahui bahwaThis work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.62

Jurnal Ilmiah Keperawatan ImeldaVol. 4, No. 1, Maret PERAWATANpemasangan dower kateter merupakan salahsatu saranan masuknya agent ataumikroorganisme dalam tubuh. Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi infeksi salurankemihdapatdiubahuntukmeminimalkan adalah prosedur pemasangan,lama pemasangan dan kaulitas pemasangankateter (Schaffer, 2000). Penggunaan kateterurin menyebabkan besarnya kejadian infeksiyang menghasilkan komplikasi infeksi dankematian (Samad, 2013). Upanya penururnanangka bakteriuria pada pasien yangmenggunakan kateter urine indwelling telahmenjadi isu patient safety yang harusdijtunjukkan pada semua rumah sakit. Salahsatunya mengiplementasikan metode praktekyang baik untuk mengurangi kejadianbakteruria (Buchman & Stinnett, 2011).Upanya pencengahan infeksi salurankemih pada pasien pemasangan kateterdengan melakukan perawatan kateter dengancara membersihkan daerah sekitar kateteryang masuk kedalam orifisium uretra dengansabundansaatmemandikanataumembersihkan kotoran pasien, hindaripenggunaan bedak dan spray pada daerahparineal, jangan menarik kateter saatpembersihan.METODEJenis penelitian dan desain penelitianJenis penelitan ini adalah ioanal yang bertujuan untukmengetahui upaya pencengahan infeksisaluran kemih pada pasien terpasangnyakateter di Ruang Rawat Inap Rumah sakitumum Imelda pekerja Indonesia Medan.Populasi dan sampelPopulasi dalam penelitian ini adalahseluruh perawat yang berada di ruang rawatinap Rumah Sakit Umum Imelda PekerjaIndonesia Medan yang berjumlah 120 orangperawat. Sampel dalam penelitian ini adalahseluruh populasi yang di ambil dengan tehnikrandom sampling sistematis berkelipatan 3berjumlah 39 responden.e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108Analisa dataRancangan analisa data hasil penelitiandiformulasikan dengan menempuh langkahlangkah sebagai berikut: Editing, Coding,Sorting, Entry Data, dan Cleaning.HASILSetelah dilakukan penelitian upayapencegahan infeksi saluran kemih olehperawat pada pasien terpasangya kateterterhadap 39 responden, maka disajikandalam tabel berikut ini:Tabel 1. Distribusi Frekuensi RespondenBerdasarkan Jenis 6,733,3Total39100Berdasarkan tabel diatas dapat dilihatbahwa mayoritas jenis kelamin respondenadalah perempuan yaitu sebanyak 26responden (66,7%) dan minoritas jeniskelamin responden adalah laki-laki yaitusebayak 13 responden (33,3%).Tabel 2. Distribusi Frekuensi RespondenBerdasarkan UmurNo1234Umur(Tahun)20-2425-3031-35 36f(%)18116446,228,315,310,2Total39100Berdasarakan diatas dapat dilihat bahwamayoritas umur responden adalah berumur20-24 tahun yaitu sebanyak 18 responden(46,2%) dan minoritas umur respondenadalah berumur 36 tahun yaitu sebayak 4responden (10,2%).This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.63

Jurnal Ilmiah Keperawatan ImeldaVol. 4, No. 1, Maret PERAWATANTabel 3. Distribusi Frekuensi RespondenBerdasarkan Lama KerjaNoLama Kerjaf(%)1230-4 tahun5-9 tahun 10 tahun296474,415,310,3Total39100Berdasarkan tabel 3 diatas dapat dilihatbahwa mayoritas lama bekerja respondenadalah 0-4 tahun yaitu sebanyak 29responden (74,4%) dan minoritas lamabekerja responden adalah 10 tahun yaitusebayak 4 responden (10,3%).Tabel 4. Upaya Pencegahan Infeksi SaluranKemihNo12Pelaksanaanf(%)BaikKurang Baik291074,325,7Total39100Berdasarkan tabel diatas dapat dilihatbahwa mayoritas upaya pencegahan infeksisaluran kemih yang dilakukan adalah baikyaitu sebanyak 29 responden (74,3%) danminoritas upaya pencegahan infeksi salurankemih yang dilakukan adalah kurang baikyaitu sebanyak 10 responden (25,7%).PEMBAHASANBerdasarakan penelitian yang telahdilakukan bahwa mayoritas jenis kelaminresponden adalah perempuan yaitu sebanyak26 responden (66,7%) dan minoritas jeniskelamin responden adalah laki-laki yaitusebayak 13 responden (33,3%). Mayoritasumur responden adalah berumur 20-24 tahunyaitu sebanyak 18 responden (46,2%) danminoritas umur responden adalah berumur 36 tahun yaitu sebayak 4 responden(10,2%), mayoritas lama bekerja respondenadalah 0-4 tahun yaitu sebanyak 29responden (74,4%) dan minoritas lamabekerja responden adalah 10 tahun yaitusebayak 4 responden (10,3%).Berdasarkan dari hasil penelitian yangtelahdilakukandenganmemberikanquisioner kepada perawat ditemukan bahwae-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108mayoritas upaya pencegahan infeksi salurankemih yang dilakukan oleh perawat padapasien terpasang kateter adalah baik yaitusebanyak 29 responden (74,3%) danminoritas upaya pencegahan infeksi salurankemih yang dilakukan adalah kurang baikyaitu sebanyak 10 responden (25,7%).Infeksi saluran kemih merupakan jenisinfeksi nosokomial yang sering terjadidirumah sakit, sejumlah 40% infeksinosokomial adalah ISK dan 80% ISK terjadisetelah terpasang kateterisasi, untuk menekankejadian infeksi nosokomial saluran kemihperlu adanya peningkatan kualitas perawatankateter dan perineal hygiene. Oleh karena itudiperlukan peran perawat dalam pelaksanaanperineal hygiene pada pasien yang terpasangkateter, terlebih peran perawat sebagaipemberi asuhan keperawatan, edukator danadvokat. Perawat yang bertugas di ruangrawat inap khususnya pada pasien terpasangkateter hendaknya meningkatkan pelayanankeperawatan dengan lebih baik, harusmemperhatikan kondisi pasien dan risikoyang dapat ditimbulkan kepada pasienapabila perawat tidak melakukan perawatankateter dengan baik.Rumah sakit mengupayakan peningkatanpelayanan kesehatan yang berfokus padapemenuhan kebutuhan dasar pasien menjadidasar utama untuk meningkatan kepuasanpasien. Rumah sakit melakukan survey rutinmengenai tingkat kepuasan pasien di semuabangsal untuk mengetahui bentuk pelayananyang diharapkan pasien yang terpasangkateterkhususnyapadapemenuhankebutuhan personal hygiene. Kualitasperawatan kateter merupakan tingkatpemberian pelayanan keperawatan berupaperawatan kateter sesuai standar operasionalperawatan kateter dengan mengacu padastandar pelayanan profesi keperawatan.Perawatan kateter pada pasien-pasienterpasang kateter dower mutlak dilakukanuntuk meminimalkan dampak yang tidakdiinginkanberupaterjadinyainfeksinosokomial saluran kemih.Kualitas perawatan kateter didasarkanpada pemberian perawatan kateter yangdilakukan oleh perawat yang meliputi standarThis work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.64

Jurnal Ilmiah Keperawatan ImeldaVol. 4, No. 1, Maret PERAWATANoperasional perawatan kateter dan prosedurpencegahan infeksi saluran kemih. Untukmenilai kedua unsur tersebut, penelitimelakukan observasi pada perawat dalammelakukan perawatan kateter serta mengkajikeadaan pasien yang terpasang kateter setelahdilakukan tindakan perawatan kateter.Observasi dilakukan selama pasien mulaiterpasang dower kateter sampai dilepas atauhari kesepuluh. Hal ini dilakukan karenakejadian infeksi nosokomial terjadi setelahpasien dirawat minimal 3x24 jam.Hasil penelitian yang dilakukan kasmaddi RS Roemani didapatkan perbandinganyang cukup mencolok terhadap hubunganantara perbedaan kualitas perawatan kateterdengan dengan angka kejadian infeksinosokomial saluran kemih. Kualitas yangkurang angka kejadian infeksinya lebih tinggiyaitu sekitar 83,3% atau dari 6 respondenterdapat 5 yang terjadi dan 1 tidak terjadiinfeksi saluran kemih. Kualitas cukupsebanyak 26,67% atau dari 15 respondenterdapat 4 yang terjadi infeksi dan 11 tidakterjadi infeksi saluran kemih. Kualitas baiktingkat kejadian infeksinya sebesar 22,22%atau dari 9 responden hanya ada 2 yangterjadi infeksi dan 7 tidak terjadi infeksi.Secara keseluruhan prosentase kejadianinfeksi nosokomial saluran kemih padatingkat kualitas perawatan kurang adalah45,5%, cukup 36,4% dan baik sebesar 18,2%dari 30 responden.Pencegahan lain yaqng dapat dilakukandalam pencegahan infeksi saluran kemihyaitu dengan mencuci tangan adalah prosedurkesehatan yang paling penting yang dapatdilakukan oleh semua orang untuk mencegahpenyebaran kuman. Cuci tangan harus selaludilakukan dengan benar sebelum dan sesudahmelakukan tindakan perawatan walaupunmemakai sarung tangan atau alat pelindunglainuntukmenghilangkan atau mengurangi mikroorganisme yang ada ditangan sehingga penyebaranpenyakit dapat dikurangi dan lingkunganterjaga dari infeksi. Cuci tangan tidak dapatdigantikan oleh pemakaian sarung tangan(Nursalam, 2010).e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108Menurut WHO untuk meningkatkankepatuhan dalam mencuci tangan bisamencapai 100%. Hasil penelitian melakukanhand hygiene diperlukan multidimensistrategi oleh Damanik menunjukkan bahwaadanya pengawasan pendekatan. Pendekatantersebut meliputi perubahan terhadappelaksanaan hand hygiene lebih banyak patuhsistem dengan menyediakan hand rubberbasis alkohol melakukan hand hygiene.Arifien menunjukkan selain wastafel dansabun antiseptik di setiap titik bahwaresponden yang mendapat dukungan dariperawatan, pendidikan dan pelatihan kepadapetugas pimpinannya berpeluang lebih patuhsebesar 21 kali kesehatan secara teratur danberkala, evaluasi dan umpan dibandingkandengan responden yang kurang mendapatbalik berupa monitoring, evaluasi danpemberian umpan dukungan dari pimpinannya.Selain itu hasil juga balik pelaksanaandaninfrastrukturhandhygiene,menunjukkan bahwa ada hubungan yangbermakna antarapersepsi dan pengetahuanpetugas kesehatan secara dukungan/komitmen pimpinan dengan teratur, adanya pengingatdi tempat kerja untuk promosi Berdasarkanpengamatan kepatuhan hand hygiene danmeningkatkan kepedulian petugas kesehatan.Upaya perawat ruang rawat inap rumah sakitmasih rendah tersebut harus ditunjang dengandukungan organisasi dan (35%). Kepatuhanhand hygiene perawat lebih banyakpartisipasi pasien untuk meningkatkanbudayadilakukansesudahperawatmelakukan tindakan invasive keselamatan.Hasil penelitian Benedetta et al di Afrikaaseptik, dan paling sedikit dilakukan sebelumperawat menunjukkan dengan mengimplementasikan strategi dari kontak dengan pasien.Kunci keberhasilan hand hygiene berasal daripengetahuan perawat yang kurang, tidakadanya berbagai intervensi yang melibatkanperubahan perilaku, pelaksanaan audit handhygiene secara berkala yang pendidikankreatif, monitoring dan evaluasi, dan lebihdiketahui perawat, dan tidak ada supervisikepala ruang penting adalah keterlibatansupervisor sebagai rolemodel terhadapThis work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.65

Jurnal Ilmiah Keperawatan ImeldaVol. 4, No. 1, Maret PERAWATANpelaksanaan hand hygiene di ruang rawatinap serta dukungan pimpinan.Menurut asumsi peneliti tingkatpengetahuan perawat dalam pencegahaninfeksi saluran kemih sangat berpengaruhterhadap tindakan dalam pencegahan infeksi.Menurut peneliti apabila semakin tinggipendidikan responden ini akan mempengaruhi pengetahuan responden. Hal ini sesuaidengan teori Notoadmojo (2010) bahwapengetahuan seseorang dipengaruhi olehpendidikan seseorang.KESIMPULANBerdasarkan hasil penelitian yang telahdilakukan terhadap 39 responden, makadiperoleh kesimpulan sebagai berikut: Mayoritas jenis kelamin respondenadalah perempuan yaitu sebanyak 26responden (66,7%) dan minoritas jeniskelamin responden adalah laki-laki yaitusebayak 13 responden (33,3%). Mayoritas umur responden adalahberumur 20-24 tahun yaitu sebanyak 18responden (46,2%) dan minoritas umurresponden adalah berumur 36 tahunyaitu sebayak 4 responden (10,2%), Mayoritas lama bekerja respondenadalah 0-4 tahun yaitu sebanyak 29responden (74,4%) dan minoritas lamabekerja responden adalah 10 tahunyaitu sebayak 4 responden (10,3%). Mayoritas pendidikan responden adalahD-III yaitu sebanyak 33 responden(84,7%) dan minoritas pendidikanresponden adalah S-I Keperawatan yaitusebayak 6 responden (15,3%). Mayoritas upaya pencegahan infeksisaluran kemih yang dilakukan olehperawat pada pasien terpasang kateteradalah baik yaitu sebanyak 29 responden(74,3%)danminoritasupayapencegahan infeksi saluran kemih yangdilakukan adalah kurang baik yaitusebanyak 10 responden (25,7%).e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108SARAN1. Institusi pendidikan keperawatanHendaknya institusi pendidikan keperawatan secara terusmenerus memberikan pengajaran ninfeksidanperawatan kateter urine.2. Bagi rumah sakitBagi pihak Rumah Sakit Umum ImeldaPekerja Indonesia Medan diharapkanagar lebih meningkatkan kepatuhandalam melakukan perawatan kateterurine dalam pencegahan infeksi salurankemih.3. Bagi RespondenBagi responden diharapkan agar lebihpatuh dalam melakukan perawatankateter urine dan peningkatan pengetahuan tentang prosedur pemasangan kateter.4. Bagi peneliti selanjutnyaDiharapkan dapat melanjutkan penelitianini dengan cakupan sampel yang lebihbesar serta dapat menggunakan teknikpenelitian lain misalnya eksperimental,tidak terbatas hanya deskriptif saja.DAFTAR PUSTAKAa.n,(2010). Pendidikan Dan PerilakuKesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.Arikunto, Suharsimi. (2007).ProsedurPenelitian Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta: Rineka Cipta.Black, JM & Hawks, JH. (2009). Medicalsurgical nursing: clinical managementfor positive outcomes volume 1. edisi 8.St. Louis: Elsevier.Darmadi. (2008).Infeksi Nosokomial;Problematika dan Pengendaliannya.Jakarta: Salemba Medika.Departemen Kesehatan Republik Indonesia(DepKesRI).(2007).PedomanManajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit FasilitasPelayanan Kesehatan Lainnya. Jakarta:Depkes RI.Hooton, T.M., et al., (2010). InfectiousDiseases Society of America. Diagnosis,prevention, and treatment of catheter-This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.66

Jurnal Ilmiah Keperawatan ImeldaVol. 4, No. 1, Maret PERAWATANassociated urinary tract infection omtheInfectious Diseases Society of America.50(5), 625-63.Notoatmodjo. (2010). Promosi KesehatanDan Ilmu Perilaku. Jakarta: PT RinekaCipta.Nursalam, (2008). Konsep Dan PenerapanMetodologi Penelitian Ilmu Keperawata.Jakarta: Salemba Medika.Potter, PA & Perry, AG. (2010). Fundamental keperawatan buku 3, edisi 7. Jakarta:Salemba Medika.Riduan. (2010). Skala Pengukuran Variabelvariabel Penelitian. Bandung: Alfabeta.Setiadi. (2007). Konsep dan Penulisan RisetKeperawata. Yogyakarta: Graha Ilmu.e-ISSN 2597-7172, p-ISSN 2442-8108World Health Organization. (2009). HandHygiene: Why, How & When?. HopitauxUniversitaires de Geneve may/Hand Hygiene Why How and When Brochure.pdf.World Health Organization. (2009). WHOGuidelines on Hand Hygiene in HealthCare: First Global Patient SafetyChallenge Clean Care is Care SaferCare. Diakses 05 Maret 2017. 102/9789241597906 eng.pdf;jsessionid F2CDC383DB61BFCD94F1C10D78E89DA7?sequence 1.This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.67

pemasangan dower kateter merupakan salah satu saranan masuknya agent atau mikroorganisme dalam tubuh. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi saluran kemih dapat diubah untuk meminimalkan adalah prosedur pemasangan, lama pemasangan dan kaulitas pemasangan kateter (Schaffer, 2000). Penggunaan kateter