Transcription

Modul 1Landasan Pendidikan Sekolah DasarProf. Dr. Udin S. Winataputra, M.A.PEN D A HU L UA NPendidikan di Sekolah Dasar (SD) secara sistemik merupakan bagian darijenjang pendidikan dasar. Untuk diingat kembali bahwa jenjangpendidikan dasar mencakup Pendidikan Anak Usia Dini Formal (PAUDFormal), Taman Kanak-kanak atau TK dan pendidikan di Sekolah Dasar(SD), serta Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dilihat dari kedudukan danperannya, SD merupakan jenis pendidikan umum yang sangat strategis,karena merupakan pendidikan formal paling awal yang memberi landasanbagi pendidikan selanjutnya, yakni pendidikan di SMP. Mulai dari SekolahDasar inilah proses pencerdasan anak bangsa secara formal dimulai.Memang, ada sebagian dari siswa SD yang menempuh pendidikan TamanKanak-kanak. Namun demikian Sekolah Dasar dapat kita pakai sebagaisatuan pendidikan pertama yang mewadahi proses pendidikan formal bagipada umumnya anak Indonesia.Secara konstitusional, seperti tertera dalam Pembukaan Undang-UndangDasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, secara tegas dinyatakanbahwa salah satu tujuan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesiaadalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih lanjut dalamAmandemen UUD 1945 khususnya pada Bab XII Pasal 28A ayat (1)disebutkan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melaluipemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan, danmemperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya,demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.Selanjutnya Pasal 31 ayat (2) menegaskan bahwa setiap warga negara wajibmengikuti pendidikan dasar dan Pemerintah wajib membiayainya.Penyelenggaraan wajib belajar pendidikan dasar ini merupakan bagian darikebijakan pendidikan di Indonesia dalam mewujudkan pendidikan untuksemua sesuai dengan prinsip education for all.

1.2Perspektif Pendidikan SD Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003) menggariskan pentingnyaWajib Belajar sebagai program pendidikan yang wajib diikuti setiap warganegara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah, pemerintah daerah, danmasyarakat. Wajib belajar sebagaimana dimaksud dalam ketentuan itudiselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan pelayanan pendidikandasar seluas-luasnya kepada anak usia 7 sampai dengan 15 tahun sampailulus tanpa membedakan latar belakang agama, suku, sosial, budaya, danekonomi. Setiap warga negara yang berusia lebih dari 15 (lima belas) tahunyang belum lulus program wajib belajar dapat menyelesaikan pendidikannyadi luar tanggungan Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Karena setiapwarga negara usia wajib belajar berhak mendapatkan pelayanan wajib belajaryang bermutu, maka orang tua anak usia wajib belajar berkewajibanmemberikan kesempatan kepada anaknya untuk mendapatkan pendidikandasar.Modul ini merupakan bagian dari mata kuliah Perspektif PendidikanSekolah Dasar (PDGK4101) dalam Program Sarjana (S1) Pendidikan GuruSekolah Dasar (PGSD), yang secara khusus membahas LandasanPendidikan Sekolah Dasar. Secara konseptual modul ini dirancang untukmemfasilitasi mahasiswa agar mampu menganalisis karakteristik konseptualdan operasional hal-hal yang melandasi pendidikan Sekolah Dasar. Secarapsikologis-pedagogis setelah mempelajari modul ini Anda diharapkanmampu menjelaskan landasan konseptual secara komprehensif pendidikanSekolah Dasar. Secara khusus setelah mempelajari modul ini Andadiharapkan mampu:1. Menjelaskan landasan filosofis, psikologis-pedagogis, dan sosiologisantropologis pendidikan Sekolah Dasar.2. Menjelaskan landasan historis, ideologis, dan yuridis pendidikan SekolahDasar.Untuk memfasilitasi Anda dalam upaya mencapai tujuan khusustersebut, dalam modul ini kita akan membahas:1. Landasan filosofis, psikologis-pedagogis, dan sosiologis-antropologispendidikan Sekolah Dasar.2. Landasan historis, ideologis, dan yuridis pendidikan Sekolah Dasar.

PDGK4104/MODUL 11.3Dalam mempelajari modul ini Anda akan diajak untuk menjelajahiberbagai sisi dari pemikiran pakar-pakar terkait tentang sistem pendidikannasional. Secara proporsional penjelajahan terhadap pemikiran tersebut akanmencakup pembahasan tentang: Apa yang menjadi landasan pendidikanSekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI)? Selanjutnya Anda dimintauntuk mengkaji secara kritis dan kreatif implikasi operasional dari konsepdan prinsip serta instrumentasi pendidikan nasional terhadap penyelenggaraan pendidikan Sekolah Dasar. Untuk itu Anda diharapkan mengikuti petunjukbelajar sebagai berikut.1. Bacalah bagian Uraian dan Contoh dari setiap Kegiatan Belajardengan cermat sampai Anda dapat menangkap makna dari berbagai sisidari sistem pendidikan nasional yang diterapkan pada satuan pendidikanSD/MI.2. Kerjakan Latihan dengan baik dan penuh kesungguhan sampai Andamemperoleh pengertian yang lebih utuh tentang penyelenggaraan satuanpendidikan SD/MI. Sekedar untuk memandu Anda dalam mengecekketepatan latihan, disediakan rambu-rambu jawaban latihan yang dapatAnda gunakan sebagai pendapat pembanding. Di dalam latihan ini Andaakan diminta untuk melakukan berbagai pilihan kegiatan seperti refleksiatau renungan sendiri atau berdialog dengan mahasiswa lain, ataubertanya kepada tutor, atau mengakses informasi ke berbagai sumberbelajar tercetak atau elektronik. Dengan cara itu pemahaman Andatentang teori belajar tersebut akan lebih halus dan lebih luas.3. Bacalah Rangkuman yang disediakan untuk memberikan ringkasantentang aspek-aspek esensial dari setiap Kegiatan Belajar. Namun Andajuga diminta untuk membuat rangkuman menurut Anda merupakan intidari kegiatan belajar tersebut.4. Kerjakan Tes Formatif yang disediakan untuk mengecek seberapa jauhAnda mencapai tujuan pembelajaran setiap kegiatan belajar tanpamelihat rambu-rambu jawaban yang disediakan.5. Bila Anda merasa telah menjawab Tes Formatif dengan baik,bandingkanlah jawaban Anda tersebut dengan rambu-rambu jawabanyang disediakan. Bila setelah dihitung ternyata Anda telah mencapaitingkat penguasaan sama atau lebih besar dari 80%, Anda dipersilakanuntuk meneruskan ke kegiatan belajar berikutnya.

1.4Perspektif Pendidikan SD Kegiatan Belajar 1Landasan Filosofis, Psikologis-Pedagogis,dan Sosiologis-Antropologis PendidikanSekolah DasarA. LANDASAN FILOSOFIS, DAN PSIKOLOGIS-PEDAGOGISPENDIDIKAN SEKOLAH DASARPada bagian ini kita akan membahas pendidikan Sekolah Dasar darisudut pandang filosofis, psikologis-pedagogis, dan sosiologis-antropologis.Yang dimaksud dengan pandangan filosofis adalah cara melihat pendidikandasar dari hakikat pendidikan dalam kehidupan manusia. Pertanyaan filosofisyang akan kita bahas adalah untuk apa pendidikan Sekolah Dasardikembangkan. Sementara itu cara pandang psikologis-pedagogis atau psikopedagogis adalah cara melihat pendidikan dasar dari fungsi prosespendidikan dasar dalam pengembangan potensi individu sesuai dengankarakteristik psikologis peserta didik. Pertanyaan psiko-pedagogis yangrelevan dengan fungsi proses itu adalah bagaimana pendidikan dasardikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didiknya? Sedangkan carapandang sosiologis-antropologis atau sosio-antropologis adalah cara melihatpendidikan dasar dari fungsi proses pendidikan dasar dalam sosialisasi ataupendewasaan peserta didik dalam konteks kehidupan bermasyarakat, danproses enkulturasi atau pewarisan nilai dari generasi tua kepada peserta didikyang sedang mendewasa dalam konteks pembudayaan. Pertanyaan pokokdalam kedua proses tersebut adalah bagaimana pendidikan dasar meletakkandasar dan mengembangkan secara kontekstual sikap sosial dan nilai-nilaikebudayaan untuk kepentingan peserta didik dalam hidup bermasyarakat danberkebudayaan? Namun demikian dalam pembahasannya kita akan melihatpendidikan dasar itu secara utuh, tidak secara ketat memisah-misahkan carapandang itu.Mengapa Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)? SekolahDasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) merupakan salah satu bentuk pendidikanpada jenjang pendidikan dasar dalam jalur pendidikan formal di Indonesiapada saat ini. Bentuk pendidikan ini secara operasional dilaksanakan sebagaisatuan pendidikan masing-masing sekolah, misalnya SD Negeri Ciputat, SD

PDGK4104/MODUL 11.5Muhammadiyah Yogyakarta, dan SD Xaverius Bandar Lampung, sertaMadrasah Ibtidaiyah Banda Aceh. Bentuk pendidikan ini disediakan untukmenampung Anak Usia Sekolah 6 (enam) sampai 13 (tiga belas) tahun.Mengapa Indonesia memilih pengorganisasian pendidikan seperti itu? Untukitu marilah kita lihat dari dua sudut pandang: pandangan filosofis danpsikologis-pedagogis, dan pandangan ideologis dan yuridis.1.Landasan Filosofis dan Psikologis-pedagogisPandangan filosofis dan psikologis-pedagogis mewakili cara pandangpakar dalam bidang filsafat, psikologi, dan pedagogik/ilmu mendidikterhadap keniscayaan proses pendidikan untuk usia sekolah 6-13 tahun.Dikatakan suatu keniscayaan karena pendidikan untuk anak usia tersebutberlaku universal dan telah menjadi kenyataan atau sering disebut jugasebagai conditio sine quanon. Contohnya, di semua Negara di dunia dikenaladanya primary education atau elementary education seperti SD/MI diIndonesia. Kita semua pasti pernah menempuh pendidikan SD/MI sebelummelanjutkan sekolah ke SLTP/SMP/MTs, bukan?Ada beberapa argumen tentang keniscayaan pendidikan untuk usia itu.Pertama, pelembagaan proses pendidikan untuk usia dalam sistempendidikan persekolahan atau schooling system, diyakini sangat strategis,artinya sangat tepat dilakukan, untuk mempengaruhi, mengondisikan, danmengarahkan perkembangan mental, fisik, dan sosial anak dalam mencapaikedewasaannya secara sistematik dan sistemik. Kedua, proses pendewasaanyang sistematik dan sistemik itu diyakini lebih efektif dan bermakna,artinya lebih memberikan hasil yang baik dan menguntungkan, daripadaproses pendewasaan yang dilepas secara alami dan kontekstual melaluiproses sosialisasi atau pergaulan dalam keluarga dan masyarakat danenkulturasi atau pembudayaan interaktif dalam kehidupan budaya sematamata. Ketiga, berbagai teori psikologi khususnya teori belajar yang menjadilandasan konseptual teori pembelajaran, seperti teori behaviorisme,kognitifisme, humanisme; dan sosial (Bell-Gredler:1986), filsafat pendidikanseperti perenialisme, yang menekankan pentingnya pewarisan kebudayaan,esensialisme, yang menekankan pada transformasi nilai esensial,progresifisme, yang menekankan pada pengembangan potensi individu, danrekonstruksionalisme sosial, yang menekankan pengembangan individuuntuk perubahan masyarakat (Brameld, 1965) sangat mendukung prosespendewasaan anak melalui pendidikan persekolahan. Tentu saja tanpa

1.6Perspektif Pendidikan SD mengesampingkan teori socio-historical dari Vigotsky, (Moll: 1990) danteori experiential learning (Kolb: 1986), yang menekankan pada prosesbelajar melalui interaksi sosial-kultural dan belajar melalui pengalaman.Terkait pada berbagai pandangan pakar tersebut di atas, marilah kitabahas secara singkat teori Kognitifisme, teori Historis-Kultural, dan teoriHumanistik. Ketiga teori ini sangat relevan untuk menggali landasanfilosofis dan psikologis-pedagogis pendidikan di SD/MI. Dengan memahamiketiga teori tersebut sekurang-kurangnya Anda akan memahami keniscayaanpendidikan SD/MI dilihat dari hakikat anak sebagai individu, makhluksosial, dan anggota masyarakat. Teori lainnya dianjurkan untuk Andapelajari sebagai pengayaan terhadap ketiga teori tersebut, sebagai Latihanuntuk kasus tersebut. Untuk itu Anda bisa datang ke Perpustakaan PTNPembina, Perpustakaan Wilayah, atau bila mungkin Anda cobamembahasnya dalam kelompok belajar Anda.a.Teori KognitifismeTeori Kognitifisme, yang lebih dikenal sebagai teori perkembangankognitif dikembangkan oleh Jean Piaget, dan diakui sebagai salah satu pilaratau tonggak konseptual dan sumber pengetahuan tentang perkembangankognitif anak (Maier,1978: 12). Piaget menegaskan bahwa pengetahuanbukanlah duplikat dari objek, dan bukan pula sebagai tampilan kesadaran daribentuk yang ada dengan sendirinya dalam diri individu. Pengetahuansesungguhnya merupakan konstruksi pikiran yang terbentuk, karena secarabiologis adanya interaksi antara organisme dengan lingkungan, dan secarakognitif adanya interaksi antara pikiran dengan objek. (Bell-Gredler, 1986:191). Contohnya, konsep rumah, mobil, gunung yang ada di benak kitabukanlah copy dari rumah, mobil, gunung yang sesungguhnya tetapimerupakan konstruksi mental kita tentang rumah, mobil, dan gunung, sebagaihasil interaksi pikiran kita dengan rumah, mobil, dan gunung atau tiruannya,sebagai objek penginderaan kita secara langsung. Karena itu pengetahuanmerupakan suatu proses, bukanlah benda karena terbentuk melalui interaksisinambung antara individu dengan lingkungan. (Bell-Gredler,1986:194).Contohnya, kemampuan kita untuk memecahkan masalah penghijauan,adalah kemampuan pikiran kita untuk menaksir waktu yang diperlukan untukmendapatkan kayu yang cukup tua, dengan kecepatan penebangan kayu yangada. Untuk itu perlu mengatur siklus penebangan kayu dengan penanamankembali bibit kayu sebagai penggantinya. Konsep inilah yang kemudian

PDGK4104/MODUL 11.7menjadi salah satu postulat dari filsafat konstruktivisme. Sebagai Latihan,Cobalah Anda cari contoh lain mengenai konsep yang ada dalam pikiranAnda dan kaitannya dengan kenyataan yang dapat Anda lihat atau alamisendiri di lingkungan sekitar Anda.Secara teoritik perkembangan kognitif (Bell-Gredler, 1986:195–196)mencakup tiga proses mental yakni assimilation, accomodation, danequilibration. Yang dimaksud dengan assimilation atau asimilasi adalahintegrasi data baru dengan struktur kognitif yang sudah ada dalam pikiran.Contohnya, ketika kita melihat benda asing berupa pesawat terbang, prosesmental yang terjadi adalah mencari apakah konsep benda asing itu ada dalampikiran kita dengan bertanya “ini benda apa ya?” Sementara ituaccomodation atau akomodasi menunjuk pada proses penyesuaian strukturkognitif dengan situasi baru. Contohnya, bila ternyata konsep benda asing itubelum ada dalam pikiran kita, kemudian kita mencoba mencari tahu apasesungguhnya pesawat terbang. Dengan menggunakan konsep lain yangsudah ada di dalam pikiran kita, misalnya layang-layang, dan lain-lainkemudian kita mencoba membangun pengertian baru tentang konsep pesawatterbang. Dengan begitu kita mendapatkan pengetahuan baru tentang konseppesawat terbang. Sedangkan equilibration atau ekuilibrasi adalah prosespenyesuaian yang sinambung antara asimilasi dan akomodasi. Contohnya,jika suatu waktu ada benda asing lain yang pada dasarnya mirip denganpesawat terbang dalam pikiran kita akan terjadi proses adaptasi untukmemahami benda asing itu sampai kita mendapatkan pengertian yang utuhdan pada akhirnya kita mengerti konsep pesawat terbang secara umum.Sebagai Latihan, cobalah Anda cari contoh lainnya mengenai proses mentalatau proses kognitif berkenaan dengan suatu konsep yang ada dalam pikiranAnda berkaitan dengan kenyataan yang dapat Anda lihat atau alami.Bertolak dari penelitiannya yang dilakukan secara intensif, Piagetmeneorikan adanya empat tahap perkembangan kognitif seperti digambarkandalam tabel sebagai berikut.

1.8Perspektif Pendidikan SD Tabel 1.1Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Jean PiagetUSIATAHAPKARAKTERISTIK0 sampai 1,5-2 thSensorimotorikPrasimbolik dan Praverbal; kecerdasanmencakup perkembangan pola tindak;mampu membedakan dirinya denganlingkungan; mampu membedakan cirifisiknya; dan mulai tumbuhnya konseptetap mengenai suatu objek.2-3 sampai 7-8 thPraoperasionalPikiran logis parsial mulai tumbuh; konsepketetapan suatu objek mengarahkan padaidentitas kualitas; proses pikiran bertolakdari isyarat perseptual dan anak belumsadar akan pernyataan yang salingbertentangan;perkembanganbahasadimulai dan bertambah dengan cepat;bicara spontan didominasi oleh monolog.7-8 sampai 12-14 thOperasi KonkretPerilaku impulsif mulai diganti denganrefleksi dasar dan anak mulai dapatmembedakan perbedaan pandangan oranglain; mulai bermain bersama termasukkesepakatan aturan dan kerja sama; caraberpikir logis terkait dengan objek.Lebih dari 14 thOperasi FormalPikiran tentang rencana hidup dan peranorang dewasa mulai tumbuh; kemampuanberpikir logis dalam berbagai situasi mulaitumbuh; individu mampu bernalar darisituasi hipotetis sampai konkret.Tahap sensori motorik merupakan saat mulai berkembangnya operasiprasimbolik dan praverbal. Pada tahap ini berkembang pola tindak,misalnya anak mulai mampu membedakan dirinya dengan lingkungan;mampu membedakan ciri fisiknya; dan mulai tumbuhnya konsep tetapmengenai suatu objek. Tahap praoperasional ditandai denganperkembangan pikiran logis parsial mulai tumbuh konsep ketetapan suatuobjek dengan penekanan pada identitas kualitas. Proses pikiran bertolak dariisyarat perseptual di mana anak belum sadar akan pernyataan yang salingbertentangan. Pada tahap ini perkembangan bahasa dimulai dan bertambah

PDGK4104/MODUL 11.9dengan cepat. Contohnya, anak mulai dapat berbicara spontan yangdidominasi oleh monolog yakni anak bercerita sendiri. Dalam tahap operasikonkret terjadi pergantian perilaku impulsif dengan refleksi dasar. Anakmulai dapat membedakan pandangan dirinya dan orang lain. Contohnya,anak mulai bermain bersama dan membuat kesepakatan aturan dan kerjasama antar mereka. Cara berpikir logis yang terkait dengan objek mulaiberkembang. Pada tahap operasi formal mulai tumbuh pikiran tentangrencana hidup dan peran orang dewasa, kemampuan berpikir logis dalamberbagai situasi dan mulai mampu bernalar secara utuh mulai dari situasikonkret sampai situasi hipotetis.Dengan menggunakan teori Piaget tersebut, kita dapat melihat bahwaanak usia SD/MI berada dalam tahap perkembangan kognitifPraoperasional sampai Konkret. Pada usia ini anak memerlukanbimbingan sistematis dan sistemik guna membangun pengetahuannya. Olehkarena itu, peran pendidikan di SD/MI sangatlah strategis bagipengembangan kecerdasan dan kepribadian anak.b.Teori Historis-Kultural (Cultural Historical Theories)Teori ini dikembangkan oleh Lev S.Vygotsky yang memusatkanperhatian pada bidang telaah aspek manusia dari kognisi (http://web.syr.edu/jccatald/cognitive). Teori ini memusatkan perhatian pada penggunaan simbolsebagai alat, dengan dasar pemikiran bahwa manusia menemukan alat yangtelah mengantarkan kemajuan bagi umat manusia. Sistem simbol yangdikembangkan adalah bahasa lisan dan tulisan, sistem matematika, notasimusik dan lainnya. Melalui penggunaan simbol-simbol ini manusiamengembangkan cara berpikir baru. Faktor-faktor biologissepertikematangan berpengaruh terhadap proses berpikir dasar seperti perhatian,ingatan dan persepsi.Blanck (1990) dalam Moll (1990;32-43), mengemukakan bahwaVigotsky, adalah seorang Yahudi Rusia yang lahir tahun 1896 di Orsha,Republik Belrousia dibesarkan oleh ibunya yang mempunyai gentlepersonality atau kepribadian yang lembut. Ia menempuh pendidikan dasarprivat secara mandiri di rumah atau home schooling dengan bantuan seorangtutor yang pernah diasingkan ke Siberia karena aktivitas politik. Walaupun iaadalah seorang ahli matematik tetapi juga membimbing belajar dalam matapelajaran lainnya sampai lulus ujian pendidikan dasar. Baru setelah ituVigotsky melanjutkan ke pendidikan menengah atau Gymnasium, dan dua

1.10Perspektif Pendidikan SD tahun terakhirnya diselesaikan di Sekolah Swasta unggulan yang bertarafakademik tinggi. Kehidupan di rumahnya sangat kondusif diwarnaikehidupan belajar dan bermain dengan suasana kehidupan keluarga yangkomunikatif satu sama lain. Kehidupan seperti inilah yang dinilai merupakanperan yang menentukan dalam pembentukan anak secara kultural. Padatahun 1914 Vigosky memasuki dua Universitas sekaligus di MoskwaUniversity dan Shaniavky People”s University. Dari kedua universitas itu iamendapatkan fondasi pengetahuan yang kuat dalam bidang sejarah, filsafat,,psikologi dan sastra. Pada tahun 1917 ia lulus dari kedua universitas itu,kemudian bekerja sebagai guru di kotanya Gomel. Yang menjadi perhatianVigotsky adalah behavior and cognitive process, yakni hubungan perilakudengan proses kognitif.Vigotsky (Blanck,1990:44-49) mendasarkan teorinya pada konsepbahwa aktivitas mental adalah sesuatu hal yang unik hanya pada manusia.Hal itu merupakan produk dari belajar sosial atau social learning, yakniproses penyadaran simbol-simbol sosial dan internalisasi kebudayaan danhubungan sosial. Kebudayaan diinternalisasi dalam bentuk sistemneuropsikis yang merupakan bagian dari bentuk aktivitas fisiologis dari otakmanusia. Aktivitas mental yang tinggi memungkinkan pembentukan danperkembangan proses mental manusia yang lebih tinggi. Aktivitas mentalyang sangat tinggi dalam diri manusia bukanlah semata-mata sebagaiaktivitas syaraf tertinggi tetapi merupakan aktivitas syaraf tertinggi yangtelah menginternalisasi makna sosial yang diperoleh dari aktivitas budayamanusia melalui simbol-simbol. Proses ini pada dasarnya bersifat historisyang terjadi sejak masa perkembangan ontogenetik dan berlangsung melaluiaktivitas sosial anak dengan orang dewasa yang memungkinkan individumampu menangkap makna sosial.Kebudayaan dapat membatasi taraf berpikir anak yang bisa dicapai padajenis sistem simbol yang dipakai dalam budaya tersebut. Fungsi-fungsi dasarkemudian ditransformasikan ke dalam berpikir yang kompleks denganformula tesis-antitesis-sintesis. Kata merupakan unit fungsional dasar yangmembentuk struktur kesadaran. Hal itu berfungsi dalam dua cara, Pertama,ada dua cabang perkembangan kognitif, yakni 1) menguasai sistem simbol,dan 2) mengembangkan bentuk-bentuk kultural penalaran. Kedua, adanyahukum perkembangan genetik yang menyatakan bahwa semua fungsi yangkompleks dimulai sebagai interaksi sosial. Ketiga, adanya suatu proses dimana ucapan dan simbol pertama-tama dikuasai sebagai bentuk komunikasi

PDGK4104/MODUL 11.11dan kemudian menjadi alat di dalam menstrukturkan dan mengelola berpikiranak. Zona perkembangan proksimal adalah kemampuan yangdipertunjukkan anak melalui interaksi dan fasilitasi orang dewasa sebagairuang yang sengaja diciptakan. Hal itu merupakan faktor kunci dalammengembangkan fungsi kognitif yang lebih tinggi. Kunci menujupengembangan kemampuan potensial adalah permainan anak meniru orangdewasa. Contohnya, anak perempuan bermain peran sebagai ibu denganmenggunakan boneka yang diperankan sebagai anak-anakannya, atau anaklaki-laki bermain perang-perangan seperti orang dewasa.Pemerolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang sejalandengan teori sociogenesis yang menempatkan kesadaran sosial sebagai halyang bersifat primer, sedangkan aspek individualnya bersifat derivatif.(Vigotsky, dalam Budiningsih: 2003). Hal ini mengandung arti bahwa padadasarnya pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang merujuk padaberbagai sumber yang ada di luar dirinya, walaupun tidaklah berati bahwaindividu bersifat pasif. Itu sebabnya dilihat dari sudut pandang Vigotskian(penganut teori Vigotsky) muatan kognitif seseorang berkembang secara kokonstruktivistik, dalam arti ia berkembang secara interaktif antara faktorsosial-kultural dan kapasitas mental individu. Contohnya, kemampuanseseorang untuk menceritakan kembali cerita rakyat atau cerita sejarahdengan baik bukan semata-mata karena potensi kognitifnya tetapi jugakarena berbagai rangsangan dari luar berupa cerita dalam buku yangdibacanya, tayangan sinetron atau film yang relevan yang dilihatnya sertapenguatan lingkungan sekitar termasuklingkungan di rumah yangmemungkinkan terbukanya akses informasi mengenai cerita tersebut.Teori Vigotsky mengidentifikasi adanya tiga konsep pokok yang terkaiterat dengan pembelajaran, yaitu hukum genetik perkembangan atau geneticlaw of development, zona perkembangan proksimal atau zone of proximaldevelopment, dan mediasi atau mediation. Menurut hukum genetikperkembangan (Budiningsih, 2003: 8-9), pertumbuhan dan perkembangankognitif seseorang berlangsung dalam dua tataran yaitu lingkungan sosialsebagai ranah intermental atau interpsikologis, yang dianggap sebagaifaktor utama atau primer, dan suasana psikologis dalam diri seseorangsebagai ranah intramental atau intrapsikologis, yang tumbuh sebagaiimplikasi dari proses internalisasi terhadap proses-proses sosial. Zonaperkembangan proximal adalah ruang antara perkembangan aktual,artinya nyata dan perkembangan potensial seseorang, yang ada dalam

1.12Perspektif Pendidikan SD diri atau late. Perkembangan aktual dapat dilihat dari kemampuanintramental seseorang dalam bentuk, contohnya, melakukan sesuatu, sepertimemecahkan masalah, secara mandiri. Perkembangan potensial dapat dilihatdari kemampuan intermental seseorang dalam bentuk menyelesaikanpekerjaan di bawah bimbingan orang lain. Ruang antara kemampuanintramental dengan intermental inilah yang disebut zona perkembanganproximal, yang pada dasarnya melukiskan proses pematangan dari fungsifungsi kemampuan seseorang melalui interaksi sosial-kultural dalamlingkungannya. Sedangkan mediasi adalah simbol-simbol, seperti bahasa,lambang dan semiotika yang ada dalam lingkungan yang merupakan produksosial-kultural yang digunakan oleh individu untuk mengungkapkankemampuannya.Tentang mediasi dibedakan dalam dua bentuk yakni mediasi kognitifdan mediasi meta kognitif. Mediasi kognitif adalah penggunaan strukturkognitif, yang dapat berupa konsep non-ilmiah (pengetahuan spontan) dankonsep ilmiah deklaratif (konsep, generalisasi, teori) dan prosedural (metodeilmiah), dalam memecahkan masalah. Di lain pihak mediasi meta kognitifadalah pemanfaatan instrumen semiotik untuk melakukan pengaturan diri(self-regulation) dalam bentuk kegiatan perencanaan-diri (self-planning),pemantauan-diri (self-monitoring), pengecekan-diri (self-checking), danevaluasi-diri (self-evaluation).Dengan menggunakan teori Vigotsky, proses pendidikan di SD/MIseyogianya diperlakukan sebagai proses pertumbuhan kemampuan dalam diriindividu sebagai produk interaksi antara kemampuan intramental danintermental individu dalam konteks sosial-kultural. Lingkungan sosialkultural, contohnya lingkungan di rumah, di sekolah, dan di masyarakat,merupakan determinan dari pertumbuhan kemampuan itu.c.Teori Humanistik.Konsep humanistik dalam pendidikan memiliki banyak pengertian,antara lain bahwa suatu sekolah atau kelas atau guru dapat dinilai humanistikbila memenuhi berbagai kriteria: menekankan pada potensi manusia sebagaiciri utama; hubungan yang hangat, kepercayaan, penerimaan, kesadaran akanperasaan orang lain, kejujuran antar pribadi, dan pengetahuankemasyarakatan. Pendidikan humanistik adalah pendidikan manusia secarautuh dan menyeluruh, yang memusatkan perhatian pada proses pendidikanyang memungkinkan peserta didik melakukan belajar menikmati kehidupan

PDGK4104/MODUL 11.13atau mencapai kebutuhan lebih tinggi dalam pengertian kebutuhan akankehidupan yang optimal atau kemungkinan pertumbuhan yang positif.Pendekatan humanistik memiliki karakteristik: (a) Menjadikan pesertadidik sendiri sebagai isi, yakni mereka sendiri belajar tentang perasaannyadan perilakunya; (b) Mengenal bahwa imaginasi peserta didik sepertidicerminkan dalam seni, impian, cerita, dan fantasi sebagai hal yang pentingdalam kehidupan yang dapat dibahas bersama dengan teman sekelasnya;(c) Memberikan perhatian khusus terhadap ekspresi non-verbal seperti isyaratdan nada suara karena diyakini hal itu sebagai ungkapan perasaan dan sikapyang dikomunikasikan; (d) Menggunakan permainan, improvisasi, danbermain peran sebagai wahana simulasi perilaku yang dapat dikaji dandiubah.Ada sejumlah prinsip umum hukum ibu jari, yakni (a) Guru janganlahpernah menarik siswa ke dalam pengalaman yang ia sendiri tidak suka;(b) Guru janganlah pernah mendorong peserta didik untuk menyampaikansesuatu yang ia sendiri sungkan mengemukakannya, melibatkan peserta didikterhadap hal yang ia sendiri tidak mau melibatkan diri, atau mengeksplorasisesuatu yang ia sendiri tidak mau melakukannya; (c) Guru janganlah pernahmemanipulasi peserta didik dengan berpretensi bahwa peserta didikmengerjakan sesuatu pada saat ia sendiri mengerjakan hal lain. Ciripandangan humanistik adalah dalam melihat kebutuhan sebagai hal yangbukan semata-mata dalam rangka memelihara kehidupan tetapi untukmemenuhi perkembangan secara penuh. Perilaku seseorang terkait padabagaimana kepercayaannya tentang orang lain. Oleh karena itu, dalampandangan humanistik intelegensi atau kecerdasan bukanlah sesuatu yangtetap tetapi dapat dibangun.Dalam konteks itulah, pendidikan humanistik untuk SD/MIseyogianya diwujudkan dalam bentuk kurikulum bermuatan humanistik danstruktur sekolah atau kelompok yang humanistik. Kurikulum bermuatanhumanistik memusatkan pada isu-isu tentang manusia, seperti kebutuhanberteman, perilaku agresif dan lain-lain, yang dirancang untuk membantupeserta didik agar dapat mengelola persolan di dalam kehidupannya, jugatermasuk proses kurikulum yang memanusiakan. Pendidikan humanistiksecara lebih mendalam mencakup: pilihan atau pengendalian oleh pesertadidik, kepedulian yang dirasakan, keterampilan hidup, evaluasi diri, danperan guru sebagai fasilitator. Dalam pendidikan humanistik peserta didikbelajar untuk bekerja secara efektif dengan cara melakukan pilihan dan

1.14Perspektif Pendidikan SD pengendalian mengenai pendidikannya termasuk tujuan pendidikan dankegiatan hariannya. Oleh karena itu, peran pendidik berubah dari sebagaipengarah belajar menjadi pemberi kemudahan belajar dan kelas menjadilaboratorium belajar peserta didik.Ada tujuh aspek tujuan pendidikan humanistik yakni: (a) Perkembanganpersonal, contohnya kematangan berbicara (b) Perilaku kreatif yangmencakup pengembangan kemurnian, kreativitas imajinasi, interpretasi baru,makna baru dan sejenisnya, seperti bermain untuk membuat berbagai bentukdari tanah liat; (c) Kesadaran antar pribadi, contohnya setiap orang pastimembutuhkan orang lain untuk berteman (d) Orientasi terhadap matapelajaran atau disiplin ilmu (e) Materi, seperti pengetahuan sosial,matematika, dan lain-lain (f) Metode pembelajaran afektif, contohnyabermain peran sosial; (g) Guru dan tenaga kependidikan lainnya. Proseskreatif adalah pen

bagi pendidikan selanjutnya, yakni pendidikan di SMP. Mulai dari Sekolah Dasar inilah proses pencerdasan anak bangsa secara formal dimulai. Memang, ada sebagian dari siswa SD yang menempuh pendidikan Taman Kanak-kanak. Namun demikian Sekolah Dasar dapat kita pakai sebagai