Transcription

KARYA TULIS ILMIAHASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. L.K DENGAN “SIROSIS HEPATIS”DI RUANG KELIMUTU RSUD PROF DR.W.Z. JOHANNES KUPANGDI SUSUN OLEH :VERONIKA KOSTODIANIM: PO.530320116346KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIABADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAANSUMBER DAYA MANUSIA KESEHATANPOLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KUPANGJURUSAN KEPERAWATANPROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN20191

KARYA TULIS ILMIAHASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. L.K DENGAN “SIROSIS HEPATIS”DI RUANG KELIMUTU RSUD.PROF.DR.W.Z.JOHANNES KUPANGDisusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Ujian AkhirProgram Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes KupangDISUSUN OLEH :VERONIKA KOSTODIANIM : PO.530320116346KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIABADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAANSUMBER DAYA MANUSIA KESEHATANPOLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KUPANGJURUSAN KEPERAWATANPROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN2019i

ii

iii

iv

BIODATA PENULISNama: VeronikaKostodiaTempatTanggalLahir: Nangalimang,13 Mei 1978JenisKelamin: PerempuanAlamat: nSikka.RiwayatPendidikan: 1.Tamat SDK Nangalimang,Tahun 19912.Tamat SMP Negeri 2 MaumereTahun 19953.Tamat SMA BaktyarsaMaumereTahun 19984.PadaTahun 2016 Kulia di Program MOTTO“JAWABAN SEBUAH KEBERHASILANADALAHTERUS BELAJAR DAN TAK KENAL PUTUS ASA”v

KATA PENGANTARPuji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atassegalah berkat dan rahmatnya sehinggah penulis dapat menyelesaikan penyusunantugas akhir dengan judul Asuhan Keperawatan Tn.L.k dengan Sirosis Hepatis diRuang Kelimutu RSUD Prof.Dr.W.Z Johannes Kupang. PenyusunanLaporan NKaryaTulis Ilmiah ini dalam rangka memenuhi peryaratan untuk menyelesaikanPendidikan D-III Keperawatan di Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang.Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan Laporan Karya Tulis Ilmiaini banyak mendapat dukungan dan bantuan dari beberapa pihak yang dengan caranyamasing-masing menolong penulis demi keberhasilan studi penulis. Oleh karena itupada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang takterhinggaKepada :1.Ibu Elisabeth Herwanti SKep.M.Kes. sebagai pembimbing dan penguji II yangtelah banyak member bimbingan ,masukan serta memberikan dorongansemangat,sehingga penulis dapat menyelesaikanUjian Akhir Program.2.Ibu Ns.Kori Limbong S.Kep. M.Kep. selaku penguji I atas segala masukan danpetunjuknya sehingga penulis dapat menyelesaikan Ujian Akhir Program.3.Bapak Petrus Kale, S.Kep, Ns selaku Pembimbing Klinik/CI di Ruang KelimutuRSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang yang telah membantu dan membimbingpenulis dalam proses pelaksanaan Studi Kasus ini.4.IbuR.H. Kristina, SKM, M.Kes.selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkesyang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti Ujian AkhirProgram.5.Bapak Dr.Florentianus Tat, SKp.,M.Kes, selaku Ketua Jurusan KeperawatanKupang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikutiUjian Akhir Program.vi

6.Seluruh staf Ruang Kelimutu yang telah membantu penulis selama mengikutiUjian Akhir Program di Rumah Sakit dan dalam proses penyelesaian LaporanKarya Tulis Ilmiah ini.7.Para Dosen Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kupang yang telahmembimbing penulis selamah mengikuti pendidikan baik di kampus maupun dilahan praktek.8.Bapak Estakius Arkadius, suamiku tercinta, Aloysius Eko Feliksitus, anakkutersayang yang telah mendukung penulis sampai penulis menyelesaikan studi DIII keperawatan9.Rekan-Rekan Seperjuangan UAP, Ruangan Kelimutu yang telah memberikanSumbangsihnya tampah pamrih.TrimaKasih takTerhinga buat semuanya.10. Semua Pihak yang tidak dapat Penulis Sebutkan satu persatu, yang telah berjasaterhadap penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan KaryaTulisIlmiaini.Penulis menyadari bahwa Laporan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh darisempurna. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak untuk penyempurnaanLaporan Karya Tulis Ilmiah ini sangat diharapkan agar lebih bermanfaat bagi yangberkepentingan.Kupang,10 Juni 2019Penulisvii

ABSTRAKPoliteknikKesehatanKemenkesKupangJurusan D-III KeperawatanKaryaTulisIlmiahNama: VeronikaKostodiaNIM : PO.530320116346Sirosis adalah penyakit hati kronis yang dicirikan dengan distorsi arsitekstur hatiyang normal oleh lembar-lembar jaringan ikat dan nodul-nodul regenerasi sel hati,yang tidak berkaitan dengan vaskulatur normal.Tujuan penulisan ini adalah untuk menerapkan asuhan keperawatan pada pasienyang mengalami sirosis hepatis yang meliputi pengkajian,penegakan diagnose,perencanaan keperawatan, implementasi dan evaluasi keperawatan. DiruanganKelimutu RSUD Prof. Dr. W.Z.Yohanes Kupang. Sumber informasi didapatkan darianamneses dari pasien dan keluarga, pemeriksaan fisik, serta data penunjang berupahasillaboratorium.Setelah dilakukan evaluasi selama 3 hari dari tanggal 27-29 Mei 2019, pasienmasih merasa sesak napas,nyeri,lemah dan belum bisa beraktivitas secara normal.Masalah keperawatan yang didapatkan adalah Ketidakefektifan pola napas,Nyeri akutdan Intoleransi aktivitas. Implementasi yang dilakukan adalah: yang pertama:mengatur pasien dengan posisi semifowler,membantu pasienADLs .,yang kedua:Kolaborasi yaitu pemasangan oksigen dan melayani terapi,untuk itu disarankankepada penulis,pasien dan institusi serta klinik dapat mengetahui asuhan keperawatanpada pasien Sirosis hepatis yang membutuhkan perawatan dan penanganan yangcepat dan efektif oleh medis, oleh karena itu peran perawat dalam pemberiana suhankeperawatan dan dukungan keluarga sangat menentukan keberhasilan dari setiapprosedur keperawatan yang dilakukan.,Kata Kunci :Asuhan Keperawatan pasien Sirosis Hepatis.viii

DAFTAR ISIHalamanJudulHalaman Judul.iBiodata Penulis.iiPernyataanKeaslian Penulisan.iiiLembarPersetujuan .ivLembarPengesahan .vKata Pengantar .viAbstrak.viiiDaftar Isi .ixBAB 1 PENDAHULUAN .11.1 LatarBelakang .11.2 Tujuan penulisan .21.3 Manfaat penulisan .3BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .42.1 Konsep Dasar teori .42.1.1 Pengertian sirosis hepatis. 42.1.2 Etiologi sirosis hepatis .42.1.3 Patofisiologi sirosis hepatis .52.1.4 Klasifikasi sirosis hepatis .72.1.5 Manifestasi klinis sirosis hepatis .72.1.6 Komplikasi sirosis hepatis .82.1.7 Penatalaksanaan sirosis hepatis .92.1.8 Pemeriksaan penunjang sirosis hepatis.102.2 Konsep Asuhan Keperawatan.112.2.1 Pengkajian .112.2.2 Diagnosa keperawatan .122.2.3 Intervensi keperawatan .132.2.4 Implementasi keperawatan .182.2.5 Evaluasi keperawatan .18BAB 3 HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN .193.1 Hasil Studi Kasus .193.1.1 Pengkajian .193.1.2 Diagnosa keperawatan .213.1.3 Intervensi keperawatan .223.1.4 Implementasi keperawatan .24ix

3.1.5 Evaluasi keperawatan .3.2 Pembahasan .3.2.1 Pengkajian .3.2.2 Diagnosa keperawatan .3.2.3 Intervensi keperawatan .3.2.4 Implementasi keperawatan .3.2.5 Evaluasi keperawatan .3.3 Keterbatasan Studi Kasus .BAB 4 PENUTUP .4.1 Kesimpulan .4.2 Saran .DAFTAR PUSTAKA .LAMPIRAN .x28293031323334353636394141

BAB 1PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangSirosis adalah penyakit hati kronis yang dicirikan dengan distorsiarsitekstur hati yang normal oleh lembar-lembar jaringan ikat dan nodul-nodulregenerasi sel hati, yang tidak berkaitan dengan vaskulatur normal. Nodulnodul regenerasi ini dapat berukuran kecil (mikronodular) atau besar(makronodular). Sirosis dapat mengganggu darah intrahepatik, dan pada kasusyang sangat lanjut menyebabkan kegagalan fungsi hati secara bertahap. (Price& Wilson, 2009)Di Indonesia penyakit ini sangat meningkat sejak Perang Dunai II,sehingga sirosis menjadi salah satu penyebab kematian yang paling menonjol.Peningkatan ini sebagaian disebabkan oleh insidensi hepatitis virus yangmeningkat, namun yang lebih bermakna agaknya adalah karena asupan alcoholyang sangat meningkat. Alkoholisme merupakan satu-satunya penyebabterpenting sirosis. Sirosis akibat alcohol merupakan penyebab kematian nomor9 pada tahun 1998 di Amerika Serikat dengan jumlah hingga 28.000 kematian (NIAAA, 1989) dalam (Price & Wilson, 2009)Berdasarkan dari data organisasi kesehatan dunia atau World HealthOrganization (WHO) 2010, penyakit sirosis hepatis menempati urutan kelimatertinggi penyakit kronis yang ada di dunia dan lebih dari 600.000 ribu kasusbaru didiagnosis secara global setiap tahun.Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 bahwajumlah orang yang didiagnosis Hepatis di fasilitas pelayanan kesehatanberdasarkan gejala-gejala yang ada, menunjukan peningkatan dua kali lipatapabila dibandingkan dengan data tahun 2007 dan 2013. Di Indonesia dataprevalensi sirosis hati belum ada, hanya laporan-laporan dari beberapa pusat1

pendidikan saja. Di RS Dr. Sardjito Yogyakarta jumlah pasien sirosis hatiberkisar 4,1% dari pasien yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam dalam kurunwaktu 1 tahun 2004 (tidak dipublikasi) (Nurdjanah, 2009).Pada tahun 2007 Nusa Tenggara Timur (4,3%) merupakan propinsiurutan pertamam dari lima propinsi dengan prevalensi penyakit sirosis hepatistertinggi. Berdasarkandata Sub Bagian Register RSUD Prof. Dr. W. Z.Yohanes Kupang di ruang Kenanga penderita dengan kasus sirosis hepatissejak periode Februari 2019 sampai dengan 30 April 2019 di peroleh data 5orang penderita sirosis hepatis. Penderita 5 orang tersebut semuanya berjeniskelamin laki-laki. (Register Medis Ruangan Kelimutu, RSUD Prof. Dr. W. Z.Yohanes Kupang, 2019).Berdasarkan latar belakang diatas penulis sangat tertarik untukmelaksanakan asuhan keperawatan dengan judul “Asuhan Keperawatan Tn. “L. K.” dengan Sirosis Hepatis di Ruangan Kelimutu RSUD Prof. Dr. W. Z.Yohanes Kupang .Komplikasi pada kesehatan, pembesaran hati, obstruksi portal danasites, varises gastrointestinal, edema, rupture pembuluh darah, perdarahan,gagal hati yang kronis karena terjadi penurunan fungsi di organ hati secaradrastic, terserang infeksi, kanker hati, kolestasis, dan penyakit ginjal, defisiensivitamin dan anemia, kemunduran mental (Brunner & Suddart, 2002).Peran perawat disini adalah melakukan asuhan keperawatan secaramandiri dan kolaborasi untuk meminimalkan kemungkinan perdarahangastrointestinal, pemberian suplemen vitamin dan nutrisi, pemberian preparatdiuretic, meminimalkan perubahan cairan serta elektrolit, asupan protein dankalori yang adekuat. (Brunner & Suddart, 2002).2

1.2 Tujuan Penulisan1.2.1 Tujuan UmumTujuan umum pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini adalah untuk menerapkanAsuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Sirosis Hepatis sesuai dengankonsep dan teori yang didapatkan selama proses pendidikan.1.2.2 Tujuan khususSetelah melakukan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, penulisdiharapkanmampu :1. Melakukan pengkajian data pada pasien yang menderita sirosis hepatisbaik melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik.2. Merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien sirosis hepatis.3. Membuat rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan sirosishepatis.4. Melaksanakan implementasi keperawatan pada pasien dengan sirosishepatis5. Mengevaluasi atas tindakan keperawatan yang telah dilakukan padapasien sirosis hepatis6. Mendokumentasi semua hasil pengkajian, analisa data, perumusandiagnosa, rencana tindakan, tindakan yang telah dilakukan, serta evaluasitindakan.1.3 Manfaat Penulisan1.3.1 Manfaat TeoriDapat dijadikan referensi sebagai pengembangan ilmu keperawatankhususnya pada pasien dengan sirosis hepatis.1.3.2 Manfaat Praktis1. Bagi MahasiswaMenambah wawasan dalam memberikan Asuhan Keperawatan padapasien dengan sirosis hepatis3

2. Bagi Institusi PendidikanHasil studi kasus ini dapat digunakan sebagai bahan acuan bagipengembangan keilmuan khususnya bagi Asuhan Keperawatan padapasien dengan sirosis hepatis3. Bagi RSUD Prof. Dr. W. Z. Yohanes KupangSebagai bahan masukan dan evaluasi yang diperoleh dalam pelaksanaanpraktek keperawatan yang tepat khususnya untuk memberikan AsuhanKeperawatan pada pasien dengan sirosis hepatis4. Bagi PasienAgar pasien mendapat asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhannya4

.BAB 2TINJAUAN PUSTAKA2.1 Konsep Dasar Teori2.1.1 Pengertian Sirosis HepatisSirosis adalah penyakit hati kronis yang dicirikan dengan distorsiarsitekstur hati yang normal oleh lembar-lembar jaringan ikat dan nodul-nodulregenerasi sel hati, yang tidak berkaitan dengan vaskulatur normal. Nodulnodul regenerasi ini dapat berukuran kecil (mikronodular) atau besar(makronodular) (Price & Wilson, 2009). Bagian hati yang terutama terlibatdalam sirosis terdiri atas ruang portal, dan periportal tempat kanalikulusbiliaris dari masing-masing lobules hati bergabung untuk membentuk saluranempedu dalam hati. (Brunner & Suddart, 2002).2.1.2 Etiologi Sirosis HepatisMeskipun etiologi berbagai bentuk sirosis masih kurang dimengerti, terdapattiga pola khas yang ditemukan pada kebanyakan kasus antara lain :a. Sirosis LaennecMerupakan suatu pola khas sirosis akibat penyalahgunaan alcohol kronisyang mencapai sekitar 75% atau lebih dari kasus sirosis.b. Sirosis PascanekrotikBiasanya terjadi setelah nekrosis berbercak pada jaringan hati.c. Sirosis BilierKerusakan sel hati yang dimulai di sekitar duktus biliaris akanmenimbulkan pola sirosis. Pola ini merupakan penyebab 2% kematianakibat sirosis. (Price & Wilson, 2009).(Black & Hawks,2014) berpendapat, penyebab sirosis belum teridentifikasijelas, meskipun hubungan antara sirosis dengan minum alkohol berlebihantelah ditetapkan dengan baik. Negara-negara dengan insiden sirosis5

tertinggi memiliki konsumsi alkohol per kapita terbesar. Kecenderungankeluarga dengan predisposisi genetik, juga hipersensivitas terhadapalkohol, tampak pada sirosis alkoholik.2.1.3 Patofisiologi Sirosis HepatisSirosis adalah tahap akhir pada banyak tipe cidera hati. Sirosis hati biasanyamemiliki konsistensi noduler, dengan berkas fibrosis (jaringan parut) dandaerah kecil jaringan regenerasi. Terdapatkerusakan luas hepatosit.Perubahan bentuk hati mengubah aliran system vascular dan limfatik sertajalur duktus empedu. Periode eksaserbasi ditandai dengan statis empedu,endapan jaundis (Black & Hawks, 2014). Hipertensi vena poerta berkembangpada sirosis berat. Vena porta menerima darah dari usus dan limpa. Jadipeningkatan didalam tekanan vena porta menyebabkan:1. Aliran balik meningkat pada tekanan resistan dan pelebaran vena esofagus,umbilicus,dan vena rektus superior, yang mengakibatkanperdarahanvarises.2. Asites (akibat pergeseran hidrostastik atau osmotic mengarah padaakumulasi cairan didalam peritoneum)3. batmeningkatnya ammonia, selanjutnya mengarah kepada ensefalopatihepatikum.4. Kelanjutan proses sebagai akibat penyebab tidak diketahui tiandariensefalopati hepatikum, infeksi bakteri (gram negative), peritonitis(bakteri), hepatoma (tumor hati), atau komplikasi hipertensi porta (Black &Hawks, 2014).6

Pathway Sirosis Hepatis :Pathway : Gambar (Black & Hawks, 2014)7

2.1.4 Klasifikasi Sirosis HepatisAda tiga tipe sirosis hepatis atau pembentukan parut dalam hati antara lain :1. Sirosis Portal Laennec (Alkoholik, Nutrisional).Dimana jaringan parut secara khas mengelilingi daerah portal. Sirosis inipaling sering disebabkan oleh alkoholisme kronis dan merupakan tipesirosis yang paling sering ditemukan di Negara Barat2. Sirosis PascanekrotikDimana terdapat pita jaringan parutyang lebar sebagai akibat lanjut darihepatitis virus akut yang terjadi sebelumnya.3. Sirosis BilierDimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati di sekitar saluranempedu. Tipe ini biasanya terjadi akibat obstruksi biliar yang kronis daninfeksi (kolangitis): insidennya lebih rendah daripada insiden sirosisLaennec dan pascanekrotik.4. Sirosis biliaris primer terjadi kerusakan progresif pada duktus biliarisintrahepatik. Terutama (90%) mengenai wanita antara 40-60 tahun, dankeluhan utamanya berupa tanda-tanda koleastatis: pruritus, ikterus, disertaitinja pucat, urin gelap, dan steatorea, pigmentasi, dan xantelasma. (Brunner& Suddart, 2002).2.1.5Manifestasi Klinis Sirosis Hepatis1. Keluhan pasienBiasanya pasien mengeluh pruritis, urin berwarna gelap, ukuran lingkarpinggang meningkat, turunnya selera makan dan turunnya berat badan,ikterus (kuning pada kulit dan mata) muncul belakangan2. Tanda Klasik:Tanda klasik yang sering dijumpai antara lain : telapak tangan merah,pelebaran pembuluh darah, ginekomastia bukan tanda yang spesifik,peningkatan waktu yang protombin adalah tanda yang lebih khas,8

ensefalopi hepatis dengan hepatis fulminan akut dapat terjadi dalam waktusingkat dan pasien akan merasa mengantuk, delirium, kejang, dan komadalam waktu 24 jam, onset enselopati hepatis dengan gagal hati kroniklebih lambat dan lemah (Setiati, Siti. 2014).2.1.6 Komplikasi Sirosis HepatisKomplikasi sirosis hepatis yang utama adalah hipertensi portal, asites,peritonitis bakterail spontan, pendarahan varises esophagus, sindromahepatorenal, ensefalopati hepatikum, dan kanker hati.1. Hipertensi PortalAdalah peningkatan hepatik venous pressure gradient (HVPG) lebih 5mmHg. Hipertensi portal merupakan suatu sindroma klinis yang seringterjadi. Bila gradient tekanan portal (perbedaan tekanan antara vena portaldan vena cava inferior) diatas 10-20 mmHg, komplikasi hipertensi portaldapat terjadi.2. AsitesPenyebab asites yang paling banyak pada sirosis hepatis adalah hipertensiportal, disamping adanya hipoalbuminemia (penurunan fungsi sintesis padahati) dan disfungsi ginjal yang akan mengakibatkan akumulasi cairan dlamperitoniun.3. Varises GastroesofaguVarises gastroesofagus merupakan kolateral portosistemik yang palingpenting. Pecahnya varises esophagus (VE) mengakibatkan perdarahanvarieses yang berakibat fatal. Varises ini terdapat sekitar 50% penderitasirosis hepatis dan berhubungan dengan derajat keparahan sirosis hepatis.4. Peritonisis Bakterial SpontanPeritonisis bakterial spontan (SBP) merupakan komplikasi berat dan seringterjadi pada asites yang ditandai dengan infeksi spontan cairan asites tanpaadanya fokus infeksi intraabdominal.5. Ensefalopati Hepatikum9

Sekitar 28% penderita sirtosis hepatis dapat mengalami komplikasiensefalopi hepatikum (EH). Mekanisme terjadinya ensefalopati hepatikumadalah akibat hiperamonia , terjadi penutunan hepatic uptake sebagai akibatdari intrahepatic portal-systemic shunts dan/atau penurunan sintesis ureadan glutamik.6. Sindrom HepatorenalMerupakan gangguan fungsi ginjal tanpa kelainan organik ginjal, yangditemukan pada sirosis hepatis lanjut. Sindrom ini sering dijumpai padapenderita sirosis hepatis dengan asites refrakter.Sindroma Hepatorenal tipe 1 ditandai dengan gangguan progresif fungsiginjal dan penurunan klirens kreatinin secara berrmakna dalam 1-2 minggu.Tipe 2 ditandai dengan penurunan filtrasi glomerulus dengan peningkatanserum kreatinin. Tipe 2 ini lebih baik prognosisnya daripada tipe 1(Nurdjanah, dikutip oleh Siti, 2014).2.1.7 Penatalaksanaan Sirosis HepatisPenatalaksanaan pasien sirosis biasanya didasarkan pada gejala yang ada.Sebagai contoh :1. Antasida diberikan untuk mengurangi distress lambung dan meminimalkankemungkinan perdarahan gastrointestinal2. Vitamin dan suplemen nutrisi akan meningkatkan proses kesembuhan padasel-sel hati yang rusak dan memperbaiki status gizi pasien3. Pemberian preparat diuretic yang mempertahankan kalium (spironolakton)mungkin diperlukan untuk mengurangi asites jika gejala ini terdapat danmeminimalkan perubahan cairan serta elektrolit yang umumnya terjadipada penggunaan jenis diuretic lainnya.4. Asupan protein dan kalori yang adekuat merupakan bagian yang esensialdalampenangansirosisbersama-samapenggunaan alcohol selanjutnya.10upayauntukmenghindari

Meskipun proses fibrosis pada hati yang sirotik tidak dapat di putar balikperkembangan keadaan ini masih dapat dihentikan atau diperlambat dengantindakan tersebut. Beberapa penelitian pendahuluan menunjukan bahwacholcicine, yang merupakan preparat anti inflamasi untuk mengobati gejalagout, dapat memperpanjang kelangsungan hiduppenderita sirosis ringan hinggasedang. (Price & Wilson, 2009).2.1.8 Pemeriksaan penunjang Sirosis HepatisPemeriksaan penunjang menurut (Price & Wilson, 2012) :1. Radiologisa. Foto polos abdomen.Tujuannya : untuk dapat memperlihatkan densitas klasifikasi pada hati ,kandung empedu, cabang saluran-saluran empedudan pancreas jugadapat memperlihatkan adanya hepatomegalimegali atau asites nyata.b. Ultrasonografi (USG)Metode yang disukai untuk mendeteksi hepatomegalimegali atau kistikdidalam hati.c.CT scanPencitraan beresolusi tinggi pada hati, kandung empedu, pancreas, danlimpa; menunjukan adanya batu, massa padat, kista, abses dan kelainanstruktur: sering dipaki dengan bahan kontrasd. Magnetik Resonance Imaging (MRI) (Pengambilan gambar organ)e. Pemakaian sama dengan CT scan tetapi memiliki kepekaan lebih tinggi,juga dapat mendeteksi aliran darah dan sumbatan pembuluh darah; noninvasive.11

2. Laboratoriuma. Ekskresi hati dan empedu : Mengukur kemampuan hati untukmengonjugasi dan mengekskresi pigmen empedu, antara lain1) Bilirubin serum direk (Terkonjugasi)Meningkat apabila terjadi gangguan ekskresi bilirubin terkonjugasi(Nilai normalnya 0,1-0,3 mg/dl).2) Bilirubin serum indirek (Tidak terkonjugasi)Meningkat pada keadaan hemolitik dan sindrom Gilbert (Nilainormalnya 0,2-0,7 mg/dl).3) Bilirubin serum totalBilirubinserumdirekdantotal meningkatpadapenyakithepatoseluler (Nilai normalnya 0,3-1,0 mg/dl).b. Metabolisme Protein1) Protein serum total : sebagian besar protein serum dan proteinpembekuan disintesis oleh hati sehingga kadarnya menurun padaberbagai gangguan hati. (Nilai normalnya 6-8 gr/dl)Albumin serum (Nilai normalnya : 3,2-5,5 gr/dl)Globulin serum (Nilai normalnya : 2,0-3,5 gr/dl)2) Massa Protrombin (Nilai normalnya : 11-15 detik)Meningkat pada penurunan sintesis protrombin akibat kerusakan selhati atau berkurangnya absorpsi vitamin K pada obstruksi empedu.Vitamin K penting untuk sintesis protrombinProthrombin time (PT) memanjang (akibat kerusakan sintesisprotombin dan faktor pembekuan)c. Biopsi hepar dapat memastikan diagnosis bila pemeriksaan serum danpemeriksaan radiologis tak dapat menyimpulkan12

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan2.2.1 PengkajianPengkajian keperawatan menurut Brunner & Suddart, 2002 yaitu berfokus padaawitan gejala dan factor-faktor pencetus khususnya penyalahgunaan alcoholdalam waktu yang lama. Selain itu yang harus dikaji antara lain :1. Identitas klien2. Riwayat kesehatan :a. Riwayat Kesehatan SekarangBiasanya klien datang dengan mengeluh lemah/letih, otot lemah,anoreksia(susah makan), nausea, kembung, pasien merasa perut terasatidak enak berat badan menurun, mengeluhperut semakin membesar,perdarahan pada gusi, gangguan BAK (inkontinensia urin), gangguanBAB (konstipasi/ diare), juga sesak nafasb. Riwayat Kesehatan Dahulu1) Apakah ada riwayat konsumsi alkohol?2) Apakah ada riwayat penyakit hepatitis kronis sebelumnya?3) Apakah ada riwayat gagal jantung kiri/kanan?4) Riwayat pemakaian obat obatan, merokok, pirampisinc. Riwayat Kesehatan Masa KecilTanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita hepatitis/sirosishepatitis?3. Pemeriksaan fisikKaji adanya lateragi, asites, dispnea, kaji adanya pembesaran pada hepar(hepatomegali), apakah ada edema pada seluruh tubuh, kaji adanya kulitkeringdan ikterik, apakah ada perdarahan pada gusi4. Eritema palmaris, pruritus5. Tremor6. Cavut medusa7. Varises esophagus, hemel13

8. Atropi testis, ginekomastia.2.2.2 Diagnosa Keperawatan Berdasarkan NANDA 20151. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungandengan intake yang tidak adekuat sekunder terhadap anorexia.3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan beratbadan.4. Risiko kerusakan integritsa kulit berhubungan dengan imobilitas sekunderterhadap kelemahan5. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru6. Kelebihan volume cairan7. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan peran tubuh8. Ketidakmampuan koping keluarga9. Risiko ketidakseimbangan elektrolit10. Risiko perdarahan11. Risiko gangguan fungsi2.2.3 Intervensi Keperawatan (Berdasarkan NOC & NIC, 2013 Edisi Kelima)Intervensi keperawatan berikut ini lebih ditujuhkan pada diagnosa keperawatanyang muncul pada pasien antara lain :Diagnosa 1 : Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera fisik. NOC :Pain Level, pain control, comfort level, Kriteria Hasil : 1) Mampu mengontrolnyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untukmengurangi nyeri, mencari bantuan). 2) Melaporkan bahwa nyeri berkurangdengan menggunakan manajemen nyeri. 3) Mampu mengenali nyeri (skala,intensitas, frekuensi dan tanda nyeri). 4) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeriberkurang. 5) Tanda vital dalam rentang normal. NIC : Pain Management : 1)Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi. 2) Observasi reaksi nonverbaldari ketidaknyamanan. 3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk14

mengetahui pengalaman nyeri pasien. 4) Kaji kultur yang mempengaruhirespon nyeri. 5) Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau. 6) Evaluasi bersamapasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masalampau. 7) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukandukungan. 8) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhuruangan, pencahayaan dan kebisingan. 9) Kurangi faktor presipitasi nyeri. Pilihdan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan interpersonal). 10) Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi. 11)Ajarkan tentang teknik non farmakologi. 12) Berikan analgetik untukmengurangi nyeri. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri Tingkatkan istirahat.Analgesic Administration : 1) Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, danderajat nyeri sebelum pemberian obat. 2) Cek instruksi dokter tentang jenisobat, dosis, dan frekuensi. 3) Cek riwayat alergi. 4) Pilih analgesik yangdiperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu. 5)Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri. 6) Tentukananalgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal. 7) Pilih rute pemberiansecara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur. 8) Monitor vital signsebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali. 9) Berikan analgesiktepat waktu terutama saat nyeri hebal. 10) Evaluasi efektivitas analgesik, tandadan gejala (efek samping)Diagnosa 2 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuhberhubungan dengan intake yang tidak adekuat sekunder terhadap anorexia.NOC : Nutritional Status : Food and Fluid Intake (Status Nutrisi : IntakeMakanan dan Cairan. Outcome/Kriteria Hasil : 1) Adanya peningkatan beratbadan sesuai dengan tujuan. 2) Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan. 3)Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi. 4) Tidak ada tanda tandamalnutrisi. 5) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti. NIC : NutrientTerapy (Terapi Nutrisi) : 1) Kaji status nutrisi klien. 2) Jaga kebersihanmulut, ajarkan oral higiene pada klien/k

2.1.3 Patofisiologi Sirosis Hepatis Sirosis adalah tahap akhir pada banyak tipe cidera hati. Sirosis hati biasanya memiliki konsistensi noduler, dengan berkas fibrosis (jaringan parut) dan daerah kecil jaringan regenerasi. Terdapat kerusakan luas hepatosit.